Dr Khoo Kei Siong, Wakil Direktur Medis di Parkway Cancer Centre, membahas mengenai bagaimana kanker dan pengobatannya dapat mempengaruhi kesuburan wanita.

Apakah saya dapat hamil setelah didiagnosis menderita kanker payudara? Banyak pasien muda menanyakan pertanyaan ini pada dokter, dan jawaban yang sederhana serta menenangkan adalah: “Ya”. 

Namun, kami akan menganjurkan para wanita untuk tidak terlalu cepat hamil setelah diagnosis tersebut. Merupakan hal yang bijaksana untuk mempertimbangkan memiliki anak setelah masa yang berisiko tinggi, dimana kanker lebih mungkin kambuh, berlalu.

Sebagian besar kanker yang berisiko tinggi kambuh dalam waktu tiga tahun pertama, oleh sebab itu dianjurkan untuk menunggu hingga satu atau dua tahun sebelum mencoba untuk hamil.

Meskipun selalu lebih baik untuk menyelesaikan semua pengobatan sebelum hamil, usia wanita dan pertimbangan lainnya mungkin membuat mereka tidak mungkin untuk menunda kehamilan selama bertahun-tahun.

Bagi para pasien yang menderita kanker payudara yang positif memiliki reseptor hormon, mereka perlu diberikan Tamoxifen selama lima hingga 10 tahun untuk mengurangi risiko terjadinya kekambuhan kanker payudara. Menunda kehamilan selama dua atau tiga tahun akan memberikan manfaat bagi mereka hingga taraf tertentu dari efek perlindungan Tamoxifen. 

Namun, pengobatan kanker dapat mempengaruhi kesuburan. Kemoterapi mengurangi cadangan ovarium seorang wanita, yang dapat menyebabkan terjadinya kegagalan dini pada ovarium dan menopause. Ini juga dapat menyebabkan terjadinya kekeringan pada jaringan vagina, sehingga menimbulkan rasa nyeri saat berhubungan intim dan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi vagina. Lebih luas lagi, kemoterapi dapat menyebabkan kelelahan, kecemasan dan perubahan hormonal, yang mana semua itu dapat mengurangi hasrat seksual.

Terapi radiasi, yang menggunakan sinar berenergi tinggi untuk menargetkan sel-sel kanker, juga dapat merusak ovarium seorang wanita, khususnya bila sinar tersebut ditargetkan pada daerah perut atau panggul.

Untuk menjaga kesuburan, pasien dapat mengeksplorasi beberapa pilihan, seperti misalnya membekukan sel-sel telur, embrio, atau jaringan ovarium mereka sebelum mulai menjalani pengobatan untuk kanker yang dideritanya.

Kriopreservasi embrio adalah metode yang kuat untuk menjaga kesuburan seorang wanita dan memiliki angka keberhasilan antara 30 dan 50 persen untuk tiap transfer embrio. Bila pasien masih lajang, maka sel-sel telur dapat dibekukan dengan sebuah metode yang dikenal sebagai vitrifikasi.

Namun, memanen sel-sel telur untuk dibekukan, dapat membutuhkan waktu hingga empat minggu dan melibatkan stimulasi ovarium.

Ada kekhawatiran mengenai stimulasi ovarium untuk mengumpulkan lebih banyak sel telur pada wanita yang kankernya sensitif terhadap hormon – dimana 50 persen kanker payudara sensitif terhadap hormon. Ini karena stimulasi ovarium dapat menyebabkan terjadinya kadar estrogen yang tinggi, yang dapat memicu kanker untuk bertumbuh dengan lebih cepat.

Selain membekukan sel-sel telur, pasien juga dapat melakukan kriopreservasi terhadap jaringan ovariumnya. Ini melibatkan pengangkatan dan pembekuan ovarium sebelum pengobatan kanker dimulai. Setelah pulih dari pengobatannya, ovarium ditransplantasikan kembali saat pasien siap untuk hamil.

Pilihan lainnya adalah untuk memberikan obat-obatan yang dikenal sebagai agonis/antagonis GnRH, yang pada dasarnya menekan fungsi ovarium ketika pasien menjalani kemoterapi. Ini melindungi gonad dengan membuat sel-sel berada dalam tingkatan siklus sel yang kurang aktif, sehingga mereka menjadi tidak terlalu sensitif terhadap efek yang merusak dari zat-zat kemoterapi.

Metode ini telah terbukti dapat menjaga kesuburan secara signifikan; dalam sebuah penelitian, angka menopause dini berkurang dari 67 menjadi 11 persen.



Tags: kanker & kehamilan, kanker wanita (kebidanan)