Enam tahun terakhir ini telah menjadi hari-hari yang gelap bagi Mr Lo Arie Sulaiman.

Pengusaha asal Indonesia ini menyadari bahwa dirinya mengidap kanker hati pada tahun 2009 dan harus menjalani operasi untuk mengangkat tumornya.

Tapi, kurang dari delapan bulan setelah operasi, Mr Lo Arie kembali mendapat berita buruk -kankernya kembali.

Pada bulan Juli 2010, ia menjalani prosedur yang dikenal sebagai transkateter arteri chemoembolization (TACE). Dokter yang menangani Mr Lo Arie, Konsultan Senior untuk Onkologi Medis di Parkway Cancer Centre, Dr Foo Kian Fong, mengatakan bahwa TACE adalah prosedur minimal invasif. Jadi prosedur ini adalah pemberian kemoterapi langsung ke tumor hati melalui kateter. Prosedur ini juga membatasi pasokan darah ke tumor, sehingga memperlambat pertumbuhan tumor.

Setelah pengobatan, Mr Lo Arie merasa dirinya mempunyai harapan tinggi dan berpikir bahwa ia telah mengalahkan penyakit yang menakutkan ini.

Tapi 11 bulan kemudian, pada Agustus 2011, kanker itu kembali untuk ketiga kalinya – kali ini di bagian yang berbeda dari tubuhnya.

Ketika ia sedang mandi, Mr Lo Arie merasa ada benjolan keras di sisi kanan tenggorokannya. “Jantung saya serasa langsung berhenti,” katanya. “Benjolan itu hanya ada pada satu sisi leher saya jadi saya punya fi rasat buruk bahwa itu adalah kanker juga.”

Instingnya terbukti benar karena pemeriksaan PET dan biopsi menemukan bahwa sel-sel kanker di hatinya telah menyebar ke lehernya.

Ia menjalani kemoterapi dan kali ini dia juga harus menjalani operasi untuk mengangkat tumor di lehernya. Setelah operasi, ia juga harus menjalani tiga kali perawatan kemoterapi dan radioterapi.

Sekarang, empat tahun setelah menjalani kabar buruk selama tiga kali, Mr Lo Arie berada dalam kondisi sehat dan kankernya tidak kembali.

Pria berusia 68 tahun ini ingat bagaimana di tahun 2009, ia sebenarnya telah merasakan sakit di punggung bawah selama beberapa bulan tetapi dokter di Indonesia tidak bisa mengidentifi kasi masalah tersebut.

Hanya ketika ia sedang berlibur di Singapura bersama istrinya Ia menemukan bahwa penyebab rasa sakitnya selama ini adalah sel kanker yang berada di hatinya.

“Istri saya menyarankan berobat ke dokter di Singapura, jadi kami segera membuat janji bertemu dan periksa di Parkway Cancer Centre,” kata Mr. Lo Arie dalam bahasa Mandarin.

Dia menambahkan bahwa: “Saya sudah menduga bahwa rasa sakit ini merupakan kanker karena saya tidak merasa seperti ini sakit sebelumnya. Saya secara mental sudah siap akan hal tersebut.”

Ketika ia mengetahui hasil dari diagnosis dokter, Mr Lo Arie mengatakan bahwa dia “tidak takut sama sekali.” “Pada saat itu, dua anak saya sudah dewasa, jadi saya tahu keluarga saya bisa mengurus diri mereka sendiri bahkan jika saya meninggalkan mereka,” katanya.

Bahkan, saat itu yang lebih khawatir adalah istrinya dari pada dirinya, Mr Lo Arie teringat sambil tertawa.

“Saya malah harus menjadi orang yang menghiburnya, bukan sebaliknya,” candanya. “Istri saya takut dan khawatir, tapi saya bilang bahwa setelah saya dioperasi, saya akan OK lagi.”

Meski pun begitu, Mr Lo Arie, mengakui bahwa ia sedikit merasa kehilangan harapan karena kankernya sempat kambuh dua kali setelah operasi pertama.

“Untuk beberapa waktu, saya bertanya-tanya apakah saya akan pernah benar-benar sembuh dari kanker,” katanya. “Tapi kejadian tersebut sudah empat tahun yang lalu dan sekarang kanker tersebut tidak kembali lagi. Jadi saya sangat senang dan saya menganggap setiap hari sebagai berkah.”

Dia menambahkan bahwa dia akan lebih memperhatikan kesehatan tubuhnya sekarang, memeriksa apakah ada benjolan dan segera memeriksakan diri jika ia merasa sakit.

Namun sejauh ini, ia tidak punya alasan untuk khawatir.

Dia datang ke Singapura setahun sekali untuk check-up dan dinyatakan sehat dalam empat tahun terakhir.

Mr Lo Arie mengaku senang telah melakukan pengobatan di Singapura di bawah pengawasan Dr Foo. “Dia sangat peduli dan memberikan waktunya untuk menjelaskan semuanya kepada saya sehingga saya yakin bahwa saya berada di tangan yang tepat selama operasi dan perawatan,” katanya.

Mr Lo Arie mengatakan bahwa ia berpikir bahwa ia telah bekerja terlalu keras pada masa mudanya sebagai buruh, mengambil jam kerja ekstra hanya untuk mendapatkan sedikit tambahan uang untuk keluarganya. “Beberapa kali, saya bekerja hampir selama 24 jam non-stop!”

Namun, sekarang Mr Lo Arie bekerja di belakang layar dan membiarkan anak dan istrinya untuk menjalankan bisnis keluarga. “Jika mereka membutuhkan bantuan atau saran saya untuk hal apa pun, maka mereka akan bertanya pada saya. Jika tidak butuh, saya akan tinggal di rumah dan bersantai.”

Dia juga jalan-jalan pagi dengan istrinya setiap hari, dan mengikuti menari sosial untuk tetap sehat. Dia juga lebih mengawasi pola makannya, menghindari makanan yang digoreng.

“Saya merasa sangat sehat sekarang,” katanya.

“Saya merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.

Saya merasa siap untuk bekerja kembali tetapi anak-anak dan istri saya tidak mengizinkan saya.”

Oleh Ben Tan



Tags: