Meringankan gejala

Dr Edward Yang dari Parkway Cancer Centre membahas mengenai bagaimana terapi radiasi paliatif dapat membantu para pasien mengatasi gejala kanker dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi mereka.

Meskipun kemajuan yang pesat dalam ilmu kedokteran telah meningkatkan angka kesembuhan pada pasien kanker, masih banyak kasus dimana kanker tetap tidak dapat disembuhkan. Kanker memang masih merupakan penyebab kematian yang utama di seluruh dunia.

Ketika suatu kanker berpotensi untuk disembuhkan – yaitu dapat dimusnahkan secara permanen – dokter akan menawarkan terapi untuk menyembuhkannya. Namun, akan ada banyak kasus dimana penyakit tersebut secara teknis tidak dapat disembuhkan – yaitu kemungkinan untuk sembuh secara permanen sangat kecil meskipun segala upaya telah dilakukan. Dalam kasus seperti itu, dokter akan mencoba untuk mengobati mereka hingga mereka dapat mencapai kondisi bebas penyakit yang dapat diperpanjang (meskipun ini jarang sekali bersifat permanen) guna memperpanjang hidup pasien dan menjaga kualitas hidupnya.

Pada beberapa kasus dimana beban penyakit terlalu mahal, dokter akan mencoba untuk mengobati pasien agar mereka dapat terbebas dari gejala – yaitu dengan meredakan efek nyeri dari tumor, baik nyeri tulang, luka, penyumbatan, atau efek dari massa. Hal ini sering kali dapat dilakukan dengan menggunakan terapi radiasi yang dilokalisasi. Ini merupakan bagian dari perawatan paliatif, yang diberikan untuk mengobati nyeri dan gejala kanker lainnya guna memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien yang berada pada tahap akhir kehidupan.

Selain terapi radiasi, perawatan kanker paliatif juga meliputi operasi, kemoterapi, terapi hormon – pengobatan yang sama yang digunakan untuk menyembuhkan kanker, namun dengan maksud paliatif untuk membantu pasien mengatasi gejala kanker stadium lanjut dan yang telah menyebar. Hal ini bahkan menjadi semakin penting karena saat ini prognosis pasien yang menderita kanker stadium lanjut telah membaik. Banyak yang hidup lebih lama bahkan setelah mereka didiagnosis menderita kanker stadium akhir. Dengan demikian, perawatan paliatif memainkan peran yang dibutuhkan dalam memperpanjang serta memperbaiki kualitas hidup mereka dan perawatan akhir kehidupan dengan mengurangi atau bahkan mencegah gejala kanker.

Penggunaan radioterapi

Terapi radiasi, atau radioterapi, merupakan salah satu bentuk utama pengobatan paliatif yang digunakan. Sinar X berenergi tinggi diarahkan ke tumor dengan DNA sel-sel kanker sebagai targetnya, memperlambat pertumbuhan mereka atau mengurangi efek kanker.

Radioterapi dapat diberikan pada lesi metastatik pada kulit dan jaringan subkutan, panggul, paru, otak, dan tulang, dan dapat digunakan dalam kombinasi dengan pengobatan lain, seperti misalnya kemoterapi dan operasi. Efek kombinasi mereka adalah meredakan nyeri, rasa tidak nyaman, pendarahan, penyumbatan yang disebabkan oleh tumor, dan tekanan terhadap saraf tulang belakang serta saraf lainnya.

Meskipun serupa dengan penggunaan pengobatan radiasi untuk penyembuhan, terapi radiasi paliatif secara khusus melibatkan area pengobatan yang terpusat karena tujuannya adalah untuk mengatasi tumor dan menyebabkan efek kolateral yang sesedikit mungkin. Selain itu, dengan teknologi pemandu citra yang lebih baru serta teknik stereotaktik, pengobatan radiasi juga dapat dipercepat dengan menggunakan dosis harian yang tinggi dalam area yang sangat terbatas sehingga pengobatan sering kali dapat diselesaikan dalam waktu satu atau dua minggu.

Efek samping

Radioterapi untuk penyembuhan sering kali dihubungkan dengan efek samping yang membutuhkan batas keamanan yang lebih besar, dan dapat meliputi area pusat yang di dekatnya dimana penyakit dapat menyebar ke area tersebut. Oleh sebab itu, volume targetnya lebih besar, sehingga membutuhkan perlambatan proses fraksinasi. Radioterapi untuk penyembuhan biasanya diberikan dalam beberapa dosis kecil selama jangka waktu lima hingga tujuh minggu untuk mencapai dosis penyembuhan, sedangkan radioterapi paliatif diberikan dalam jangka waktu yang lebih singkat.

Radioterapi paliatif secara umum hanya menyebabkan terjadinya efek samping ringan karena dosis radiasinya lebih rendah dan targetnya lebih kecil. Tujuannya adalah untuk memberikan efek kolateral yang sesedikit mungkin dengan radioterapi paliatif. Namun, ada kalanya di mana terapi radiasi paliatif bisa jadi tidak bermanfaat, seperti misalnya ketika pasien memiliki pencapaian yang sangat terbatas atau menghadapi kematian yang akan segera datang, atau ketika jaringan tidak dapat menoleransi radiasi, atau ketika pengobatan tidak akan memberikan perbedaan yang signifikan dalam kualitas hidup pasien. Oleh sebab itu, sangat penting bagi pasien untuk menerima penjelasan yang jelas mengenai tujuan pengobatan dan efek samping yang mungkin terjadi.

Bilamanakah radioterapi paliatif sesuai untuk dilakukan?

Secara umum, radioterapi paliatif dapat digunakan untuk meredakan gejala-gejala:

Nyeri tulang: Kanker paru, payudara, kolorektal, dan prostat dapat menyebar ke tulang dan viscera (organ-organ dalam pada tubuh), sehingga menyebabkan nyeri kanker yang teramat sangat. Radioterapi paliatif dapat mengatas metastasis tulang yang menyakitkan, bahkan pada pasien dengan prognosis yang terbatas. Hasilnya dapat terlihat dalam waktu beberapa hari hingga beberapa minggu, dan dapat bertahan hingga beberapa bulan.

Pendarahan dan penyumbatan: Kanker esofagus, lambung, sistem empedu dan rektum, dan bahkan tumor payudara yang menjadi borok dapat menyebabkan terjadinya gejala, seperti misalnya nyeri dan menyebabkan pendarahan yang dapat menyulitkan dan bahkan mengancam jiwa dengan hilangnya darah dalam jumlah yang sangat banyak. Radioterapi dapat menghentikan pendarahan dengan cepat. Sedangkan pasien yang menderita kanker pada kepala dan leher, dan paru serta usus, dapat mengalami penyumbatan yang menyebabkan terjadinya rasa tidak nyaman dan bahkan kematian. Terkadang radioterapi yang terlokalisasi dapat membantu mengurangi efek massa dan meringankan penyumbatan. Banyak gejala ini yang dapat diatasi dengan radioterapi paliatif, yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dengan memperbaiki kemampuan mereka untuk berfungsi secara normal.

Lesi paru dan hati sekunder: Radioterapi tubuh stereotaktik dengan dipandu citra kini juga dapat menargetkan lesi pada paru dan hati, dan radioterapi telah digunakan untuk membantu mengendalikan perkembangan dan kerusakan organ yang besar.

Tekanan pada saraf tulang belakang: Tekanan pada saraf tulang belakang, yaitu saraf besar yang terbentang dari dasar otak hingga ke punggung bagian bawah, dapat menyebabkan kelemahan pada anggota tubuh pasien kanker, nyeri yang berat, dan hilangnya kendali terhadap fungsi saluran kemih dan usus, atau bahkan kelumpuhan. Pada kasus seperti itu, radioterapi paliatif dapat mempertahankan atau bahkan memperbaiki fungsi saraf. Namun, sangat penting bagi para pasien ini untuk segera ditangani. Sering kali setelah 48 jam kemungkinan untuk mengembalikan hilangnya fungsi saraf dapat menjadi lebih sulit. 

Lesi otak metastatik:  Lesi otak sekunder dapat menyebabkan meningkatnya tekanan di dalam parenkim otak seiring dengan menyebar dan bertumbuhnya sel-sel kanker di dalam otak. Pasien dapat mengalami sakit kepala, mual, dan mengantuk serta kerusakan saraf tergantung kepada lokasi dan ukuran lesi sekunder. Dengan teknologi yang lebih baik seperti bedah radio stereotaktik, kini jumlah jaringan otak yang diobati dapat dibatasi, difokuskan hanya pada tumor yang dapat ditargetkan secara individual dan diobati, sehingga tidak mengenai jaringan otak yang normal. Hal ini akan mempersingkat waktu pengobatan serta memperbaiki hasil dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien. Bahkan kerontokan rambut pun sering kali minimal dengan teknik-teknik baru ini. Kemajuan teknologi dalam pengantaran radioterapi telah secara signifikan meningkatkan kelangsungan hidup dan kualitas hidup.

Perawatan paliatif

Apakah itu: Pengobatan untuk membantu pasien mengatasi nyeri dan gejala lainnya dari kanker stadium lanjut dan yang telah menyebar, guna memberikan kualitas hidup yang lebih baik pada tahap akhir kehidupan.

Kapan diberikan: Ketika kemungkinannya kecil untuk penyembuhan secara permanen.

Apa yang terlibat: Terapi radiasi, operasi, kemoterapi, atau terapi hormon, atau kombinasi dari semua pengobatan ini.

Terapi radiasi

Apakah itu: Sinar X berenergi tinggi diarahkan pada tumor guna memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker atau mengurangi efek dari kanker.

Bagaimana terapi ini dapat membantu: Dapat meredakan nyeri, rasa tidak nyaman, pendarahan, penyumbatan oleh tumor, dan tekanan pada saraf tulang belakang serta saraf lainnya.

Bagaimana pemberiannya: Terapi radiasi paliatif biasanya melibatkan sebuah area pengobatan yang terfokus dan diberikan selama jangka waktu yang lebih singkat daripada radioterapi untuk pengobatan. Oleh sebab itu, efek sampingnya pun ringan.

Kok Bee Eng



Tags: efek samping yang umum dari pengobatan kanker, kanker metastatik, kualitas hidup pasien kanker, radioterapi (terapi radiasi)