Dalam sebuah acara Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan/Continuing Medical Education (CME), para dokter spesialis onkologi memberikan update mengenai diagnosis dan pengobatan berbagai jenis leukemia dan limfoma kepada para dokter.

Selama bertahun-tahun, diagnosis kanker darah telah semakin membaik, dimana pada beberapa kasus, tidak dibutuhkan pemeriksaan sumsum tulang belakang. Dan dengan adanya pengobatan-pengobatan baru, seperti misalnya antibodi monoklonal, kini kesembuhan dapat dicapai pada beberapa jenis leukemia, ujar Dr Freddy Teo, seorang dokter spesialis hematologi dan Konsultan Senior di Parkway Cancer Centre.

Dr Teo berbicara di depan sekitar 45 dokter yang menghadiri seminar Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan pada tanggal 7 Juli yang diselenggarakan oleh Parkway Cancer Centre.

Dalam ceramahnya, ia menjelaskan bagaimana beberapa kanker, seperti misalnya leukemia mieloid kronis/chronic myeloid leukaemia (CML), kini dapat didiagnosis hanya dengan sampel darah karena CML ditandai dengan ketidaknormalan kromosom yang dapat dideteksi dengan analisis sitogenetika, yaitu analisis kromosom pada darah.

“Bila Anda melihat (ketidaknormalan) ini, itu adalah leukemia, bahkan bila jumlah sel darah putihnya rendah,” ujarnya. Leukemia biasanya didiagnosis ketika jumlah sel darah putih sangat tinggi.

Oleh karena itu, pada kasus-kasus dimana pasiennya adalah orang lanjut usia, kemungkinan mereka tidak perlu melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang bila analisis sitogenetika memperlihatkan ketidaknormalan ini. Tiga puluh tahun yang lalu, pemeriksaan sumsum tulang belakang perlu dilakukan untuk mengkonfirmasi leukemia.

Penemuan penanda molekuler untuk kanker, ketersediaan analisis sitogenetika dan pemeriksaan baru lainnya, dan kelas obat yang dikenal sebagai penghambat tirosin kinase, membuat beberapa orang dapat disembuhkan dari CML dengan menggunakan obat-obatan. Sebelumnya, hanya transplantasi sel punca yang dapat mengobati leukemia jenis ini.

Analisis sitogenetika juga telah membuat perbedaan dalam diagnosis dan pengobatan leukemia limfositik kronis/chronic lymphocytic leukaemia (CLL).

Kini para dokter spesialis onkologi dapat mencari ketikdaknormalan kromosom yang merupakan sifat dari bentuk CLL yang agresif, yang harus diobati dengan cara yang berbeda dari varian yang ‘pemalas’, ujarnya.

Pembicara seminar lainnya, Dr Colin Phipps Diong, seorang Konsultan di Parkway Cancer Centre Consultant yang spesialisasinya di bidang limfoma, kanker darah dan transplantasi sel punca hematopoietik, membahas mengenai penggunaan imunoterapi untuk kanker darah, dengan fokus pada antibodi monoklonal dan memperkenalkan modalitas imunoterapetik yang lebih baru, seperti misalnya pengikat sel T bispesifik dan penghambat checkpoint.

Antibodi monoklonal adalah antibodi yang dibuat di laboratorium yang menargetkan sel-sel kanker darah dengan mengenali protein khusus yang terdapat pada permukaan sel-sel kanker.

Sejumlah antibodi monoklonal telah dikembangkan untuk menargetkan protein yang berbeda-beda dan dengan demikian dapat mengatasi jenis limfoma dan leukemia yang berbeda-beda pula, dan ada banyak antibodi monoklonal baru yang sedang dalam penelitian saat ini, ujarnya.

“Ini adalah bidang yang terus berkembang, dengan banyak zat baru yang sedang diuji secara klinis. Angka kesembuhan telah mengalami peningkatan dan terus membaik.”

Seminar ini juga menghadirkan Dr Anselm Lee, seorang dokter spesialis hematologi-onkologi anak, yang membahas mengenai thalasemia, yaitu suatu kelainan darah yang diwariskan, dan Dr Lucas Chan, seorang ilmuwan yang membahas mengenai terapi sel CAR T, yaitu suatu bentuk pengobatan kanker yang baru.

PERKEMBANGAN

Terapi sel CAR T: Kemungkinan dan tantangannya

Suatu bentuk baru dari pengobatan kanker yang dikenal sebagai terapi sel chimeric antigen receptor (CAR) T cukup menjanjikan namun bukanlah suatu terapi yang penuh keajaiban, menurut Dr Lucas Chan, Chief Scientific Officer di Stem Med, yaitu sebuah perusahaan yang terkait dengan Parkway Cancer Centre.

Dr Chan, yang turut serta dalam pengobatan orang pertama di dunia yang diberikan terapi sel CAR T, berbicara dalam sebuah sesi Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan yang diselenggarakan oleh PCC pada bulan Juli.

Ia menjelaskan bahwa terapi ini telah menunjukkan efektivitasnya pada beberapa jenis kanker darah tertentu, seperti misalnya leukemia limfoblastik akut sel B, limfoma sel B derajat tinggi dan mieloma ganda. Namun, bahkan di sini pun, terkadang masih ada efek samping yang serius.

Salah satu efek samping yang paling serius adalah sindrom pelepasan sitokin, yang disebabkan oleh pelepasan sitokin (suatu zat kekebalan tubuh) dalam jumlah besar dan cepat ke dalam darah dari sel-sel imun yang terkena imunoterapi. Pada beberapa pasien, reaksi ini dapat mengancam nyawanya.

Efek samping lainnya adalah neurotoksisitas, dan para ilmuwan masih terus mencoba untuk memahami mekanisme bagaimana otak dapat dipengaruhinya, ujarnya. “Ini adalah bidang yang berkembang dengan cepat dan ada banyak hal yang belum diketahui oleh para ilmuwan dan klinisi.”

Terapi sel CAR T menggunakan sel-sel T (yaitu sejenis sel darah putih) yang telah dimodifikasi di laboratorium untuk mengenali sel-sel kanker. Protein khusus yang dapat mengenai dan mengikat sel-sel kanker melekat pada sel-sel T yang kemudian diberikan kepada pasien. Sel-sel T yang dimodifikasi ini kemudian dapat mengidentifikasi dan membunuh target yang mereka tuju.

Proses ini melibatkan penggunaan HIV dalam bentuk yang dirancang kembali, karena, seperti yang dijelaskan oleh Dr Chan, “HIV sangat bagus dalam melakukan apa yang ia kerjakan, ia dapat menginfeksi sel-sel imun dengan sangt baik.” Dalam laboratorium ruang bersih, gen patogeik dibuang dari virus tersebut sehingga ia tidak menyebabkan penyakit. Sebagai hasilnya, vektor yang dirancang ulang dapat digunakan dengan aman untuk hanya mengantarkan gen yang bersifat terapetik, ujarnya.

Meskipun terapi sel CAR T telah diagung-agungkan di media sebagai langkah besar dalam mengobati kanker, Dr Chan memperingatkan agar berhati-hati untuk tidak sepenuhnya mempercayai hal tersebut. “Pada beberapa kasus, terapi ini sangat, sangat efektif, sementara pada jenis tumor “padat” non-hematologi lainnya, efektivitasnya terbatas dan masih banyak temuan yang belum dapat dipahami oleh para ilmuwan dan klinisi. Kami terus belajar ketika penelitian dilakukan dan penelitian-penelitian itupun terus mendidik kami dan terkadang memberikan hasil yang mengejutkan bagi kami. Jadi, kita harus menerima kabar gembira (mengenai penyembuhan kanker) dengan sudut pandang yang seimbang dalam bidang yang berkembang dengan cepat dan menarik ini.”

Ceramah Dr Chan disambut dengan baik oleh para peserta, dan Dr Ng, seorang dokter spesialis hematologi, menyebut ceramah tersebut sebagai “bertenaga tinggi”.

TANTANGAN

Mendiagnosis thalasemia ‘tidaklah mudah’

Mendiagnosis kelainan darah thalasemia tidaklah semudah yang dipikirkan oleh banyak dokter dan bergantung kepada pemeriksaan darah sederhana dapat melewatkan orang yang memiliki ciri-ciri thalasemia.

Ini adalah peringatan yang diberikan oleh Dr Anselm Lee, seorang dokter spesialis hematologi-onkologi anak di Parkway Cancer Centre (PCC). Ia berbicara dalam sebuah seminar Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan yang diselenggarakan oleh PCC pada bulan Juli.

Dalam ceramahnya, ia menjelaskan bahwa mendiagnosis thalasemia biasanya diawali dengan pemeriksaan darah, dengan beberapa pemeriksaan lanjutan bagi para pasien yang memperlihatkan nilai mean cell volume (MCV) yang rendah pada darah mereka. Namun, tidak semua thalasemia memiliki nilai MCV yang rendah, ujar Dr Lee.

Ia memperingatkan para dokter agar berhati-hati dalam menyatakan sehat atau tidaknya seorang pasien. “Jangan pernah mengatakan kepada pasien ‘Anda tidak menderita thalasemia’ hingga Anda memiliki semua buktinya,” ujarnya.

Kelainan ini memiliki dua varian: thalasemia minor dan thalasemia mayor. Pada thalasemia minor, dampaknya kecil pada kegiatan sehari-hari dan kebanyakan orang yang menderita kelainan ini tidak menyadari bahwa mereka memilikinya. Sebuah penelitian di Italia bahkan menunjukkan bahwa orang yang menderita thalasemia minor bisa jadi memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk terkena serangan jantung.

Namun, yang mengkhawatirkan adalah bila dua orang yang menderita thalasemia minor menikah, maka kemungkinan mereka akan memiliki anak yang menderita thalasemia mayor, yaitu suatu kelainan medis yang parah.

Dr Ong, seorang dokter keluarga yang menghadiri acara ini, mengatakan bahwa ceramah Dr Lee sangat bermanfaat dalam praktek klinis yang dijalaninya. Peserta lainnya, yaitu Dr Ching, mengatakan bahwa setelah ia dewasa, barulah ia menemukan bahwa dirinya menderita thalasemia minor. Kemungkinan bahwa ia tidak rentan terhadap serangan jantung merupakan kabar yang menggembirakan, ujar dokter umum ini.

Jimmy Yap



Tags: cara baru untuk mengobati kanker, kanker darah, pendidikan kedokteran berkelanjutan (PKB), sumsum tulang belakang, talasemia, terapi sel punca, terobosan terbaru dalam pengobatan kanker