Terapi turbocharge

Suatu bentuk terapi baru yang memperkuat sistem imun tubuh guna mengobati kanker darah terlihat menjanjikan.

Suatu pengobatan baru yang menggunakan sel yang dimodifikasi secara genetik untuk melakukan turbocharge pada sistem imun tubuh guna memerangi kanker merupakan bidang yang menggembirakan yang terlihat sangat menjanjikan. Namun, masih ada pekerjaan yang harus dilakukan pada terapi sel T reseptor antigen kimerik/chimeric antigen receptor (CAR): Untuk menggunakannya pada tumor padat, untuk memahami efek sampingnya, dan untuk menurunkan biaya produksinya.

Ini adalah pesan yang disampaikan oleh Dr Lucas Chan, Kepala Bidang Ilmiah di Stem Med, kepada para dokter dalam sebuah seminar Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan yang diselenggarkan oleh Parkway Cancer Centre.

Terapi ini menggunakan sel-sel T yang telah dimodifikasi di laboratorium untuk mengenali sel-sel kanker. Sel-sel T adalah suatu jenis sel darah putih yang mengenali dan menyerang virus dan bakteri yang mereka jumpai di dalam tubuh. Dalam hal sel T CAR, protein spesifik yang dapat mengenali dan mengikat sel-sel kanker dilekatkan pada sel-sel T, yang kemudian diberikan kepada pasien. Sel-sel T yang telah dimodifikasi ini kemudian dapat mengidentifikasi dan membunuh target sasaran mereka.

Dalam ceramahnya, Dr Chan mengatkan bahwa kini ada suatu pemikiran bahwa sesungguhnya orang menderita kanker sepanjang hidup mereka, namun di sebagian besar waktu, sistem imun tubuh dapat memeranginya. Namun, seiring bertambahnya usia, tubuh manusia terpapar dengan beraneka racun dan bahan kimia dari waktu ke waktu dan hal ini menguras sistem imun. Karena sistem imun menjadi sangat lemah, tubuh tidak lagi sanggup memerangi sel-sel kanker.

Sel-sel T CAR tidak hanya sanggup membantu sistem imun untuk mengenali sel-sel kanker, namun juga untuk mengaktifkan kembali sel-sel T yang tidur atau lemah menjadi pembunuh sel-sel kanker yang mujarab.

Menurut Dr Chan, kini terdapat data yang sangat positif mengenai penggunaan sel-sel T CAR pada tumor darah, seperti misalnya leukemia limfoblastik akut (LLA) sel B, limfoma sel B derajat tinggi, dan mieloma multipel.

“Kini ada bukti klinis yang sangat baik untuk menunjukkan bahwa bidang ini bergerak maju,” ujarnya. “Kami melihat hal-hal yang tidak dapat kami bayangkan 10 atau 20 tahun yang lalu. Ini adalah saat yang sangat menggembirakan.”

Meski demikian, terapi sel T CAR bukan merupakan peluru perak untuk melawan kanker. Saat ini, hasilnya lebih baik pada tumor cair daripada tumor padat, ujarnya.

Bahkan pada tumor darah, terapi sel T CAR bukan merupakan solusi yang mudah karena ia memiliki efek samping. “Masih banyak yang belum kami ketahui,” ujarnya.

Masalah lainnya dengan terapi sel T CAR adalah tidak mudah untuk diproduksi. Kymriah, obat sel T CAR pertama yan disetujui oleh United States Food and Drug Administration, membutuhkan waktu 15 hingga 22 hari untuk membuatnya. “Prosedur produksinya teramat sangat rumit. Tidak mudah untuk melakukannya,” ujarnya.

Setelah mendapatkan darah dari seorang pasien atau donor, sel-sel T harus diisolasi, dimurnikan, dan diaktifkan. Kemudian ini semua harus dibiakkan guna memperbanyak jumlahnya sebelum diberikan melalui infus kepada pasien dengan menggunakan virus yang telah direkayasa secara genetik.

“Kami membajak virus tersebut, pada dasarnya membuang gen patogeniknya. Virus yang telah direkayasa ini tidak menyebabkan penyakit, ia hanya menjadi alat pengangkut.”

Di sepanjang proses ini, perlu dilakukan kendali mutu yang kuat, dan semuanya diuji sebelum sel-sel T CAR tersebut dapat diberikan melalui infus ke dalam tubuh pasien. “Rekayasa sel T dapat terdengar menakutkan namun pada kenyataannya, bila Anda memahami uji-uji yang dilakukan untuk memeriksa bagaimana terapi ini bekerja, maka sesungguhnya ini teramat sangat aman,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa rancangan khusus ini telah digunakan di seluruh dunia dalam ratusan penelitian yang melibatkan hampir seribu pasien dan belum pernah ada masalah yang berkaitan dengan penggunaan virus sebagai kendaraan pengantar terapi ini.

Sebuah konsekuensi dari proses produksi yang rumit adalah biaya terapinya menjadi lebih mahal.

Meski demikian, Dr Chan optimis seiring berjalannya waktu, akan muncul teknologi baru yang dapat menyederhanakan proses produksi sehingga biayanya akan turun dan akan terjangkau bagi lebih banyak orang.



Tags: cara baru untuk mengobati kanker, kanker darah, obat kanker, terobosan terbaru dalam pengobatan kanker