Dr Kok Jaan Yang menjelaskan mengapa ia memilih untuk mendalami bidang kedokteran paliatif.

Bagaimana kisahnya hingga Anda berpraktik dalam bidang kedokteran paliatif?

Meskipun saya tertarik pada kedokteran paliatif, itu bukan pilihan pertama saya di tahun-tahun awal pelatihan karena pada saat itu bidang tersebut belum tersedia dalam pelatihan spesialis; itu masih merupakan bidang yang sangat baru dan belum menjadi bagian dari kedokteran konvensional. Saya pikir saya akan mempraktikkan kedokteran paliatif sebagai seorang dokter relawan (dengan Hospice Care Association pada saat itu), dan sebagai gantinya menjalani pelatihan pascasarjana dalam kedokteran keluarga.

Pada tahun 2000, saya beralih karir. Saat itu saya adalah seorang Residen di sebuah poliklinik pemerintah, telah memperoleh gelar Master dalam bidang kedokteran keluarga. Saya diperkenalkan kepada Dr Koo Wen Hsin, yang mengubah hidup saya. Dr Koo, yang pada saat itu menjabat sebagai direktur medis di Dover Park Hospice, memberi tahu saya bahwa ia hendak menciptakan jalur karir bagi mereka yang berminat untuk terjun di bidang kedokteran paliatif, dan semoga, ini akan diakui sebagai salah satu spesialisasi utama pada saatnya. Hospice (rumah perawatan pasien terminal) bahkan telah menyisihkan dana untuk pelatihan di luar negeri.

Hal itu sangatlah menggoda, tetapi ada suatu masalah – tidak ada program pelatihan formal. Sebagai gantinya, itu akan melibatkan mempelajari sendiri saat melakukan pekerjaan tersebut, dengan pelatihan di luar negeri. Selain itu, juga tidak ada jaminan nantinya saya akan diakui sebagai seorang spesialis. Ini merupakan keputusan yang sulit; dengan banyak berdoa serta restu dari keluarga, akhirnya saya mengikuti kata hati saya. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi menoleh ke belakang.

Perjalanan belajar saya dalam beberapa tahun pertama sangatlah tidak biasa – saya belajar dari mengajari orang lain. Saya tidak memiliki pengawas, namun saya harus mengawasi para dokter junior yang ditempatkan di Dover Park Hospice. Saya menyelenggarakan kuliah pasca-sarjana dalam bidang kedokteran paliatif bagi pada dokter, bertindak sebagai kepala kordinator  program mahasiswa kedokteran lokal dalam bidang kedokteran paliatif ketika hal itu pertama kali diperkenalkan pada tahun 2002, dan memberikan ceramah mengenai kedokteran paliatif. Pada tahun 2003, saat terjadi wabah SARS, saya sedang menjalankan Dover Park Hospice hampir sebagai kepala pelayanan klinisnya. Dengan bantuan direktur keperawatan saya, kami mengimplementasikan tindakan pengendalian infeksi yang efektif yang kemudian membuat Dover Park Hospice memenangkan sebuah penghargaan National Day Award atas ketekunan kami.

Mempelajari sendiri adalah andalan dalam pelatihan saya – saya membaca, meneliti, dan menanyakan pendapat orang kapanpun saya menghadapi situasi yang sulit. Di Dover Park Hospice, ada rapat mingguan dengan para konsultan tamu untuk mendiskusikan mengenai tata laksana pasien. Selain itu, saya mengikuti kuliah diploma satu-tahun jarak jauh dari University of Cardiff pada tahun 2002. Bagian terbaiknya adalah menerima penghargaan Ministry of Health’s Health Manpower Development Plan (HMDP) Award untuk pelatihan selama satu tahun di Melbourne, Australia, pada bulan Juni 2004.

Ketika saya kembali pada tahun 2005, kedokteran paliatif mulai diakui sebagai salah satu ilmu kedokteran yang utama. Saya dipromosikan menjadi Konsultan oleh Dover Park Hospice pada tahun 2006 dan menjadi Konsultan Tamu di National University Hospital dari tahun 2006 hingga 2008. Pada tahun 2007, Singapura memulai pelatihan spesialis dalam bidang kedokteran paliatif dan saya ditunjuk sebagai salah seorang anggota pertama dalam Komite Pelatihan Subspesialisasi Kedokteran Paliatif/Palliative Medicine Subspecialty Training Committee (SSTC) yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan.

Saya bergabung dengan Parkway Cancer Centre pada bulan Juli 2008 untuk membantu mereka mempersiapkan layanan perawatan paliatif yang pertama pada penyelenggara layanan kanker swasta terbesar di Singapura.

Apakah Anda masih terlibat dalam melatih orang lain?

Ya, selain pekerjaan saya, saya terlibat dalam berbagai program pelatihan dan Pendidikan. Saya masih berada dalam Komite Pelatihan Subspesialis Kedokteran Paliatif, yang mengawasi pelatihan spesialis dalam bidang ini. Saya juga menjabat sebagai Direktur Program pada Kursus Diploma Pascasarjana dalam bidang Kedokteran Paliatif/Graduate Diploma Course in Palliative Medicine (GDPM) di National University of Singapore, yang menawarkan pelatihan non-spesialis dalam bidang kedokteran paliatif bagi para dokter. Saya juga aktif mengajar para mahasiswa kedokteran.

Mengapa Anda memilih untuk melakukan kedokteran paliatif?

Ketika layanan paliatif/hospice masih berada pada tahap awal di Singapura, ibu saya dalam keadaan sekarat akibat kanker usus besar, dan beliau dirujuk ke Hospice Care Group yang berada di bawah naungan Singapore Cancer Society pada awal tahun 1988. Â Saya sangat tersentuh oleh para relawan dan tim medis yang datang mengunjungi beliau di rumah. Secara khusus, saya terinspirasi oleh Dr Anne Merriman, yang datang untuk menjenguk beliau di rumah saya, yaitu sebuah flat HDB dengan 3 kamar, pada Hari Tahun Baru Imlek. Ibu saya meninggal pada bulan Maret 1988.

Setelah kelulusan saya pada tahun 1991 dan magang pada tahun 1992, saya mendaftar sebagai seorang dokter relawan di Hospice Care Association hingga tahun 1994, untuk “membayar” apa yang telah mereka berikan kepada ibu saya, sebelum akhirnya saya berhenti pada tahun 1995 karena hendak berkonsentrasi pada pelatihan yang saya jalani di bidang kedokteran keluarga.

Anda telah melakukan kedokteran paliatif dalam waktu yang lama. Bagaimana Anda dapat menghadapi merawat orang-orang yang sekarat? Apa yang membuat Anda terus bertahan?

Saya telah praktik kedokteran paliatif selama 17 tahun – 8½ tahun bersama Dover Park Hospice dan 8½ tahun bersama Parkway Cancer Centre – dan masih tetap kuat.

Meskipun sedih untuk melihat sebagian besar, bila tidak semua, pasien saya meninggal, saya sama sekali tidak merasa lelah secara psikologis maupun emosional saat merawat mereka. Malah sebaliknya, ini merupakan perjalanan belajar yang sarat makna, dan saya merasa sangat diberkati berada dalam posisi khusus ini untuk membantu dan mendukung mereka beserta keluarganya.

Ini menjadi melelahkan hanya bila kita berpegang pada harapan yang tidak realistis, tidak dapat merelakan apa yang tidak dapat kita pertahankan, dan tidak dapat menerima apa yang pada akhirnya akan terjadi. Maka kemudian kita akan merasa putus asa dan tidak berdaya karena kita tidak dapat melakukan apapun bagi para pasien dan orang-orang yang kita kasihi. Namun, bila kita dapat berjalan terus untuk menemukan arti baru dan membuat sasaran yang nyata, kita tetap dapat menemukan kepuasan dalam menyelesaikan tugas-tugas kecil. Saya seringkali membantu para pasien untuk fokus pada apa yang dapat mereka lakukan dan ingin lakukan, ketimbang apa yang tidak dapat mereka lakukan atau apa yang sebelumnya dapat mereka lakukan dan kita tidak dapat dilakukan lagi.

Dapatkan Anda menceritakan lebih banyak lagi kepada kami mengenai pekerjaan Anda di Parkway Cancer Centre?

Tentu saja. Layanan Perawatan Paliatif di Parkway Cancer Centre (PCC) pertama kali dimulai pada bulan Juli 2008. Saat ini, kami memiliki seorang spesialis kedokteran paliatif dengan tiga orang perawat paliatif. Mereka mendukung pasien yang diobati oleh PCC di tiga rumah sakit utama Parkway. Beberapa orang berpikir bahwa saya hanya menangani pasien-pasien yang penyakitnya sudah pada tahap terminal; meskipun ini memang membentuk sebagian dari pekerjaan saya, mayoritas pasien dirujuk kepada saya untuk penatalaksanaan nyeri kanker sementara mereka masih menerima pengobatan aktif untuk kankernya. Hal ini terutama nyeri kankernya bersifat kompleks dan membutuhkan kombinasi obat-obatan pereda nyeri.

Saya juga membantu dalam perencanaan kepulangan serta perawatan di rumah bagi pasien-pasien yang membutuhkan. Dan saya menjalankan sebuah layanan kunjungan perawatan ke rumah-rumah dalam skala kecil untuk mengunjungi pasien-pasien yang terlampau lemah untuk mendatangi saya dan yang ingin menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah.

Seperti apakah perjalanan hari Anda biasanya?

Pagi hari biasanya sangat sibuk karena saya harus berkeliling ke ruangan-ruangan di tiga rumah sakit Parkway untuk melihat para pasien. Sebagian besar dari mereka berada di bawah perawatan dokter spesialis onkologi medis kami di PCC yang mana saya turut serta merawatnya. Kemudian saya melanjutkan dengan klinik rawat jalan dan kunjungan ke rumah-rumah, tergantung pada jadwal yang telah dibuat.

Di sore hari, saya mungkin harus kembali meninjau para pasien di ruangan sebelum saya pulang.

Bagaimana cara Anda mengatur peran Anda sebagai seorang dokter yang sibuk, suami dan juga ayah?

Sulit untuk memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan dengan jenis pekerjaan yang saya miliki. Untungnya saya memiliki keluarga yang penuh pengertian dan mendukung saya. Istri saya adalah seorang dokter keluarga paruh waktu dan kedua anak saya belajar di universitas lokal. Kami membuat suatu kesepakatan untuk makan dan melakukan berbagai kegiatan bersama keluarga di akhir pecan dan pada beberapa malam di hari kerja.

Perubahan apa sajakah yang telah terjadi dalam bidang kedokteran paliatif bila dibandingkan dengan saat Anda mulai menekuninya?

Dengan populasi yang menua, kebutuhan perawatan paliatif bagian pasien-pasien kanker dan non-kanker akan meningkat. Terdapat suatu upaya bersama untuk melatih para dokter yang lulus dari sekolah kedokteran lokal, secara umum dalam hal perawatan kedokteran paliatif, untuk menatalaksana pasien yang memiliki kebutuhan perawatan paliatif sederhana. Semakin banyak pula spesialis di bidang kedokteran paliatif yang juga dilatih untuk menangani pasien-pasien dengan masalah-masalah perawatan paliatif yang lebih kompleks. Kesadaran umum serta penerimaan akan perawatan paliatif akan meningkat seiring dengan berjalannya waktu, sama seperti yang terjadi di negara-negara berkembang lainnya.



Tags: kisah dokter spesialis kanker, pengelolaan nyeri akibat kanker