Setelah didiagnosis menderita kanker paru, Bapak Le Van Phung, seorang pensiunan ilmuwan Vietnam, takut akan hal yang terburuk. Namun kini, ia dapat kembali  bermain dengan cucu-cucunya.

Tanda pertama yang disadari oleh Bapak Le Van Phung bahwa ada yang tidak beres adalah berat badannya yang menurun.

Sebagai seorang pensiunan ilmuwan, Bapak Le, yang berusia 74 tahun, selalu membuat catatan dan menimbang dirinya dengan rajin. Meskipun ia menyadari berat badannya menurun, ia tidak terlalu memikirkannya – kakek dari delapan orang cucu ini tetap melakukan jadwal hariannya yang terdiri dari meditasi, olah raga dan bermain dengan cucu-cucunya.

Namun, tanda yang kedua adalah sesuatu yang tidak dapat ia abaikan: rasa nyeri pada bagian kanan tubuhnya, di sekitar tulang rusuk.

Pada bulan Juli tahun 2016, ia membuat janji untuk menemui seorang dokter guna memeriksakan rasa nyeri tersebut. Setelah melakukan rontgen dada dan pemindaian CT, ia didiagnosis menderita kanker paru.

Meskipun kabar tersebut mengejutkan Bapak Le, hal itu bukanlah sesuatu yang sama sekali tidak terduga; dulu ia adalah seorang perokok berat meskipun ia telah berhenti merokok lima tahun sebelum diagnosis tersebut. Ia menerima kabar tersebut dengan tenang. “Saya menerima diagnsosis tersebut,” ujar ayah dari empat orang anak ini. Ia tidak sedang berada dalam ilusi. “Abang saya menderita kanker paru dan meninggal akibat kanker tersebut.”

Namun, istri dan anak-anaknya tidak ingin ia menyerah pada takdir. “Seluruh keluarga terkejut dan khwatir,” kenang putranya, Bapak Le Dang Phong, yang berusia 40 tahun. Setelah keluarga dapat mengatasi rasa terkejut, mereka berlomba-lomba untuk menemukan jalan keluar.

Keluarga mereka mendengar mengenai Parkway Cancer Centre (PCC) dari teman-teman. Putranya mendiskusikan hal tersebut dengan Bapak Le dan dokternya, dan mereka memutuskan untuk berobat ke Singapura.

Bulan berikutnya, mereka tiba di Singapura dimana Bapak Le menjalani serangkaian pemeriksaan. Rangkaian pemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa ia menderita kanker paru Stadium 4.

Dr Lim Hong Liang, ahli onkologi medis senior di PCC, mulai melakukan kemoterapi pada Bapak Le. Namun, pada mulanya, hasilnya tidak baik. Meskipun diobati, berat badan Bapak Le terus menyusut.

Pada tanggal 12 Agustus, berat badannya 57 kg. Ia harus menghadapi efek samping dari kemoterapi: lesu, insomnia dan hilangnya nafsu makan. Pemeriksaan genetik awal pada tumor menunjukkan bahwa kanker yang dideritanya tidak sesuai untuk terapi yang ditargetkan. Dr Lim menggantinya dengan obat kemoterapi yang berbeda, namun Bapak Le tetap tidak menunjukkan respons. Pada tanggal 23 September, setelah siklus kemoterapi yang keempat, berat badannya 55 kg.

Dr Lim memutuskan bahwa perlu dilakukan suatu hal yang baru. Ia melakukan biopsi lagi dan mengirimkannya ke Australia untuk diperiksa. Ketika hasilnya keluar pada pertengahan Oktober, ada kabar baik – tampaknya kanker yang diderita Bapak Le akan memberikan respons terhadap imunoterapi.

Mereka mulai melakukan rangkaian imunoterapi dan diperoleh respons yang sangat cepat. Berat badan Bapak Le mulai naik dan penanda kankernya mulai turun.

“Saya merasa lelah saya berkurang, saya makan lebih baik dan tidur lebih baik juga,” kenangnya.Namun, ada efek samping yang dialaminya, seperti jerawat, dan kulit melepuh pada beberapa bagian tubuh.

Pada akhirnya, Bapak Le menjalani dua putaran imunoterapi. Seharusnya ia menjalani putaran ketiga pada akhir November 2016, namun karena efek samping yang dialaminya, ia memutuskan untuk tidak melakukannya. Meski demikian, tumornya terus mengecil. Ia masih tetap sehat dan hanya mengalami sedikit penyakit –16 bulan setelah dosis terakhir imunoterapi yang diterimanya.

Kini Bapak Le telah pulang ke Vietnam dan tinggal di Ho Chi Minh City agar lebih dekat dengan anak-anaknya. Ia telah kembali kepada rutinitasnya dan berkunjung ke Singapura setiap tiga bulan sekali untuk melakukan pemeriksaan.

Saran yang ia berikan kepada orang lain yang mengalami situasi yang sama dengan dirinya adalah agar tetap tenang. “Jangan stres,” ujarnya. “Percayalah kepada dokter dan dapatkan dukungan dari keluarga Anda.”

Ia menambahkan bahwa hal yang juga penting bagi pasien adalah untuk terlibat dalam pengobatan. Pasien juga harus tetap bersikap positif, berolah raga, memastikan bahwa mereka makan makanan yang seimbang dan mengkonsumsi obat-obatan secara teratur.

Ia mengatakan bahwa ia berterima kasih kepada tim medis di PCC. “Saya ingin berterima kasih kepada Dr Lim yang telah merawat saya dan membuat keputusan yang tepat mengenai pilihan pengobatan untuk saya,” ujarnya. “Saya juga ingin mengucapkan ‘terima kasih’ kepada para staf di Parkway Cancer Centre – mereka ramah, antusias dan penuh kasih sayang, mulai dari para perawat hingga para staf di konter.”

Secara khusus, ia menyebutkan petugas hubungan tamu (guest relations officer) yang bernama Ann Ton, yang membantu para pasien Vietnam yang berobat di PCC. “Ia sudah seperti seorang anak bagi saya.”

Tidak ada seorang pun dalam keluarganya yang fasih berbicara dalam bahasa Inggris, namun mereka tidak mengalami kendala di Singapura karena Nona Ann membantu mereka dengan terjemahan dan bagaimana cara berkeliling kota, ujar Bapak Le Dang Phong. “Kami tidak mengalami masalah dengan makanan ataupun bahasa. Kami beruntung bertemu dengan orang Vietnam seperti Nona Ann yang membantu kami,” ujarnya.

Jimmy Yap



Tags: