Ahli onkologi medis dari Parkway Cancer Centre menjawab pertanyaan paling mendesak bagi pasien yang menjalani perawatan kanker selama wabah COVID-19 (Pen-yakit Virus Korona 2019).

Apa itu virus korona dan bagaimana pengaruhnya terhadap saya sebagai pasien kanker?

Dr Richard Quek: virus korona (CoV) adalah keluarga besar virus yang menyebabkan se-rangkaian penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Sin-drom Pernafasan Timur Tengah (MERS-CoV) dan Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS-CoV). Virus novel korona saat ini (COVID-19) adalah jenis baru yang belum teridentifi-kasi sebelumnya pada manusia.

Virus korona dapat menyerang siapa saja termasuk orang sehat. Tetapi diperkirakan bahwa pasien dengan penyakit medis kronis yang mengakibatkan sistem kekebalan yang lemah mungkin berisiko lebih tinggi terkena infeksi serta mengembangkan kom-plikasi yang lebih parah akibat virus ini. Kanker adalah salah satu penyakit yang mengakibatkan kekebalan imun melemah.

Selain itu, pasien kanker mungkin menerima kemoterapi selama pengobatan, yang se-lanjutnya dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh seseorang. Jadi, secara kese-luruhan, akan ada dampak wabah COVID-19 pada pasien kanker.

Haruskah saya tetap pergi ke rumah sakit / klinik untuk perawatan kanker saya selama wabah COVID-19? Mengapa?

Dr Quek: Ada tiga kelompok pasien yang harus dipertimbangkan ketika menjawab per-tanyaan ini.

Pasien kanker yang saat ini menerima perawatan untuk kanker: Untuk kelompok pasien ini, mereka harus melanjutkan perawatan tepat waktu seperti yang disarankan. Ambil tindakan pencegahan yang diperlukan seperti yang tercantum yaitu periksa kebersihan pribadi, mencuci tangan, memakai masker, dll.

Meskipun ini adalah risiko yang sangat kecil terkait dengan penyebaran COVID-19 secara komunitas dan kecenderungan alami adalah untuk menghindari pergi ke rumah sakit dan klinik, risiko ini dianggap sangat kecil jika dibandingkan dengan masalah yang lebih besar dibanding kanker yang semakin memburuk atau kambuh, jika pengobatan ditunda secara tidak perlu.

Pasien yang belum terdiagnosis mengidap kanker tetapi memiliki gejala mencurigakan yang menunjukkan adanya kanker: Pasien-pasien ini harus memeriksakan gejala mere-ka lebih awal. Gejala-gejala ini mungkin termasuk adanya darah dalam tinja, benjolan baru pada payudara, pembengkakan kelenjar getah bening yang tidak biasa, dll.

Seperti halnya semua kanker, kuncinya adalah menemukan kanker lebih awal untuk perawatan yang lebih efektif. Menunda kunjungan klinis atau pemeriksaan dapat mengakibatkan keterlambatan diagnosis yang tidak semestinya terjadi sehingga dapat berdampak pada hasil diagnosis pasien, jika gejala ini benar-benar berubah menjadi kanker. Sekali lagi, ambil tindakan pencegahan yang diperlukan, tetapi hidup terus berjalan.

Pasien yang menderita kanker, telah dirawat, dan sekarang dalam masa remisi: Ke-lompok pasien ini memiliki beberapa fleksibilitas dalam hal penjadwalan kunjungan klinis atau pemeriksaan. Bagi mereka, menunda atau mengubah jadwal rutin pemerik-saan ke tanggal lain merupakan alasan yang masih masuk akal.

Haruskah saya memakai masker untuk melindungi diri dari COVID-19 meskipun saya tidak demam?

Dr Quek: Ini disarankan. Dalam kasus pasien kanker, terutama mereka yang menjalani perawatan kemoterapi yang sistem kekebalannya mungkin rendah, risiko terkena in-feksi lebih tinggi daripada orang yang sehat. Saran saya untuk pasien kanker kami ada-lah memakai masker saat pergi keluar atau mengunjungi tempat-tempat ramai untuk mengurangi risiko terkena infeksi saluran pernapasan.

Apa saja tindakan pencegahan umum yang dapat diambil pasien kanker dengan sis-tem kekebalan yang lemah saat bepergian ke rumah sakit / klinik untuk perawatan?

Dr Colin Phipps Diong: Secara umum, pasien kanker yang telah menjalani kemoterapi intensif atau transplantasi sumsum tulang harus menghindari tempat yang ramai. Ini tidak mengesampingkan penggunaan transportasi umum jika pasien berhasil menghindari perjalanan di jam-jam ramai. Jika pasien menggunakan MRT, bus, atau taksi, pasien tersebut harus mempraktikkan kebersihan tangan yang baik dan jika dis-arankan oleh dokter, untuk mengenakan masker.

Saat berjalan melewati kerumunan dalam perjalanan ke rumah sakit / klinik, apa yang dapat saya lakukan untuk melindungi diri dari COVID-19?

Dr Phipps: Saran saya didasarkan pada apa yang akan saya lakukan sendiri di rumah sa-kit. Saya mempraktikkan kebersihan tangan secara teratur yaitu mencuci telapak tan-gan, pergelangan tangan dan jari secara menyeluruh, memakai masker, dan menghindari orang yang batuk-batuk secara terbuka.

Apa yang saat ini dilakukan di klinik dalam hal tindakan pencegahan? Apa langkah-langkah kontrol dan bagaimana hal ini akan membantu?

Dr Phipps: Ada pedoman dari Kementerian Kesehatan untuk penyedia layanan kesehatan sesuai dengan tingkat peringatan DORSCON dalam situasi wabah COVID-19 di Singapura. Semua rumah sakit dan klinik akan mengikuti pedoman ini untuk mencegah dan mengurangi dampak infeksi. Ini termasuk (tetapi tidak terbatas pada) pemasangan pemindai termal di pintu masuk fasilitas, mengisi formulir Deklarasi Kesehatan, pen-yaringan riwayat perjalanan, dan pengawasan semua staf rumah sakit dan klinik.

Apakah ada perbedaan dalam cara perawatan kanker dilakukan selama periode ini?

Dr Chin Tan Min: Perawatan pasien dengan kemoterapi yang sedang berlangsung, obat-obatan oral dan imunoterapi harus dilanjutkan sesuai rencana. Ini akan membantu memastikan gangguan minimal terhadap pengobatan kanker yang sudah direncanakan.

Bersamaan dengan itu, langkah-langkah sedang dilakukan di setiap rumah sakit untuk memastikan skrining yang memadai pada semua pasien dan pengunjung, untuk memungkinkan deteksi segala kemungkinan infeksi, sehingga dapat meminimalkan kemungkinan penyebaran COVID-19. Demikian pula, untuk membantu mengatasi kemungkinan infeksi, dokter dan perawat didorong untuk meminimalkan mobilitas di antara berbagai rumah sakit.

Apakah ada gejala yang harus saya waspadai? Misalnya, jika saya menderita demam selama perawatan kanker, apakah saya berisiko lebih tinggi tertular COVID-19?

Dr Chin: Kemoterapi dapat mengganggu imunitas dan akibatnya, pasien yang menjalani kemoterapi mungkin lebih rentan terserang demam. Jika demam terjadi pada mereka yang menjalani kemoterapi baru-baru ini, mereka harus mengikuti saran yang biasanya diberikan yaitu untuk kembali ke klinik/rumah sakit untuk pemeriksaan darah untuk memutuskan apakah mereka memerlukan antibiotik. Antibiotik akan membantu dalam mengatasi demam yang timbul dari jumlah sel darah putih yang rendah karena efek kemoterapi. Analisa dari dokter dan evaluasi dengan tes lain seperti rontgen dada dan usap hidung / tenggorokan juga dapat membantu meyakinkan bahwa demam ini ber-beda dari penyakit COVID-19.

Dari berbagai jenis kanker, apa risiko terbesar atau satu hal yang harus diwaspadai oleh pasien?

Dr Phipps: Risikonya adalah keadaan kekebalan imun yang terganggu setelah kemot-erapi intensif dapat membuat pasien lebih rentan terhadap infeksi virus yang parah. Ini tidak spesifik untuk COVID-19 tetapi kita perlu mengetahui definisi kasus saat ini. Dalam mengawasi pasien yang menerima kemoterapi intensif untuk kanker darah dan transplantasi sumsum tulang di rumah sakit, kami akan melanjutkan praktik rutin kebersihan tangan yang biasa kami lakukan, merawat pasien di kamar tunggal, mema-kai masker, dan mengenakan pakaian tertentu ketika adanya dugaan infeksi.

Dr Chin: Pasien kanker paru-paru mungkin sudah memiliki gejala (seperti batuk), dari kanker yang mendasarinya. Saya menyarankan agar gejala batuk dan demam yang baru dan/atau semakin buruk untuk dievaluasi lebih lanjut.

Dr Quek: Dengan sebagian besar jenis pengobatan kanker, selalu ada risiko melemahnya sistem kekebalan tubuh seseorang. Ini tentunya mempengaruhi seorang pasien kanker untuk infeksi. Jika seorang pasien kanker, terutama yang sedang men-jalani pengobatan aktif, mengalami demam, sangat penting bagi pasien untuk menghubungi dokternya untuk mendapatkan saran lebih awal.



Tags: bepergian dengan kanker / melakukan perjalanan dengan kanker, kemoterapi, kualitas hidup pasien kanker, mengurangi risiko (terkena) kanker, strategi perawatan diri, sumsum tulang belakang, tips bagi pasien kanker