Skrining untuk kanker kolorektal

Dr Zee Ying Kiat dari Parkway Cancer Centre menjawab pertanyaan umum terkait kanker kolorektal.

Apa saja berbagai metode skrining untuk kanker kolorektal, dan apa perbedaan di an-tara berbagai metode tersebut?

Skrining adalah proses mencari kanker pada orang yang tidak memiliki gejala penyakit. Jika skrining kanker kolorektal mengungkapkan adanya masalah, maka diagnosis dan perawatan dapat terjadi dengan segera. Kanker kolorektal umumnya lebih dapat dio-bati ketika ditemukan lebih awal, sebelum memiliki kesempatan untuk menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Dokter mungkin akan menyarankan satu atau lebih dari tes berikut untuk skrining kanker kolorektal:

  • Tes darah tinja okultisme (FOBT): Tes ini memeriksa darah yang tersembunyi di feses (tinja). Penelitian menunjukkan bahwa metode FOBT, ketika dilakukan setiap satu atau dua tahun pada orang berusia 50-80, dapat membantu mengurangi jumlah kematian akibat kanker kolorektal sebesar 15-33 persen.
  • Sigmoidoskopi: Dalam tes ini, rektum dan usus besar bagian bawah diperiksa menggunakan instrumen yang dinamakan sigmoidoskop. Pertumbuhan prakanker dan kanker di rektum dan usus besar bagian bawah dapat ditemukan dan diangkat atau dibiopsi. Studi menunjukkan bahwa skrining rutin dengan sigmoidoskopi setelah usia 50 dapat membantu mengu-rangi jumlah kematian akibat kanker kolorektal. Untuk metode ini diperlukan pem-bersihan menyeluruh pada usus besar bagian bawah sebelum menjalankan tes ini.
  • Kolonoskopi: Dalam tes ini, rektum dan seluruh kolon diperiksa menggunakan instrumen yang di-namakan kolonoskop. Pertumbuhan prakanker dan kanker di seluruh usus besar dapat ditemukan dan dihilangkan atau dibiopsi, termasuk pertumbuhan di bagian atas usus besar, di mana mereka biasanya tidak terdeteksi dengan metode sigmoidoskopi. Na-mun, belum diketahui secara pasti, apakah kolonoskopi dapat membantu mengurangi jumlah kematian akibat kanker kolorektal. Diperlukan pembersihan menyeluruh pada usus besar sebelum tes ini dan sebagian besar pasien akan menerima sedasi.
  • Kolonoskopi virtual: Dalam tes ini, peralatan sinar-X khusus digunakan untuk menghasilkan gambar kolon dan rektum. Komputer akan merakit gambar-gambar ini menjadi gambar-gambar ter-perinci yang dapat menunjukkan polip dan kelainan lainnya. Metode ini kurang invasif jika dibandingkan kolonoskopi standar dan sedasi tidak diperlukan. Diperlukan pem-bersihan menyeluruh pada usus besar sebelum tes ini. Apakah kolonoskopi virtual dapat mengurangi jumlah kematian akibat kanker kolorektal masih belum diketahui.
  • Barium enema kontras ganda (DCBE): Dalam tes ini, serangkaian sinar-X diberikan ke seluruh usus besar dan rektum setelah pasien diberikan enema dengan larutan barium dan udara dimasukkan ke dalam usus besar. Barium dan udara membantu menguraikan usus besar dan rektum pada sinar-X. DCBE kemungkinan besar tidak mendeteksi polip kecil. Metode ini mendeteksi sekitar 30-50 persen kanker yang dapat ditemukan dengan kolonoskopi standar.

Apa tahap paling awal dari kanker kolorektal yang dapat dideteksi dengan skrining?

Skrining berpotensi mendeteksi kanker kolorektal pada tahap paling awal. Ini penting karena kanker kolorektal umumnya lebih dapat diobati ketika ditemukan lebih awal, sebelum memiliki kesempatan untuk menyebar.

Dalam banyak kasus, skrining juga dapat mencegah adanya kanker kolorektal sama sekali. Ini karena beberapa polip pra-kanker dapat ditemukan dan dihilangkan sebelum mereka berubah menjadi kanker.

Haruskah orang dengan riwayat keluarga yang mengidap kanker kolorektal mulai melakukan skrining lebih awal?

Orang dengan riwayat keluarga pengidap kanker kolorektal yang kuat berisiko lebih tinggi. Jika Anda merasa memiliki riwayat keluarga yang kuat, Anda harus mengunjungi dokter. Rujukan dapat dilakukan ke klinik genetika, di mana riwayat keluarga Anda akan dianalisis untuk membantu mengetahui kemungkinan risiko penyakit tertentu.

Skrining dini untuk kanker kolorektal direkomendasikan bagi mereka yang memiliki ri-wayat keluarga dengan familial poliposis adenomatosa (FAP) atau kanker kolorektal non-poliposis herediter (HNPCC).

Gejala umum

Kanker kolorektal biasanya tidak menghasilkan gejala di awal perkembangan penyakit. faktanya, lebih dari setengah orang yang didiagnosis tidak memiliki gejala.

Ketika gejala muncul, gejala ini cenderung bervariasi, tergantung pada ukuran dan lo-kasi kanker. Gejala umum yang terjadi adalah:

  • Perubahan kebiasaan buang air besar, termasuk diare atau sembelit
  • Adanya darah di tinja
  • Ketidaknyamanan perut yang tidak kunjung hilang, seperti kram, kembung atau nyeri
  • Perasaan sembelit
  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan


Tags: FOBT (tes darah tinja okultisme), kanker kolorektal, kolonoskopi, mencegah kanker, mengurangi risiko (terkena) kanker, polip yang bersifat kanker, riwayat kanker, skrining kanker