Panggilan untuk melayani

Dr Lee Kim Shang menjadi seorang dokter ahli onkologi radiasi berkat serangkaian peristiwa yang tak dapat dipercaya.

Dapatkan Anda menceritakan kepada kami mengapa Anda memilih untuk menjadi mengambil spesialisasi di bidang onkologi radiasi?

Sesungguhnya pada awalnya saya ingin menjadi seorang dokter ahli bedah, namun selama menjalani stase bedah, di akhir hari saya mengalami migrain, mungkin akibat cahaya yang sangat terang di ruang operasi.

Akibatnya, saya harus memikirkan alternatif lain. Saya mempertimbangkan beragam pilihan, termasuk kedokteran keluarga. Suatu hari, tanpa sengaja, saya mendengar percakapan antara seorang teman dengan senior saya. Istilah “terapi radiasi” disebutkan dalam pembicaraan tersebut dan hal itu membangkitkan sesuatu di dalam diri saya.

Pada saat itu, sangat sedikit yang saya ketahui mengenai disiplin ilmu tersebut. Hanya ada lima kuliah mengenai hal tersebut di fakultas kedokteran, namun dosennya sangat membosankan, sehingga saya hanya menghadiri kuliah yang pertama dan kemudian melewatkan sisanya.

Meski demikian, saya memutuskan untuk memberikan kesempatan bagi onkologi radiasi dan mencoba untuk mendapatkan stase yang berkaitan dengannya. Pada saat itu, hanya ada satu pusat radiasi di Singapura, yaitu di Singapore General Hospital. Ketika saya mengajukan permohonan untuk menjalani stase di sana, saya diberi tahu bahwa tidak ada lowongan.

Biasanya saya akan menerima saja hal itu, namun ada sesuatu yang membuat saya memutuskan untuk berusaha lebih keras.

Saya menelepon kepala departemen tersebut, yaitu almarhum Dr Tan Ban Cheng, dan ia mengatakan kepada saya, “Bagaimana kalau kamu datang ke klinik saya dan duduk bersama saya pada hari-hari dimana kamu tidak bertugas jaga di IGD?”

Pada saat itu, saya sedang menjalani stase IGD di Tan Tock Seng Hospital. Ketika saya tidak sedang bertugas jaga pada pagi hari, saya pergi ke klinik Dr Tan dan ia berbaik hati memperkenalkan saya dengan terapi radiasi.

Begitulah kisahnya bagaimana pada akhirnya saya memperoleh posisi sebagai seorang peserta didik dalam terapi radiasi.

Apa yang terjadi setelah itu?

Saya menjalani pelatihan di St Bartholomew’s Hospital di London dari tahun 1990 hingga 1992 dan setelah saya kembali, saya bekerja di National Cancer Centre (NCC) hingga tahun 2003. Pada tahun 2004, saya bergabung dengan Parkway Cancer Centre dan saya masih berada di sini hingga saat ini.

Selain di St Bartholomew’s, saya juga menjalani pelatihan subspesialisasi di unit neuro-onkologi di Royal Marsden Hospital di Inggris pada tahun 1996.

Pengalaman di Inggris sangat bermanfaat dalam mempersiapkan karier saya karena di sana Anda dapat menjumpai lebih banyak pasien dari yang dapat Anda jumpai di Singapura.

Selain itu, pada tahun-tahun awal saya bergabung di NCC, ada suatu masa dimana Dr Tan kurang sehat dan ia harus mengambil cuti panjang. Pada akhirnya saya mengambil alih kliniknya dan bertanggung jawab merawat pasien-pasiennya. Hal tersebut membantu saya untuk memperoleh pengalaman dengan sangat cepat.

Bagaimanakah keseharian Anda di Parkway Cancer Centre?

Saya mulai bekerja pada pukul 7 pagi, yaitu ketika saya mengkaji rencana pengobatan, menyetujuinya, atau menyusun target. Itu adalah waktu yang terbaik untuk melakukan hal-hal tersebut karena tidak ada orang di sekitar Anda dan hanya ada sedikit hal yang dapat mengalihkan perhatian Anda.

Saya memulai klinik pada pukul 8 pagi dan mengakhirinya sekitar pukul 5.30 atau 6 sore. Selama waktu tersebut, saya berjumpa dengan pasien-pasien konsultasi baru dan lanjutan. Saya juga berjumpa dengan pasien-pasien yang datang untuk pengobatan.

Biasanya saya makan siang dengan cepat dalam waktu setengah jam, dimana kopi merupakan suatu keharusan.

Setelah klinik selesai, saya akan ke atas untuk memeriksa pasien-pasien rawat inap. Kemudian saya kembali ke kantor untuk mengkaji rencana-rencana pengobatan sebelum pulang ke rumah pada hari tersebut.

Dengan jadwal yang padat, bagaimana cara Anda menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan?

Ketika saya tiba di rumah, dan saat akhir pekan, saya menghabiskan waktu bersama istri dan ketiga putri saya. Karena putri saya sekarang semuanya sudah berusia 20-an, maka semakin sering saya menghabiskan waktu hanya dengan istri saya. Kami hanya bersantai sambil menikmati kopi atau bersama-sama menonton drama Korea kesukaan istri saya.

Hari Minggu biasanya adalah waktu untuk ke gereja. Istri saya dan saya bersama-sama melayani di gereja kami.

Dokter dapat menjalin hubungan yang erat dengan pasien-pasiennya, khususnya bila Anda mengobati mereka dari waktu ke waktu. Namun tidak semua orang berhasil diobati. Bagaimana Anda menghadapinya ketika Anda kehilangan pasien?

Kehilangan pasien bukanlah hal yang mudah. Kehilangan pasien terasa lebih berat ketika hal tersebut tak terduga. Namun saya telah belajar untuk terus berjalan. Saya telah belajar untuk menerima kehidupan dan kematian karena keyakinan saya sebagai seorang Kristen, bahwa ada sebuah elemen keabadian dalam kehidupan ini.

Selain itu, menyadari bahwa saya adalah sebuah saluran bagi Tuhan untuk menyembuhkan atau meringankan, juga membuatnya menjadi lebih mudah bagi saya.

Bagaimana masa depan onkologi radiasi?

Pengobatan terapi proton akan hadir di Singapura dalam waktu satu hingga dua tahun yang akan datang. Ini akan menjadi hal yang sangat menarik. Dengan terapi proton, Anda harus sangat tepat dalam membuat target. Terapi ini menghantar radiasi dengan sangat tepat dalam suatu area yang spesifik, namun di luar tersebut, dosisnya tak berarti. Ini berarti bahwa Anda dapat menyelamatkan jaringan normal, namun juga berarti bahwa Anda harus sangat akurat. Terapi ini dapat tak kenal ampun.

Ada beberapa teknologi lain yang menarik yang sedang dikembangkan, namun mereka masih berada pada tahap yang sangat awal. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, namun dalam waktu lima tahun lagi, semoga kita sudah dapat melihat teknologi baru yang menawarkan pengobatan yang lebih cepat dan lebih baik bagi para pasien.

Apakah ada yang ingin Anda sampaikan kepada para pasien atau masyarakat mengenai terapi radiasi?

Ada dua hal: Yang pertama adalah terapi radiasi itu aman bagi orang-orang yang berada di sekitar pasien.

Banyak orang yang berpikir bahwa ketika pasien keluar dari ruang pengobatan, mereka akan berpendar. Mereka pikir pasien menjadi radioaktif dan berbahaya bagi orang-orang di sekitar mereka.

Terapi radiasi adalah salah satu pilar utama pengobatan kanker. Banyak teknik radiasi yang digunakan tidak membahayakan orang-orang di sekitar pasien.

Ada beberapa perkecualian: Terapi yodium radioaktif untuk kanker tiroid membuat seseorang menjadi radioaktif, sehingga pasien diisolasi selama kurun waktu tertentu hingga mereka aman, namun sebagian besar pemgobatan terapi radiasi tidak membuat seseorang menjadi radioaktif.

Hal kedua yang saya ingin orang tahu adalah efek samping terapi radiasi tidaklah sebesar yang dipikirkan oleh banyak orang.

Banyak orang beranggapan bahwa radiasi jauh lebih berbahaya daripada kenyataan yang sebenarnya. Tentu saja, bila tidak digunakan dengan tepat, terapi radiasi dapat menyebabkan banyak cedera permanen. Namun di masa kini, penghantaran radiasi sangatlah aman. Banyak proses terintegrasi yang akan mencegah terjadinya paparan yang tidak disengaja terhadap radiasi.

Dan meskipun ada efek samping, banyak efek samping yang tidak terlalu parah, dan efek samping jangka panjang seperti misalnya cedera otak atau cedera saraf lebih jarang terjadi karena kemajuan teknik yang dapat mengurangi dosis yang diterima oleh jaringan normal.

Selain itu, selama lebih dari 100 tahun terakhir, pengetahuan mengenai toleransi jaringan telah jauh lebih dipahami. Hal itu membantu kita untuk mengetahui dosis yang aman bagi organ-organ yang berbeda, sehingga terapi radiasi menjadi lebih aman.

Ada efek samping, namun semuanya sudah jauh lebih baik bila dibandingkan dengan ketika saya mulai praktik pertama kali. Kini, seluruh proses sudah jauh lebih maju dan lebih tepat. Pasien tidak perlu cemas bila diresepkan radiasi sebagai bagian dari terapi mereka.

Jimmy Yap



Tags: cara baru untuk mengobati kanker, efek samping yang umum dari pengobatan kanker, kisah dokter spesialis kanker, radioterapi (terapi radiasi)