Suatu disiplin ilmu dengan potensi yang besar

Keinginan untuk menyembuhkan orang dan lebih memahami mengenai kanker membuat Dr Richard Quek dari Parkway Cancer Centre berfokus kepada kanker seperti sarkoma, limfoma dan melanoma.

Mengapa Anda memutuskan untuk menjadi seorang dokter spesialis onkologi?

Ketika masih muda, saya ingin menjadi seorang dokter spesialis kulit.

Saya menderita eksim pada ibu jari kaki saya dan saya berobat ke beberapa dokter umum, namun mereka tidak dapat menyembuhkan saya. Salah seorang dari mereka bahkan mencoba untuk melepaskan bagian kulit tersebut dari kaki saya. Sakitnya luar biasa!

Akhirnya, ibu saya membawa saya ke seorang dokter spesialis kulit. Yang ia lakukan hanyalah mengoleskan krim dan menutupnya dengan plester. Tindakan sederhana tersebut mencegah terjadinya lecet dan rasa nyeri pun segera hilang. Jadi, cukup lama saya ingin menjadi seorang dokter spesialis kulit.

Pada akhirnya saya memilih onkologi karena saya merasa bahwa ini adalah suatu disiplin ilmu yang masih baru dan sedang berkembang, serta memiliki banyak potensi untuk penelitian.

Spesialisasi Anda adalah dalam bidang kanker yang relatif langka: sarkoma (kanker pada jaringan ikat), melanoma (sangat jarang dijumpai di Singapura) dan limfoma. Bagaimana ceritanya hingga akhirnya Anda berfokus pada kanker-kanker ini?

Ketika saya pertama kali terjun di dunia onkologi, yang paling memotivasi saya adalah menangangi pasien dengan kanker yang memiliki potensi untuk disembuhkan, seperti misalnya limfoma.

Para pasien limfoma ini umumnya masih muda dengan banyak hal yang masih dapat dicapai di masa depan, pengobatan mereka cenderung sangat agresif, dan ditambah dengan karakteristik penyakit mereka yang dapat disembuhkan, semakin meningkatkan campuran yang memabukkan dari keringat, kerja keras dan rasa memiliki tujuan dalam pekerjaan saya, yang saya nikmati sepenuhnya. Dan ini membawa saya ke jalur limfoma, selalu mencari pengobatan, pada pasien-pasien saya.

Pada saat itu, datanglah sebuah kesempatan. Departemen tempat saya bekerja memiliki kekurangan dalam bidang sarkoma. Meskipun kami memiliki dokter ahli bedah yang andal dalam mengoperasi sarkoma, pemahaman mengenai penyakit ini dan bidang onkologi medis dalam sarkoma masih sangat sedikit.

Keberuntungan pun datang, seorang Profesor Tamu yang terkenal dari Dana-Farber Cancer Institute/Harvard Cancer Center di Boston datang ke Singapura untuk memberikan kuliah mengenai sarkoma dan saya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan beliau pada jamuan makan malam di restoran The Halia di Botanic Gardens.

Saya berhasil meyakinkan beliau untuk menjadikan saya fellow di institusinya dan saya bersyukur dapat memperoleh beasiswa untuk menjalani pelatihan tingkat lanjut dan penelitian di bidang sarkoma tulang dan jaringan ikat di Dana-Farber. Penelitian tersebut sangat produktif sampai-sampai saya menghabiskan tahun kedua di Boston untuk menyelesaikan pekerjaan saya.

Sedangkan untuk melanoma, jalan saya ke situ sebenarnya tidak disengaja.

Ini terjadi sekitar tahun 2010 setelah saya kembali dari fellowship yang saya jalani selama dua tahun. Meskipun pengobatan medis untuk sarkoma/limfoma sangat berbeda dari melanoma, pada kenyataannya, para dokter spesialis bedah yang melakukan operasi pada sarkoma dan melanoma adalah kelompok dokter yang sama. Dan mereka secara teratur akan mempresentasikan kasus-kasus melanoma yang baru dalam panel tumor sarkoma kami, yang pada akhirnya memaksa saya untuk mempelajari sendiri topik tersebut karena saya adalah satu-satunya dokter spesialis onkologi medis dalam panel tumor tersebut pada saat itu!

Hal lain yang juga membuat saya tertarik pada melanoma adalah banyaknya informasi ilmiah yang baru mengenai penyakit ini pada saat itu, yang membawa kita kepada paradigma pengobatan kanker yang baru, bukan hanya dalam bidang melanoma, namun dalam seluruh dunia kanker – yaitu imunoterapi.

Anda telah menjadi seorang dokter spesialis onkologi selama lebih dari sepuluh tahun. Bagaimana Anda menghadapi kepergian para pasien?

Kelompok pasien yang paling membuat saya sedih adalah mereka yang saya coba untuk sembuhkan. Mereka telah diberikan pengobatan dan kemudian kambuh lagi. Itu sangat menyedihkan dan menjadi terasa lebih sulit bila pasiennya masih muda.

Saya menjumpai cukup banyak pasien seperti itu karena banyak orang muda yang berada pada akhir masa remajanya dan berusia di awal 20-an yang terserang sarkoma dan limfoma.

Salah satu hal yang saya rasa harus saya lakukan adalah membentuk kelompok dukungan bagi para pasien sarkoma di Singapura, khususnya bagi para remaja dan orang dewasa muda yang menderita sarkoma. Saya menggalang dana dan mendapatkan rumah bagi kelompok ini. Selain penggalangan dana, saya juga membantu untuk membuat program kelompok dukungan dan turut serta dalam seminar-seminar bila dibutuhkan.

Anda adalah pendiri Singapore Sarcoma Consortium dan Asian Sarcoma Consortium. Bagaimanakah pentingnya kedua organisasi ini?

Ketika saya pertama kembali ke Singapura setelah fellowship, ada tiga hal yang saya rasa penting yang ingin saya lakukan – untuk memberikan perawatan medis yang modern bagi para pasien, untuk meningkatkan kesadaran mengenai sarkoma di Singapura, dan untuk membangun kerja sama serta penelitian dalam bidang sarkoma di Singapura dan di luar negeri.

Sarkoma itu langka, dengan demikian penting untuk mengumpulkan semua sumber daya, dan itulah sebabnya mengapa saya membentuk Singapore Sarcoma Consortium.

Setelah ini terbentuk, kami menciptakan Asian Sarcoma Consortium, sehingga berbagai institusi di Singapura, Malaysia, Thailand, Myanmar, Filipina, Hong Kong, Taiwan dan Jepang dan bersama-sama memfokuskan diri pada penelitian dan pendidikan dalam bidang sarkoma.

Berkat konsorsium ini, kami dapat menyelesasikan salah satu penelitian angiosarcoma terbesar di dunia, dengan 423 pasien, dari kerja sama delapan institusi di enam negara. Angiosarkoma adalah subtipe sarkoma yang sangat langka, hanya melalui kerja sama internasional yang kuatlah kami dapat bersama-sama mengumpulkan semua sumber daya dan data untuk meneliti penyakit ini.

Impian besar kami adalah untuk menjalankan penelitian lintas negara, namun ini bukanlah hal yang mudah karena tiap negara memiliki peraturan yang berbeda. Butuh waktu untuk mengatasi hambatan yang berhubungan dengan peraturan-peraturan tersebut.

Tolong cerita sedikit kepada kami mengenai diri Anda, keluarga Anda dan apa yang Anda lakukan saat bersantai.

Saya berusia 45 tahun, istri saya adalah seorang ibu rumah tangga dan saya memiliki dua orang anak: seorang anak perempuan yang berusia tujuh tahun dan seorang anak laki-laki yang berusia dua tahun.

Anak perempuan saya saat ini duduk di kelas 1 SD, dan tugas saya adalah untuk mengajarinya Matematika dan bahasa Mandarin, sementara istri saya mengajari bahasa Inggris. Ketika saya tiba di rumah pada malam hari, banyak waktu yang saya gunakan untuk mengajarkan Hanyu Pinyin kepada anak perempuan saya. Dalam setengah tahun pertama, itu adalah mimpi buruk, namun kini sudah banyak perbaikan. Kami berdua sama-sama belajar!

Pada akhir pekan, kami sekeluarga makan malam di luar. Saya juga bersepeda dan berenang bersama anak perempuan saya.

Untuk bersantai, saya membaca berita. Saya membaca New York Times dan saya juga mengikuti dunia sepak bola (saya adalah seorang penggemar Manchester United). Saya juga merasa santai ketika memikirkan mengenai pekerjaan saya. Saya memikirkan mengenai masalah-masalah yang sulit, mencoba untuk menemukan jawabannya. Saya sama sekali tidak merasakannya sebagai suatu tugas.

Namun, saya tidak menonton film. Saya tidak pernah pergi ke bioskop sejak tahun 2010, ketika saya pulang dari fellowship. Satu-satunya waktu saya menonton film adalah ketika saya berada di pesawat terbang.

Jimmy Yap



Tags: kanker yang langka, kisah dokter spesialis kanker, sarkoma