Nyeri kanker: Mitos & fakta

Dr Kok Jaan Yang, Konsultan Senior dalam bidang Kedokteran Paliatif di Parkway Cancer Centre, membahas mengenai berbagai cara untuk meredakan nyeri pada pasien kanker.

Salah satu gejala yang mungkin dikhawatirkan oleh pasien kanker mengenai perjalanan kanker mereka adalah nyeri. Namun, ada banyak mitos seputar meredakan dan mengobati nyeri akibat kanker. Oleh sebab itu, pemahaman yang tepat mengenai nyeri akibat kanker dan tata laksananya dapat membantu pasien kanker untuk lebih fokus kepada pengobatan mereka dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas hidupnya.

Mitos 1: Semua pasien kanker sudah pasti akan menderita nyeri yang hebat akibat kanker.

Fakta: Tidak semua pasien yang menderita kanker stadium lanjut akan mengalami nyeri.

Banyak orang percaya bahwa semua pasien kanker akan menderita nyeri yang hebat akibat kanker. Namun hal ini tidaklah benar. Beberapa pasien yang menderita kanker stadium lanjut tidak mengalami nyeri. Pada kenyataannya, secara umum, hanya seperempat dari seluruh pasien yang menderita kanker stadium lanjut mengalami nyeri yang hebat akibat kanker, dan hanya persentase kecil yang mengalami nyeri yang sangat hebat akibat kanker. Seperempatnya mengalami nyeri yang sedang, seperempat yang lain mengalami nyeri yang ringan, dan seperempat lagi tidak mengalami nyeri sama sekali.

Mitos 2: Semua nyeri akibat kanker hanya dapat diatasi dengan morfin atau opioid kuat lainnya.

Fakta: Ada banyak bentuk obat-obatan lainnya untuk meredakan nyeri.

Dokter dapat memilih dari sejumlah besar obat-obatan Pereda nyeri tergantung kepada jenis dan keparahan nyeri yang dialami.

Sebagai contoh, untuk nyeri yang ringan dan sedang, digunakan parasetamol, obat-obatan anti-inflamasi non-steroid (AINS) dan opioid ringan seperti tramadol. Bila nyerinya hebat atau tidak dapat dikendalikan dengan obat-obatan tersebut, maka morfin atau opioid lainnya dapat digunakan.

Pada beberapa pasien kanker, mereka mungkin juga mengalami nyeri saraf, atau “nyeri neuropatik”, yaitu nyeri yang disebabkan oleh rusaknya serabut saraf tertentu akibat kanker. Jenis ini seringkali digambarkan sebagai nyeri yang menusuk, sensasi kesemutan, atau sensasi terbakar. Pada kasus seperti itu, diresepkan obat-obatan nyeri saraf seperti pregabalin dan gabapentin.

Mitos 3: Asupan morfin atau opioid kuat secara teratur untuk mengatasi nyeri akibat kanker dapat menyebabkan ketergantungan.

Fakta: Penggunaan morfin atau opioid kuat secara teratur dengan pengawasan yang tepat pada nyeri akibat kanker tidak menyebabkan ketergantungan. 

Pada kenyataannya, opioid digunakan sehari-hari dalam praktek kedokteran, misalnya pada saat dan setelah operasi untuk meredakan nyeri. Pasien kanker yang diresepkan morfin atau opioid kuat dengan petunjuk dari dokter yang berpengalaman dan diawasi dengan tepat, tidak akan mengalami ketergantungan.  

Ketika nyeri dapat diredakan dengan cara lain, contohnya setelah radioterapi untuk nyeri tulang akibat kanker, maka dosis morfin dan opioid kuat dapat sangat dikurangi atau baahkan dihentikan.

Mitos 4: Morfin atau opioid kuat lainnya memiliki efek samping yang tidak dapat ditoleransi.

Fakta: Efek samping yang umum dari opioid kuat meliputi rasa mengantuk, mual, muntah dan sembelit. Namun, efek samping ini dapat diatasi dengan mudah.

Rasa mengantuk biasanya mulai timbul ketika pasien mulai diberikan morfin atau opioid kuat atau ketika dosisnya ditingkatkan. 

Biasanya keadaan ini akan membaik setelah beberapa hari. Bila tidak, dosis dapat dikurangi. Anda harus mendiskusikan hal ini dengan dokter Anda setelah dilakukan pemantauan respons Anda terhadap obat tersebut.

Mual dan muntah biasanya mempengaruhi hanya satu dari tiga pasien yang diberikan morfin atau opioid kuat. Ini dapat diatasi dengan obat anti-muntah seperti metoklopramid atau domperidone.

Sembelit dapat diatasi dengan mudah dengan asupan cairan yang lebih banyak dan menggunakan pencahar yang umum seperti senokot dan laktulosa. Pada sembelit parah yang disebabkan oleh opioid, dapat diresepkan obat kombinasi opioid-nalokson.



Tags: efek samping yang umum dari pengobatan kanker, kesalahpahaman, kualitas hidup pasien kanker, pengelolaan nyeri akibat kanker