Hari itu adalah satu di antara hari yang langka ketika putri saya kebetulan mampir di klinik dalam perjalanan untuk melakukan beberapa urusan di kota.

Saat itu sudah mendekati Natal dan ada musik yang sedang diputar di klinik.

“Duduklah disini bersama ayah sambil ayah menerima pasien,” saya berkata kepadanya.

Ia adalah seorang dokter yang relatif baru dan saya amat bersemangat untuk mengetahui pandangan-pandangannya, serta ingin berbagi pengalaman kerja saya dengannya.

Pasien saya berikutnya saat itu adalah pasien baru – Mr Tan, pria berusia 57 tahun yang pernah bekerja sebagai mandor di proyek bangunan. Ia menikah dan dikaruniai empat anak dan saudara laki-lakinya wafat beberapa tahun lalu akibat kanker nasofaring (NPC).

Selagi ia mengisahkan riwayat klinisnya kepada saya, terlihat bahwa dirinya sedang berada di kondisi yang sama dengan sang kakak.

Pada Agustus 2011, ia mengalami hidung mampet. Dokter umum merujuknya ke dokter spesialis THT yang kemudian segera mendiagnosanya bahwa ia, seperti kakaknya, mengidap NPC stadium lanjut. Ia lalu dirujuk ke onkolog medis dan onkolog itu memberinya serangkaian kemoterapi agresif.

Ia merespon kemoterapinya dengan baik dan melanjutkan untuk menerima kemoterapi bersamaan dan terapi radiasi.

Saya kerap menyebut fase pengobatan kemoradiasi terapi bersamaan sebagai “neraka dunia”.

Pasien harus menjalani radiasi setiap hari dari Senin hingga Jum’at. Program standar untuk menangani NPC mengharuskan pasien menjalani 33 sesi pengobatan.

Untuk memaksimalkan efektivitas dari radioterapinya, kemoterapi dijadwalkan sekali dalam sepekan. Di dua pekan pertama, belum muncul adanya efek samping. Namun masalah mulai datang di pekan ketiga dan seterusnya. Lapisan dalam mulutnya seperti terkelupas dan rasa sakitnya begitu menyiksa setiap kali pasien mencoba untuk menelan ludah, berbicara atau sekadar minum.

Ini sama seperti seseorang yang sedang berjemur di bawah sinar matahari namun tanpa memakai sunblock. Seiring waktu berjalan, kulit menjadi seperti hangus dan mulai melepuh.

Namun yang terpenting, Mr Tan berhasil selamat dari cobaan berat itu dan menyelesaikan pengobatannya pada Januari 2012.

Hampir dua bulan kemudian, kankernya kambuh kembali. Kali ini, situasinya lebih berat ketimbang dahulu karena kankernya sekarang telah menyebar ke seluruh tubuhnya.

Antara Maret 2012 dan Oktober 2013, Mr Tan mencoba delapan program kemoterapi berbeda dan satu rangkaian radiasi paliatif untuk melegakan sakit pada tulangnya.

Melihat catatan yang ia bawa bersamanya, saya menghitung sembilan obat kemoterapi yang berbeda digunakan sendiri atau dalam kombinasi. Setiap satu sampai tiga bulan, ia berpindah dari satu program kemoterapi ke program kemoterapi lainnya karena tak satupun yang tampaknya berhasil.

Pada saat saya bertemu dengannya, beratnya hanya 54 kg. Suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Salah satu pita suaranya lumpuh karena kompresi kanker pada sarafnya. Ia pun mengalami batuk yang menetap dan mengeluhkan bahwa ia sangat lelah. Ia kehilangan selera makan dan menderita nyeri yang terus menerus akibat dari metastasis (penyebaran kanker) di tulangnya. Dokternya pun menyerah menangani dirinya.

Hasil PET-CT scan menunjukkan bahwa paru-parunya dipenuhi dengan metastasis sebesar “peluru meriam”. Ada metastasis di tulangnya, air di sekitar jantungnya dan kankernya juga telah menyerang kelenjar getah bening di leher, dada dan perutnya.

Scan itu melukiskan gambar yang mengerikan. Akan tetapi saya melihat sesuatu yang tidak mampu ditangkap sekalipun oleh alat scan – semangat juang Mr Tan. Kebanyakan orang mungkin sudah menyerah sejak pukulan pertama.

Mr Tan menyadari dengan baik bahwa cobaan ini menumpuk pada dirinya, namun ia ingin mencoba pengobatan sekali lagi. Kebulatan tekadnya membuat saya pun turut berusaha lebih keras.

Karena sebagian besar agen aktif dalam mengobati NPC sudah digunakan, maka yang dapat saya lakukan hanyalah mengubah kombinasi obat.

Namun saya punya satu trik. Telah dilaporkan dengan baik bahwa hingga 80 persen dari pasien pengidap NPC sangat agresif, mereka membawa suatu mutasi genetik tertentu. Pengalaman saya dengan menambahkan agen tertarget yang disebut Cetuximab hampir selalu positif.

Walaupun harus menghadapi risiko dan potensi adanya efek samping, Mr. Tan berkeras untuk menjalani pengobatan tersebut. Ia mulai pengobatan di hari yang sama.

Setelah Mr. Tan keluar dari ruang konsultasi putri saya merengutkan kening. Ia benar-benar tidak mengira pria ini, yang telah menjalani pengobatan dengan begitu beratnya, ternyata masih memiliki peluang terhadap sebuah respon berarti di pengobatan berikutnya.

Saya menjawabnya dengan bercanda: “Jangan takut! Pasti kali ini berhasil!”

Putri saya menggelengkan kepalanya tanda ragu-ragu dan berkata: “Ayah, jangan lupa ya untuk berbagi cerita apa yang terjadi nanti pada pasien ini.”

Tak terasa sembilan pekan telah berlalu dan Mr Tan telah menyelesaikan tiga siklus kemoterapinya.

Kami pun bertemu lagi. Ia bisa makan dengan baik dan suaranya terdengar lebih kuat dan jelas sekarang. PET-CT scan lanjutan menunjukkan bahwa tumornya merespon di setiap titik yang terserang.

Saya bersyukur bisa memindai gambar hasil PET-CT scan miliknya untuk saya beritahukan kepada putri saya.

Saya rasa pelajaran yang ingin saya bagi kepadanya – sebuah pelajaran yang melebihi sekadar ilmu obat-obatan – adalah jangan pernah menyerah di saat masih ada semangat juang yang tersisa.

Oleh Dr Ang Peng Tiam



Tags: berpikir positif saat terkena kanker, diagnosis kanker, kanker kepala & leher (THT), kanker metastatik, kekambuhan / kambuhnya kanker, kemoterapi, mutasi kanker, terapi kemo-radiasi