Mengenal Kanker Kolorektal dengan Lebih Jelas


Dr Zee Ying Kiat dari Parkway Cancer Centre menjawab pertanyaan umum tentang salah satu kanker paling umum di Singapura.

Apa tren yang berkaitan dengan kanker kolorektal di antara pria dan wanita di Singapura?

Berdasarkan statistik dari Singapore Cancer Registry, kanker kolorektal adalah kanker paling umum yang dialami oleh para pria di Singapura, kedua setelah kanker payudara pada para wanita dalam periode 2011-2015.

Frekuensi kanker kolorektal yang terdiagnosis meningkat secara konsisten selama tiga dekade sejak 1971. Meski pun begitu, kanker kolorektal tidak mengalami peningkatan sejak pergantian abad ini. Sebanyak 5.383 pria dan 4.424 wanita didiagnosis menderita kanker kolorektal dari 2011-2015.

Kanker kolorektal adalah yang kanker terbanyak ke-dua setelah kanker paru-paru sebagai penyebab kematian terkait kanker pada pria Singapura dan berada di tempat ke-tiga setelah kanker payudara dan kanker paru-paru pada wanita Singapura. Namun, ada peningkatan dalam tingkat kelangsungan hidup orang dengan kanker kolorektal dalam beberapa tahun belakangan.

Siapa yang paling berisiko terkena kanker kolorektal?

Faktor risiko tunggal paling besar adalah usia – kemungkinan untuk mengidap kanker kolorektal meningkat seiring bertambahnya usia. Secara khusus, risiko ini meningkat tajam sejak seseorang menginjak usia 50 tahun. Faktanya, sekitar 90 persen kasus terdiagnosis pada orang berusia 50 atau lebih, dibandingkan dengan 0,5 persen kasus pada orang di bawah usia 30 tahun. Pria juga mempunyai risiko lebih tinggi terkena kanker kolorektal dibandingkan dengan wanita.

Individu dengan riwayat keluarga yang kuat akan kanker kolorektal berisiko lebih tinggi. Riwayat keluarga yang kuat biasanya berarti seseorang memiliki beberapa kerabat yang terdiagnosis menderita kanker usus, terutama jika mereka berada di keluarga dengan generasi yang berbeda. Ini juga dapat diartikan bahwa orang ini memiliki satu atau lebih kerabat yang didiagnosis menderita kanker pada usia sangat muda. Untuk memiliki riwayat keluarga yang kuat, kerabat yang terkena kanker kolorektal semuanya harus berasal dari sisi yang sama dari keluarga.

Orang dengan kondisi bawaan tertentu berisiko lebih tinggi terkena kanker kolorektal.

Kondisi-kondisi ini adalah familial adenomatous polyposis (FAP) dan kanker kolorektal non-poliposis herediter (HNPCC, juga disebut sindrom Lynch). Perubahan genetik yang terkait dengan FAP dan HNPCC meningkatkan risiko secara substansial bagi orang yang memilikinya, tetapi sangat jarang terjadi. Baik FAP dan HNPCC hanya bertanggung jawab untuk sekitar satu dari 20 kasus kanker kolorektal.

Mereka yang menderita kanker kolorektal di masa lalu memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker kolorektal kedua.

Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang menderita limfoma, kanker testis, atau kanker rahim (endometrium) memiliki peningkatan risiko mengidap kanker kolorektal. Hal ini diduga karena perubahan genetik atau bisa jadi efek dari pengobatan untuk kanker pertama.

Orang dengan pertumbuhan di usus besar, yang disebut polip (atau adenoma), berisiko lebih tinggi terkena kanker kolorektal. Meskipun polip tidak bersifat kanker, mereka dapat berkembang menjadi kanker dalam jangka waktu yang lama.

Faktanya, sebagian besar kanker kolorektal berkembang dari polip. Polip cukup umum terjadi, dengan sekitar satu dari empat orang memiliki setidaknya satu pada usia 50. Namun, hanya sebagian kecil polip berkembang menjadi kanker dan hal tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terjadi. Polip dengan lebar 1 cm memiliki kemungkinan satu dari enam untuk tumbuh menjadi kanker selama 10 tahun.

Adakah faktor gaya hidup yang menyebabkan kanker kolorektal?

Berbagai penelitian telah mengaitkan kanker kolorektal dengan faktor gaya hidup.

Ada bukti kuat dan konsisten bahwa memakan daging merah dan daging olahan meningkatkan risiko kanker kolorektal. Bukti adanya perlindungan yang diberikan oleh makanan kaya serat telah menguat dalam beberapa tahun terakhir dan secara keseluruhan, menunjukkan bahwa asupan serat makanan (terutama makanan yang berasal dari sereal dan biji-bijian) mengurangi risiko kanker kolorektal.

Obesitas dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal, terutama untuk pria. Penelitian telah menunjukkan bahwa dibandingkan dengan pria dengan berat badan sehat, pria yang kelebihan berat badan memiliki risiko kanker kolorektal sebanyak 23 persen lebih tinggi, dan pria gemuk memiliki risiko 53 persen lebih tinggi.

Studi terbaru menunjukkan bahwa orang yang lebih aktif secara fisik mempunyai risiko lebih rendah terkena kanker usus besar. Secara keseluruhan, bukti menunjukkan bahwa pria yang paling aktif dapat mengurangi risiko kanker kolorektal sebesar 19-28 persen dibandingkan dengan pria yang paling tidak aktif.

Asupan alkohol juga meningkatkan risiko kanker kolorektal, bahkan pada tingkat konsumsi yang moderat. Sebuah survei sistemik menemukan bahwa ada peningkatan 52 persen risiko kanker kolorektal dengan asupan harian tiga gelas anggur atau dua gelas bir atau lebih, dibandingkan dengan yang bukan peminum atau orang yang hanya minum alkohol sesekali.

Selain itu, merokok meningkatkan risiko kanker usus. Beberapa penelitian telah menemukan bahwa perokok aktif atau mantan perokok memiliki risiko kanker kolorektal sekitar 20 persen lebih tinggi daripada orang yang tidak pernah merokok. Risiko ini dilaporkan terus meningkat dengan jumlah rokok yang dihisap per hari.

Apa saja cara-cara untuk mencegah kanker kolorektal?

Sangat mungkin untuk mencegah kanker kolorektal.

Skrining kanker kolorektal secara teratur adalah salah satu senjata paling ampuh untuk mencegah kanker kolorektal. Polip yang bisa menjadi kanker bisa jadi ada dalam tubuh dan polip ini seringkali tanpa gejala berada di usus besar selama bertahun-tahun sebelum akhirnya berkembang menjadi kanker invasif. Skrining kanker kolorektal dapat menemukan polip prekanker sehingga bisa dihilangkan sebelum berubah menjadi kanker. Dengan cara ini, kanker kolorektal dicegah.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang dapat mengurangi risiko terkena kanker kolorektal dengan meningkatkan aktivitas fisik, mempertahankan berat badan yang sehat, mengonsumsi lebih banyak makanan berserat, membatasi konsumsi daging merah dan daging olahan, membatasi konsumsi alkohol dan menghindari merokok.

Bagaimana prognosis, perawatan, dan tingkat keberhasilan untuk berbagai tahapan dalam kanker kolorektal?

Langkah penting setelah diagnosis kanker kolorektal adalah menentukan stadiumnya. Stadium kanker mengacu pada sejauh mana kanker berada di dalam tubuh. Menentukan stadium kanker kolorektal didasarkan pada ukuran tumor, apakah kelenjar getah bening mengandung kanker dan apakah kanker telah menyebar dari posisi pertama kanker ke bagian lain tubuh (misal, hati). Stadium 1 kanker mewakili tahap kanker paling awal sementara Stadium 4 mewakili tahap paling ganas, di mana kanker telah menyebar ke bagian lainnya tubuh.

Berbagai jenis perawatan tersedia untuk pasien dengan kanker kolorektal. Secara umum, perawatan ini adalah:

  • Pembedahan
  • Kemoterapi
  • Radioterapi
  • Terapi terarah
  • Imunoterapi kanker

Jenis perawatan yang direkomendasikan akan tergantung pada beberapa faktor, termasuk stadium kanker dan kesehatan keseluruhan pasien. Singapura telah melihat tren peningkatan keseluruhan dalam tingkat kelangsungan hidup kanker kolorektal selama bertahun-tahun. Hal ini sebagian besar mencerminkan perbaikan dalam memahami, mencegah dan mengobati kanker kolorektal. Semakin dini kanker kolorektal terdiagnosis, semakin banyak peluang untuk bertahan hidup.

Mitos & fakta

MITOS: Tidak memiliki gejala bukan berarti tidak ada kanker.
FAKTA: Faktanya, lebih dari setengah orang yang terdiagnosis dengan kanker kolorektal tidak memiliki gejala.

MITOS: Terdiagnosis mengidap kanker kolorektal merupakan vonis mati.
FAKTA: Kesalahpahaman umum lainnya adalah bahwa mengidap kanker kolorektal adalah divonis mati. Yang benar adalah bahwa jika terdeteksi dini, peluang untuk bertahan hidup dari kanker kolorektal melebihi 90 persen. Bahkan dalam kasus yang paling parah di mana kanker telah menyebar ke bagian lain dari tubuh, terobosan dalam pengobatan membuat tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik.

MITOS: Memiliki polip di usus merupakan tanda mengidap kanker.
FAKTA: Yang benar adalah bahwa polip (atau adenoma) adalah tumor jinak. Polip memang memiliki potensi untuk berkembang menjadi kanker dalam jangka waktu yang lama, tetapi polip dapat dengan mudah dihilangkan selama pemeriksaan endoskopi usus besar, yang disebut kolonoskopi.



Tags: kanker kolorektal, kanker yang umum, kesalahpahaman, kolonoskopi, mencegah kanker, mengurangi risiko (terkena) kanker, obesitas dan kanker, polip yang bersifat kanker, riwayat kanker, skrining kanker