Terserang tumor Wilms pada usia dini, anak-anak ini berjuang melawan kanker dengan gagah berani. Dengan bantuan dari para dokter di Parkway Cancer Centre, mereka bertahan – dan keluar sebagai pemenang.

Usaha untuk sembuh

Tisha Emmanuella, Indonesia

Kejadiannya adalah dua hari sebelum ulang tahunnya yang pertama pada bulan April tahun 2009.

Tisha bahkan belum berusia satu tahun ketika ia didiagnosis menderita tumor Wilms. Ia telah jatuh sakit selama beberapa hari, dan dokter anak yang merawatnya berpikir bahwa ia mengalami gangguan pada lambung. Namun Toety, ibunya, merasa bahwa ini bukanlah gangguan lambung.

“Setiap kali ia makan, ia muntah,” kenangnya. “Saya membawanya ke rumah sakit dan memberitahukan dokternya bahwa pasti ada yang salah dengan perutnya, dan ia membutuhkan pemindaian ultrasonografi.”

Benar saja, pemindaian menemukan adanya tumor Wilms pada ginjal kanan Tisha. Ia dirujuk ke Dr Chui Chan Hon dan Dr Anselm Lee di Singapura, dimana operasi segera dilakukan setelah itu. Tidak lama setelahnya, Toety menerima pelajaran pertama dari banyak pelajaran mengenai bagaimana cara untuk membantu putrinya sembuh.

“Saya masih ingat perawat yang bernama Pearlyn menyarankan saya untuk membawa Tisha berjalan lima kali sehari demi kesembuhannya,” ujarnya.

Tisha menjalani kemoterapi, yang menyebabkan rambutnya rontok, namun ia sembuh. Kini berusia sembilan tahun, ia bersekolah, dan menurut ibunya, ia suka menari, bernyanyi, dan menggambar. Pengobatan tidak mempengaruhi kegiatan Tisha, ujar Toety, meskipun ia merawat putrinya dengan lebih hati-hati karena ia hanya memiliki satu ginjal.

“Ia harus menjalani hidup yang sehat karena saya tidak mau tumornya kembali lagi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa mengenal orang tua lain yang mengalami situasi yang sama membantu mereka dalam menghadapi kanker yang diderita oleh Tisha.

“Satu-satunya cara yang dapat kami lakukan adalah melakukan usaha untuk memperoleh kesehatan yang baik,” ujarnya. “Kami juga mendorong anak-anak untuk belajar mengenai bagaimana cara menyiapkan makanan yang sehat.”

Anakku, sang pejuang

Ralph Ong, Singapura

Ralph adalah seorang bayi yang sehat yang tidak menunjukkan tanda-tanda adanya penyakit yang serius hingga suatu hari pada tahun 2016, ketika Sandy, ibunya, menggendongnya dan menemukan ada benjolan yang keras di bawah tulang rusuknya. Ketika benjolan tersebut bertambah besar, Sandy memutuskan membawanya untuk diperiksa oleh dokter.

Pemindaian ultrasonografi memperlihatkan adanya sebuah massa yang besar pada ginjal kanan Ralph, dan ia didiagnosis menderita tumor Wilms Stadium 2. Satu minggu kemudian, operasi dilakukan untuk membuang ginjal tersebut, dan Ralph diberikan rangkaian kemoterapi selama 19 minggu, yang diberikan melalui suntikan.

Untunglah efek sampingnya tidak drastis. “Kami harus sangat sabar dalam memastikan bahwa ia makan dengan cukup,” kenang Sandy. Dan ketika rambutnya rontok dalam beberapa minggu terakhir pengobatan, ayah Ralph membotaki kepalanya sendiri agar Ralph merasa lebih baik. Anak yang berusia satu tahun itu tidak dapat masuk kelompok bermain karena kekebalan tubuhnya sangat rendah, dan orang tuanya menghindari membawanya ke tempat-tempat yang ramai.

Kini Ralph berusia empat tahun dan duduk di taman kanak-kanak. Sandy mengatakan bahwa yang membantu keluarganya melalui perjalanan ini adalah bergabung dengan kelompok dukungan secara online. “Saya mendapatkan banyak dukungan dari orang di seluruh dunia karena mereka juga memiliki kegelisahan, pertanyaan, dan kekhawatiran yang sama dengan saya,” ujarnya. Ia juga menganjurkan para orang tua untuk “menanyakan banyak hal kepada dokter guna menghilangkan segala keraguan Anda”, dan untuk mempersiapkan anak-anak mereka terhadap apa yang akan dihadapi berikutnya sehingga mereka tahu apa yang dapat mereka harapkan.

“Kuatlah untuk anak Anda dan menangkan pertempuran melawan kanker,” ujarnya. “Saya akan mengatakan kepada anak bahwa ia adalah seorang pejuang, lalu Ibu dan Ayah akan memenangkan pertempuran ini bersama dengannya sebagai sebuah tim.”

‘Bertahanlah, sayang!’

Anna Drokova, Rusia

Ketika Anna berusia sekitar 18 bulan, orang tuanya melihat perutnya tampak lebih besar di sisi kiri. Menduga ada sesuatu yang tidak beres, mereka membawanya ke dokter, yang kemudian  memberikan kabar buruk: Anna menderita nefroblastoma, atau tumor Wilms. Pemindaian CT dan aspirasi sumsum tulang belakang dilakukan, yang kemudian dikonfirmasikan bahwa gadis ini menderita nefroblastoma Stadium 3 pada ginjal kirinya.

Dokter segera memberikan Anna empat siklus kemoterapi, kemudian membuang ginjal kirinya, dan menindaklanjuti operasi dengan 11 siklus kemoterapi lagi. Secara keseluruhan, pengobatannya memakan waktu enam bulan. Itu adalah masa yang berat bagi gadis kecil ini. Pengobatan mempengaruhi nafsu makannya, membuat rambutnya rontok, dan membuatnya sangat lelah. Ia juga tidak dapat pergi ke luar karena adanya risiko terkena infeksi.

Itu terjadi pada tahun 2012. Kini, Anna adalah seorang gadis sehat dan normal berusia delapan tahun yang duduk di bangku sekolah dasar. Kesembuhannya telah mengubah pandangan hidup kedua orang tuanya. “Kami mulai menghargai hidup dan bertindak dengan lebih penuh kesadaran,” ujar ibunya, Elena. Dan ketika mereka melihat anak lain menderita kanker seperti itu, mereka mencoba untuk mendorong orang tua mereka untuk berpegang teguh pada harapan bahwa anak mereka akan sembuh, sama seperti Anna.

“Pengobatan merupakan masa yang panjang dan sulit bagi orang tua, namun kita harus fokus pada hasil yang baik dan berjuang untuk anak kita tanpa peduli apapun yang akan terjadi,” ujar Elena. “Saya akan mengatakan kepada anak, ‘Bertahanlah, sayang! Kamu harus melaluinya agar dapat melihat dunia yang besar dan cemerlang. Kamu harus melihatnya!’ ”

Harapan di Singapura

Polina Gerasimova, Rusia

Tanda pertama bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Polina muncul pada ulang tahunnya yang kedua, pada bulan Mei tahun 2010. Meskipun itu adalah hari bahagianya, gadis cilik yang berusia dua tahun itu tidak mau makan, tampak sedih, dan terus-menerus menunjuk ke arah perutnya. Sebelum kejadian ini, Polina tidak pernah sakit.

Keesokan harinya, kondisinya memburuk dan orang tuanya menyadari bahwa ia mengalami nyeri pada daerah perut. Mereka membawanya ke rumah sakit, dimana dokter memberi tahu mereka bahwa Polina memiliki tumor di dalam perutnya.

Laparotomi darurat dilakukan, dan ia diberikan kemoterapi selama tiga bulan.

Namun kondisinya tidak tampak membaik, sehingga orang tuanya memutuskan membawanya ke Singapura untuk menemui Dr Anselm Lee.

Di Singapura, Polina menjalan operasi lagi yang kemudian diikuti dengan terapi radiasi. Terapi ini memerlukan Polina untuk tidak bergerak, namun tidaklah mungkin menjelaskan hal ini kepada seorang anak berusia dua tahun, oleh sebab itu Polina diberikan sedasi.

Meskipun pengobatan memberikan harapan kepada orang tua Polina, mereka harus menghadapi beberapa ketakutan. Setelah radioterapi, perut putri mereka mulai bertambah besar karena retensi cairan, dan ia tidak dapat bernapas dengan normal karena perutnya menekan rongga dada. Ia juga tidak dapat berdiri karena terlalu lemah.

“Itu adalah periode yang sangat buruk,” ujar Alyona, ibunya, “ia bahkan tidak dapat berbaring dengan nyaman. Itulah kehidupan kami selama sekitar dua bulan.”

Polina juga mengalami beberapa infeksi akibat kekebalan tubuhnya yang rendah, yang mengakibatkan dirinya dilarikan ke rumah sakit beberapa kali.

“Saya sangat takut,” kenang Alyona. “Demamnya sangat tinggi sampai-sampai Dr Lee harus datang menemui kami walaupun saat itu tengah malam. Satu kali, Polina menjalan rontgen dada di dalam kamarnya karena risiko pneumonia.”

Meski demikian, sekitar tujuh bulan kemudian, pemindaian CT menunjukkan bahwa Polina sudah sehat.

“Kami dapat pulang kembali ke rumah dan menjalani hidup kami dengan gembira!” seru ibunya.

Kini Polina berusia 10 tahun, bersekolah, dan tidak memiliki larangan apapun dalam gaya hidup. “Ia suka menari, melukis, dan menyanyi,” ujar ibunya.

‘Anak kita sekarat’

Emily Uzhegova, Rusia

Itu adalah satu-satunya yang dapat dikatakan oleh ibunda Emily ketika ia menelepon suaminya untuk memberitahukannya mengenai diagnosis dokter untuk bayi mereka yang berusia 16 bulan.

Emily menderita tumor Wilms (atau nefroblastoma bilateral) – tumor pada kedua ginjal; ini sama sekali tidak diduga oleh orang tuanya ketika membawanya ke dokter setelah ia terus-menerus terserang demam dan kehilangan nafsu makan pada bulan September tahun 2012. Perut gadis cilik ini juga bertambah besar, dan mereka menyadari adanya bau yang keluar dari mulutnya.

Para dokter di Rusia, dimana mereka tinggal, menjabarkan rencana pengobatan untuk Emily. Obati tumor Wilms dengan kemoterapi dulu, dan bila ini tidak berhasil, maka kedua ginjal harus dibuang dan diikuti dengan transplantasi.

Ketika Emily memulai kemoterapi, orang tuanya mencari pilihan pengobatan lain di luar negeri, dan pada akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Singapura guna menemui Dr Anselm Lee.

Di sini, Dr Lee menyarankan biopsi, kemoterapi pra operasi selama enam minggu, dan operasi, dengan kemungkinan untuk dilakukan radioterapi dan kemoterapi lagi.

Kabar buruk kembali datang saat operasi dilakukan pada pertengahan November. Dokter bedah mencoba untuk menyelamatkan semaksimal mungkin ginjal Emily, namun ia menemukan sel-sel tumor pada bagian tepi reseksi, yang artinya masih ada sel-sel kanker di dalam tubuh Emily.

Setelah operasi, Emily mengalami tekanan darah tinggi karena adanya masalah pada pembuluh darah pada ginjalnya, yang membutuhkan operasi lagi. Dokter bedah mengambil kesempatan ini untuk mengambil lebih banyak jaringan ginjal, guna memastikan bahwa tidak ada lagi sel-sel kanker pada bagian tepi. Emily kemudian diberikan enam sesi radioterapi untuk menargetkan sel-sel kanker yang mungkin masih tertinggal. Orang tuanya juga diyakinkan bahwa ini tidak akan mempengaruhi kemampuan Emily untuk menjadi seorang ibu di masa yang akan datang.

Meskipun efek samping pengobatan, termasuk muntah dan rasa lelah, cukup menantang, salah satu hal yang paling berat untuk dikendalikan adalah emosinya, ujar orang tuanya. Ia merindukan kedua saudaranya, yang tetap berada di Rusia.

“Setiap hari, ia berbicara kepada mereka melalui Skype dan mereka semua menangis,” kenang ibunya. “Sangat menyedihkan melihat kakak-beradik harus terpisah. Ia mendapat beberapa teman di Singapura, namun pengobatan membuatnya sangat cepat lelah. Selain itu, karena kekebalan tubuhnya yang rendah, ia tidak dapat bermain dengan anak-anak lain seperti yang ia inginkan.”

Meski demikian, Emily sembuh dengan baik, dan kini, sulit untuk mengatakan apa yang telah ia lalui – kini berusia tujuh tahun, ia sangat mudah bergaul, ingin tahu, dan banyak bicara. Namun, ia memiliki beberapa keterbatasan dalam diet dan kegiatannya. Pada bulan Juli tahun 2018, setelah lima tahun menjalani perawatan lanjutan, ia pun sepenuhnya selesai dengan perawatannya.

Orang tuanya telah belajar untuk menghargai setiap saat yang mereka miliki dengan anak-anak mereka.

“Ketika bayi Anda sakit, semua dalam hidup menjadi terbalik,” ujar ibunya. “Terutama ketika Anda tahu bahwa pengobatan hanyalah awal dari perjalanan. Namun Anda juga tahu bahwa masih ada masa depan. Ketika Emily meminta kami untuk bermain dengannya atau berenang, kami merasa seperti semua di sekitar kami berhenti sejenak, seolah menujukkan kepada kami bahwa hidup itu sangat rapuh dan tipis, namun kami akan melakukan semuanya untuk melihat bayi kami tersenyum.”



Tags: