Memperpanjang usia

Berkat obat-obat baru yang menghambat pertumbuhan sel-sel kanker, seorang pasien kanker dapat bertahan hidup.

Saat itu tepat setelah Hari Tahun Baru 2014, Ibu Kok, seorang wanita Cina berusia 41 tahun, mulai merasakan tidak nyaman di dadanya dan sesak napas. Ia merasa ada yang tidak benar, karena ketika berjalan jarak dekat saja membuatnya tersengal-sengal dan jantungnya berdebar.

Ia berobat ke sebuah rumah sakit di Singapura dan segera dirawat inap untuk pengobatan lebih lanjut. Dokter yang menanganinya menemukan bahwa udara tidak dapat masuk dengan baik ke sisi kiri dadanya. Hasil pemeriksaan rontgen dada menunjukkan bahwa rongga kiri dadanya dipenuhi cairan, sehingga paru kiri tidak dapat mengembang.

Segera setelah masuk rawat inap, sebuah selang dengan cepat dimasukkan ke dalam dadanya dan cairan pun dikeluarkan. Hampir seketika itu juga ia merasa lega.

Namun kegembiraannya hanya sekejap saja – beberapa hari kemudian, dokter paru menjelaskan bahwa ia menderita kanker paru stadium lanjut. Karena kanker telah menyebar hingga ke pleura (lapisan dalam dinding dadanya), operasi tidak dapat dilakukan.

Ia diberitahukan bahwa kanker hanya dapat disembuhkan bila terdiagnosis sebagai penyakit Stadium 1 atau Stadium 2. Begitu penyakit ini telah menyebar hingga ke pleura, maka kanker tidak dapat disembuhkan.

Terkejut menerima kabar buruk ini, Ibu Kok, yang tidak pernah merokok seumur hidupnya, menjumpai saya untuk memperoleh opini kedua. Pemindaian PET-CT dilakukan dan hasilnya memperlihatkan adanya kanker di paru kiri dengan penyebaran ke pleura. Biopsi pada metastasis pleura menegaskan bahwa ia menderita suatu jenis kanker paru non-sel-kecil yang disebut sebagai adenokarsinoma.

Tidak ingin menunda pengobatan, Ibu Kok memulai rangkaian kemoterapi yang mengandung Gemcitabine dan Cisplatin. Setelah tiga kali kemoterapi, pemindaian PET-CT menunjukkan bawa kanker paru dan metastasis pada pleura telah mengalami perbaikan.

Sementara ia menjalani pengobatan, sampel biopsi dikirimkan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Pada tahun 2014, merupakan hal yang rutin untuk semua spesimen adenokarsinoma paru diperiksa apakah memiliki mutasi EGFR (epidermal growth factor receptor/reseptor faktor pertumbuhan epidermal) dan ALK (anaplastic lymphoma kinase/kinase limfoma anaplastik).

Selain kedua mutasi ini, kini ROS1 dan PD-L1 juga rutin diperiksa pada spesimen kanker paru.

Mutasi EGFR dapat dijumpai pada lebih dari 60 persen pasien yang menderita kanker paru non-sel-kecil. Sejauh ini mutasi tersebut merupakan yang paling umum dijumpai pada pasien kanker paru, sehingga dapat diberikan terapi terarah.

Obat-obatan ini, yang disebut sebagai penghambat tirosin kinase/tyrosine kinase inhibitors (TKI), telah terbukti efektif dalam mengobati pasien yang kankernya memiliki mutasi EGFR. Mutasi ALK dijumpai pada lima persen pasien yang menderita kanker paru non-sel-kecil. Seperti halnya EGFR, mutasi ALK merupakan “mutasi pengendali” yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan sel-sel kanker.

Cukup mengejutkan bagi saya, kanker paru yang diderita oleh Ibu Kok tidak memiliki mutasi EGFR yang umum, melainkan memiliki mutasi ALK.

TKI oral pertama yang tampaknya efektif melawan kanker paru yang positif ALLK adalah crizotinib (Xalkori). Setelah itu, ada dua lagi obat lainnya yang juga tampak sangat efektif – seritinib (Zykadia) dan alectinib (Alecensa).

Obat-obat ini mampu menghalangi protein ALK, sehingga menghambat pertumbuhan kanker dengan menghalangi sinyal yang memberitahukan sel-sel kanker untuk membelah diri.

Sejak bulan Juni tahun 2014, Ibu Kok mengonsumsi crizotinib dua kali sehari. Dengan pengobatan ini, kanker yang dideritanya tetap dalam keadaan remisi selama lebih dari empat tahun.

Ada banyak efek samping yang dihubungkan dengan penggunaan obat ini – rasa lelah, hilangnya nafsu makan, pusing, mati rasa atau kesemutan pada jari tangan dan kaki, edema (pembengkakan), dan sembelit.

Bagi Ibu Kok, efek samping yang dialaminya adalah rasa lelah dan retensi air. Efek samping ini sebagian dapat diatasi dengan penggunaan diuretik secara teratur.

Pada tahun 1988, ketika saya mulai mengikuti fellowship onkologi di MD Anderson Cancer Center, kami memiliki sebuah “klub jurnal” tidak resmi – dimana sekelompok dokter mendiskusikan temuan-temuan terbaru dari berbagai jurnal. Salah satunya adalah sebuah artikel yang membandingkan para pasien kanker yang diobati dengan kemoterapi atau yang memiliki “perawatan pendukung yang terbaik”.

Kesimpulan dari artikel tersebut adalah layak untuk mempertimbangkan pemberian kemoterapi kepada pasien yang menderita kanker paru stadium lanjut karena hal tersebut dapat membantu meningkatkan median masa hidup pasien dari 17 minggu menjadi 32 minggu.

Saat ini, Ibu Kok telah berada dalam kondisi remisi selama lebih dari 260 minggu!

Kita benar-benar telah mengalami banyak kemajuan dari tahun 1980-an. Sekitar separuh dari semua pasien yang memiliki mutasi EGFR atau ALK dapat berharap untuk terus hidup selama lima tahun atau lebih.

Kini, kita memahami bagaimana kanker dikendalikan oleh perubahan genetik dalam sel-sel dan dapat menciptakan obat-obatan yang dapat menghalangi para gen pengendali ini.

Ini berarti bahwa kita dapat mengendalikan pertumbuhan kanker paru dan yang paling penting adalah dapat memperpanjang hidup para pasien kanker paru, bukan saja dalam hitungan minggu, namun dalam hitungan tahun.

Dr Ang Peng Tiam



Tags: cara baru untuk mengobati kanker, infeksi paru, kisah dokter spesialis kanker, mutasi kanker, obat kanker, pengalaman dengan pasien kanker, terobosan terbaru dalam pengobatan kanker