Sahabat sejati

Seorang pasien kanker mengabaikan tumor yang tumbuh di dalam tubuhnya. Namun sahabatnya, seorang penyintas kanker, bersikeras agar ia berobat ke dokter, memastikan bahwa ia memperoleh pengobatan yang dibutuhkan. Semua dilakukan karena sahabatnya siap membantunya melawan kanker, agar dapat mengucapakan, “I Am And I Will”.

Semua berawal dari serangkaian pesan suara yang ditinggalkan pada telepon saya oleh seorang pasien lama.

“Saya baru saja bertemu dengan sahabat saya dan kondisinya sangat tidak baik. Ia menderita tumor payudara yang besar dan berdarah. Saya akan membeli tiket pesawat dan membawanya ke Singapura. Tolong lakukan yang terbaik untuk membantunya!”

Dua hari kemudian, pasien saya datang dengan sahabatnya – Ibu Sunarti, orang Indonesia yang berusia 43 tahun, yang ditemani oleh ibu dan saudara perempuannya. Ibu Sunarti adalah seorang janda yang memiliki anak laki-laki yang berusia 24 tahun. Suaminya meninggal delapan tahun yang lalu akibat kanker usus.

Ketika masuk ke ruangan saya, Ibu Sunarti terlihat tidak nyaman dan gelisah. Saya tahu bahwa ia sebenarnya tidak ingin datang namun dipaksa oleh keluarganya. 

Bau daging busuk yang terinfeksi memenuhi ruangan dalam hitungan detik sejak ia tiba, namun itu adalah bau yang akrab dengan saya. Saya diam-diam membuka laci saya untuk mengambil botol Tiger Balm, dan mengoleskannya banyak-banyak di bawah lubang hidung saya, dan memberinya senyum yang meyakinkan.

Awalnya, Ibu Sunarti mengatakan bahwa masalah baru timbul lima bulan yang lalu. Namun belakangan, ia mengakui bahwa lima bulan yang lalu adalah saat dimana tumornya pecah menembus kulit dan menjadi borok. Sebelum itu – ia kurang yakin kapan – ia telah menyadari ada benjolan kecil berukuran 1cm pada payudaranya yang kanan. Ia mengabaikannya hingga benjolan tersebut menjadi cukup besar dan menonjol pada kulitnya seperti sebuah jerawat.

Ia tahu bahwa ada yang tidak beres dan takut bahwa itu adalah kanker. Bukannya mencari bantuan medis, ia memilih melakukan pengobatan di rumah, termasuk memakai jaket elektromagnetik yang konon dapat menyelaraskan kembali meridian tubuh untuk meningkatkan penyembuhan diri.

Ketika tiba saatnya untuk memeriksanya, saya menggunakan masker ganda untuk mencoba menutupi bau, namun tidak berhasil. Ketika saya membuka lapisan kapas dan plester pada payudara kanan, darah langsung keluar dari tumor yang telah menjadi borok. Setengah bagian dalam dari payudara kanannya telah digantikan dengan pertumbuhan yang tampak seperti kembang kol.

Ibu Sunarti tampak pucat dan pemeriksaan darah yang dilakukan selanjutnya mengkonfirmasikan bahwa hemoglobinnya 6g/dl ( normalnya seharusnya lebih dari 11,5g/dl).

Salah satu tugas yang menantang dalam menghadapi pasien yang menderita kanker payudara stadium lanjut yang tidak diobati adalah untuk memperoleh kepercayaan dan keyakinan dari pasien. Untuk itu, kita harus mulai dengan memahami mengapa pasien tidak mencari atau menerima pengobatan medis.

Penyebabnya ada banyak. Beberapa orang merasa takut benjolan pada payudaranya adalah kanker dan mencoba untuk meyakinkan diri mereka bahwa itu hanyalah jerawat atau saluran susu yang tersumbat.

Beberapa orang tidak mencari perawatan medis karena mereka pikir kanker tidak dapat diobati atau disembuhkan, jadi tidak ada gunanya berobat ke dokter. Yang lainnya takut akan efek samping pengobatan – baik berupa kehilangan payudara akibat operasi atau rambut rontok karena kemoterapi.

Pendekatan yang secara rutin saya lakukan adalah melakukan presentasi slide dengan menggunakan foto-foto dan hasil-hasil pemindaian para pasien yang memiliki tampilan klinis yang serupa.

Dengan melihat pasien-pasien lain yang memiliki tampilan tumor payudara yang serupa atau lebih parah bila dibandingkan dengan dirinya, membuat pasien menjadi sadar bahwa ia tidak sendirian dan ada orang-orang lain yang seperti dirinya.

Kedua, saat saya menunjukkan gambar-gambar kanker payudara sebelum dan sesudah pengobatan, pasien menjadi tersadarkan bahwa ada berbagai pilihan pengobatan dan ada kemungkinan juga bagi dirinya untuk membaik dengan pengobatan.

Namun, untuk sebagian besar pasien, yang paling penting adalah dukungan dan dorongan dari keluarga dan para sahabat. Dalam kasus Ibu Sunarti, pasien lama saya yang datang bersamanya membuat semuanya jadi berbeda. Ia sendiri juga menderita kanker payudara beberapa tahun yang lalu.

Setelah menjalani operasi dan kemoterapi, ia terus menjalani hidup yang sarat makna yang dipenuhi dengan liburan keluarga, berkumpul dengan teman-teman, dan banyak kegiatan sosial, masyarakat, serta amal.

Setelah banyak membujuk, akhirnya Ibu Sunarti setuju untuk menjalani pemeriksaan darah, biopsi, dan pemindaian PET-CT. Pemindaian PET-CT memperlihatkan tumor payudara yang sangat besar yang telah menembus ke dalam dinding dada. Selain itu, tumor juga telah menyebar ke paru-paru, hati, kelenjar getah bening, dan tulang.

Ada banyak pilihan pengobatan bagi pasien yang menderita kanker payudara yang telah menyebar. Meskipun kanker tidak dapat disembuhkan karena telah menyebar, kemungkinannya tinggi untuk membunuh sel-sel kanker yang menyebabkan penyusutan ukuran tumor – atau bahkan benar-benar hilang.

Pada pasien yang menderita kanker payudara yang positif memiliki reseptor hormon, ada banyak zat hormon yang dapat digunakan dengan efektif – tamoxifen, anastrozole, letrozole, exemestane, fulvestrant, dan lainnya.

Pada pasien yang menderita kanker payudara dengan HER2 (human epidermal growth factor receptor-2) positif, ada banyak antibodi monoklonal yang dapat digunakan – trastuzumab, pertuzumab, lapatinib, trastuzumab emtansine, dan lainnya.

Ada banyak obat-obatan kemoterapi sitotoksis yang telah terbukti efektif dalam pengobatan kanker payudara yang telah menyebar.

Setelah menjelaskan hasil biopsi dan PET-CT, Ibu Sunarti memulai pengobatan dengan salah satu kombinasi obat favorit saya – infus 5-Fluorouracil dengan vinorelbine. Saya menyukai kombinasi ini karena efektif dan memiliki efek samping yang sedikit. Secara spesifik, sebagian besar pasien yang diobati dengan kombinasi ini mengalami sedikit kerontokan rambut atau sama sekali tidak rontok.

Hasil pengobatan Ibu Sunarti sangat menggembirakan. Setelah satu siklus kemoterapi, tumornya kering dan bau busuk pun hilang. Pemindaian PET-CT yang diulang setelah siklus kemoterapi keempat memperlihatkan bahwa kanker memberikan respons yang baik – semua tumor mengecil atau hilang.

Lebih penting lagi, ia tidak mengalami efek samping yang signifikan dari pengobatan tersebut.

Salah satu sebab Ibu Sunarti tidak mencari perawatan medis karena ia melihat suaminya menderita dan meninggal akibat kanker usus. Ia siap untuk menghadapi nasib yang sama. Ia tidak menyadari bahwa pengobatan dan efek samping yang ditimbulkan dapat berbeda untuk tiap jenis kanker.

Kini Ibu Sunarti sudah cukup sehat untuk bepergian seorang diri. Semua ini berkat sahabat yang mengalahkan keengganannya dan membawanya ke Singapura.

Dr Ang Peng Tiam



Tags: breast cancer, efek samping yang umum dari pengobatan kanker, kanker metastatik, kanker payudara, kisah dokter spesialis kanker, tumor