Salah satu gejala yang ditakutkan oleh sebagian besar pasien kanker adalah rasa sakit. Namun manajemen yang tepat dalam mengelola rasa sakit akibat kanker ini bisa membantu pasien untuk fokus lebih baik pada pengobatan mereka dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Dr Kok Jaan Yang, seorang konsultan senior yang fokus pada ilmu pengobatan paliatif dari Parkway Cancer Centre, menjelaskan bagaimana cara mengatasi masalah ini.   

Dr. Kok Jaan Yang, seorang senior konsultan dari Parkway Cancer Centre yang berfokus pada ilmu pengobatan Paliatif, menjelaskan bahwa pengendalian rasa sakit akan sangat membantu penderita kanker.  

Mengapa manajemen rasa sakit ini penting?

Rasa sakit adalah gejala yang paling menakutkan bagi pasien penderita kanker. Dengan pemahaman yang tepat tentang apa itu rasa sakit kanker dan pengelolaannya, pasien kanker bisa lebih fokus pada pengobatan mereka dan kualitas hidup mereka pun bisa meningkat.

Apakah semua pasien kanker merasakan sakit?

Tidak. Diperkirakan ada 50 persen dari pasien kanker yang mungkin melaporkan adanya rasa sakit pada saat diagnosa, meningkat menjadi sekitar 75 persen di stadium yang lebih lanjut. sehingga saya selalu mengedukasi pasienpasien saya bahwa dari empat orang pasien kanker, satu orang bisa jadi tidak merasakan sakit sama sekali, satu merasakan sakit ringan. Satu merasakan sakit taraf sedang, dan satu lagi bisa jadi merasakan rasa sakit yang berat.

Apa yang menyebabkan timbulnya rasa sakit pada penyakit kanker?

Rasa sakit akibat kanker umumnya disebabkan oleh kanker yang menyerang/menekan berbagai jaringan/organ tubuh. Hal ini merangsang lapisan ujung saraf nyeri yang mengakibatkan rasa sakit yang tajam maupun ringan. Sensasi ini kerap diistilahkan dengan “nyeri nosiseptif”.

Terkadang, nyeri kanker disebabkan oleh tekanan dari saraf di sekitarnya (ketimbang merangsang ujung saraf) yang sering kita sebut dengan “nyeri neuropatik” atau nyeri saraf. Ini sering dideskripsikan dengan nyeri yang menusuk, sensasi jarum atau peniti, sensasi rasa terbakar, dll.

Membedakan nyeri nosiseptif dan nyeri neuropatik adalah suatu hal yang penting karena keduanya merespon terhadap obatobatan pereda nyeri yang berbeda.

Seringkali, nyeri kanker bisa saja bergabung antara nyeri nosiseptif/neuropatik dan membutuhkan kombinasi dari pengobatan pereda nyeri yang berbeda pula untuk meredakan rasa sakit yang muncul.

Namun kita tidak bisa langsung menganggap bahwa semua rasa sakit yang dialami pasien kanker sudah pasti disebabkan oleh kanker.

Diperkirakan sekitar 5 hingga 10 persen bisa jadi akibat pengobatan kanker (misalnya nyeri dari sariawan di mulut disebabkan pengobatan tertentu kanker) dan hingga 20 persen dari rasa sakit yang timbul bisa jadi tidak ada kaitannya dengan kanker (misalnya osteoarthritis lutut, osteoporosis di tulang belakang).

Siapa yang sebaiknya menangani nyeri kanker Anda?

Ahli onkologi yang menangani pengobatan Anda adalah orang terbaik yang bisa mengatur dan mengelola rasa sakit kanker Anda, karena ia yang paling mengetahui kondisi Anda dan bisa menyelidiki penyebab dari rasa sakit yang baru jika diperlukan.

Ia akan memberikan resep beberapa obatobatan pereda nyeri di salah satu atau lebih dari kelompok berikut ini yang didefi nisikan oleh WHO sebagai tiga tahap langkah untuk meredakan nyeri kanker:

A. Non-opioid, yaitu paracetamol, NSAID

B. Opioid lemah, yaitu tramadol

C. Opioid kuat, yaitu morfin, oxycodone, fentanyl

D. Obat nyeri saraf, yaitu pregabalin

Bagaimana jika nyeri kanker Anda tetap tidak terkontrol dengan baik?

Onkolog Anda mungkin akan merujuk Anda kepada seorang spesialis pengobatan paliatif untuk membantu mengelola nyeri kanker Anda. Dokter spesialis pengobatan paliatif memiliki pengalaman dalam berhadapan dengan persoalan rasa sakit yang kompleks dan dalam membantu pasien mengatasi rasa sakit mereka. Ia bisa membantu membuatkan manajemen rasa sakit setelah observasi nyeri yang komprehensif.

Apa itu observasi rasa sakit dan rencana manajemen?

Komprehensif meliputi sebuah tinjauan riwayat medis pasien, riwayat dan hasil observasi rasa sakit, efektivitas dan efek samping dari obat-obatan pereda nyeri yang sebelumnya, dan pemahaman pasien akan persoalan rasa sakit itu sendiri.

Perencanaan manajemen rasa sakit meliputi edukasi kepada pasien dan keluarga mereka tentang mekanisme cara mengatasi rasa sakit mereka dan memberikan anjuran-anjuran berupa kombinasi dari kelas-kelas yang berbeda dari pengobatan rasa sakit dengan aksi yang berbeda pula untuk memaksimalkan kontrol rasa sakit tersebut dan meminimalisir efek samping yang mungkin akan mereka alami. Perencanaan tersebut akan ditinjau secara rutin bersamaan dengan pemberian semangat dan dorongan kepada pasien dengan tujuan agar mereka dapat mengelola dan mengatasi rasa sakit.

Dalam kasus pasien dengan nyeri tulang yang parah akibat tumor tulang, mereka boleh dirujuk ke onkolog radiasi untuk menjalani radiasi ke tulang untuk membantu dalam mengendalikan rasa sakit. Pada beberapa pasien dengan rasa sakit yang parah yang sulit dikendalikan oleh obat-obatan tersebut di atas, mereka mungkin akan dirujuk untuk menjalani pengobatan prosedur pemblokiran saraf.  



Tags: efek samping yang umum dari pengobatan kanker, kualitas hidup pasien kanker, nyeri kronis, pengelolaan nyeri akibat kanker