Setelah menaklukkan leukemia mieloid akut, Najmus Ahmed memulai sebuah yayasan bantuan kanker bagi orang sebangsanya.

Dimulai dari demam tinggi yang tak kunjung reda, keluarga bapak Najmus Ahmed mencoba tetap optimis dan berpikir bahwa itu hanyalah demam berdarah, dan memutuskan untuk membawa nya ke rumah sakit di Bangladesh

Namun beberapa hari kemudian, pada bulan Maret 2011, ia dipindahkan ke Parkway Cancer Centre (PCC) di Singapura.

“Saya sangat bingung,” ujarnya. “Ayah saya mengatakan bahwa mereka hanya ingin memastikan bahwa tubuh saya baik-baik saja, oleh sebab itu mereka mengirim saya ke Singapura untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.”

Ia terbangun di bangsal hematology dimana ia diperkenalkan kepada Dr Teo Cheng Peng, Konsultan Senior Hematologi di PCC. “Saya masih tidak mengerti ketika bertemu dengan Dr Teo,” kata Bapak Ahmed.

“Namun beliau memberitahukan saya bahwa saya memiliki jenis leukemia “terbaik” yang mungkin ada karena ini merupakan jenis yang paling dapat diobati.”

Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, Bapak Ahmed diberitahukan untuk kembali ke Bangladesh guna menyelesaikan semua urusannya sebelum datang kembali ke Singapura untuk menjalani kemoterapi selama enam bulan berikutnya. Hanya setelah ronde pertama dari kemoterapinya ia mulai menyadari kenyataan. “Akhir saya sadar,” ujarnya. “Saya menderita leukemia. Ini merupakan hal yang mengejutkan.”

Namun Dr Teo meredakan ketakutannya. “Dr Teo sangat terbuka pada saya. Beliau mengatakan bahwa saya kuat dan saya dapat melawannya. Beliau berkata bahwa pada usia 45 tahun, kemungkinan saya akan selamat,” Bapak Ahmed mengisahkan.

Mulai dari saat itu, Bapak Ahmed menganggap Dr Teo sebagai seorang rekan dan seorang kakak dari surga dan sangat mempercayainya.

Namun, meskipun pengobatannya berjalan dengan lancar, semua itu memberikan efek samping. Bapak Ahmed mengalami diare dan infeksi anus yang menyebabkannya mengalami rasa nyeri yang hebat serta ketidaknyamanan. Obat-obatan yang diberikan juga membuatnya mengalami insomnia.

Ia juga terkena depresi di tengah perjalanan pengobatannya, namun dengan dukungan dari putra dan ayahnya, yang mana keduanya ikut ke Singapura untuk menemaninya selama masa pengobatannya, Bapak Ahmed dapat melaluinya. Pada kenyataannya, dukungan mereka sangatlah berharga sehingga ia memutuskan untuk menulis sebuah buku mengenai hal tersebut. Untuk sementara buku itu akan diberi judul “A Book of Hope” (Sebuah Buku Mengenai Harapan), dimana Bapak Ahmed bertujuan untuk mengilustrasikan rasa terima kasihnya yang sangat mendalam untuk dukungan yang diberikan oleh keluarganya dan juga untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa kanker dapat dikalahkan; bahwa mereka harus memiliki harapan.

Ketika kemoterapinya selesai pada bulan Agustus 2011, Bapak Ahmed kembali ke Bangladesh. Menuruti saran dari Dr Teo untuk menjalani hidup yang tidak terlalu stress, ia meninggalkan pekerjaannya di sebuah perusahaan manufaktur dan memulai perusahaan konsultannya sendiri yang membantu perusahaan-perusahan dimana ia kini dapat memiliki waktu istirahat yang lebih banyak.

Didasari oleh keinginan yang mendalam untuk melihat orang lain berhasil melawan kanker, Bapak Ahmed mendirikan Bangladesh Cancer Aid Foundation atau BANCAF (www.bancaf.org) pada tahun 2011.

Yang mendorong dibentuknya yayasan ini adalah sebuah kliping surat kabar yang ia lihat dalam penerbangannya kembali ke tanah airnya.

“Terdapat sebuah pemberitahuan kecil dalam surat kabar tersebut,” cerita Bapak Ahmed. “Seorang gadis muda meminta bantuan dana untuk memerangi leukemia yang persis sama dengan jenis yang saya baru saja sembuh daripadanya.” Sebagai seorang pria yang sangat spiritual, ia tidak menganggap hal tersebut hanya sebagai suatu kebetulan. Jadi, ia pun mulai berbicara kepada teman-temannya, meminta sumbangan, dan akhirnya, ia berhasil menggalang dana yang cukup untuk membeli obat-obatan yang dibutuhkan oleh gadis tersebut untuk keperluan pengobatannya selama satu tahun.

“Sekarang ia telah menikah dan memiliki seorang anak!” ujarnya

Didorong oleh hal ini, Bapak Ahmed semakin berusahan keras melobi untuk memperoleh sumbangan bagi yayasannya. Setelah empat tahun, ia berhasil menggalang dana sebesar BDT3,3 juta (Taka Bangladesh) – kurang lebih S$60.000, dan telah membantu sejumlah pasien kanker di negaranya. Ingin semakin memajukan BANCAF, ia membawa orang-orang yang berpikiran serupa masuk ke dalamnya, dimana banyak dari orangorang tersebut telah dipengaruhi oleh kanker secara tidak langsung.

Bapak Ahmed dan timnya yang berjumlah 29 orang berencana untuk mengembangkan BANCAF secara nasional. Tujuan mereka termasuk untuk mempromosikan kesadaran dan pencegahan kanker serta layanan dukungan perawatan kanker di seluruh pelosok negaranya.

Ia menjelaskan: “Kami sedang membicarakan dengan orang-orang dari negara bagian yang lain dan berharap mereka akan dapat menciptakan timnya sendiri di dalam komunitasnya. Kami akan mengirinkan dana dan obat-obatan ketika mereka pertama kali diluncurkan, namun kami berharap mereka akan terus berkembang dan pada akhirnya dapat menopang diri mereka sendiri.”

Kini Bapak Ahmed menjadi seorang pembicara public dan konselor, melayani para pasien dan komunitas kanker di Bangladesh.

Charmaine Ng   



Tags: