Dr Kok Jaan Yang, seorang Konsultan Senior dari Parkway Cancer Centre yang memfokuskan diri pada pengobatan paliatif, membahas mengenai beberapa kesalahpahaman tentang nyeri kanker dan penggunaan opioid kuat.

Merupakan hal yang umum bagi pasien kanker stadium lanjut untuk mengalami nyeri kanker. Opioid kuat seperti morfi n atau oksikodon seringkali diresepkan untuk mengatasi nyeri kanker sedang hingga berat. Meski demikian, banyak yang takut akan efek samping opioid kuat ini.

Kesalahpahaman 1: Semua pasien kanker menderita nyeri yang hebat

Banyak pasien yang berpikir bahwa semua pasien kanker akan menderita nyeri kanker yang hebat. Namun pada kenyataannya beberapa pasien tidak mengalami hal tersebut.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa satu dari empat pasien yang menderita kanker stadium lanjut tidak mengalami nyeri kanker. Sekitar satu dari empat pasien dapat mengalami nyeri kanker yang hebat, sementara yang lainnya mengalami nyeri kanker ringan atau sedang.

Kesalahpahaman 2: Semua nyeri kanker diatasi dengan morfin atau opioid kuat lainnya

Opioid kuat seperti morfi n, oksikodon dan fentanil hanyalah satu kategori obat yang digunakan untuk mengendalikan nyeri kanker.

Pasien kanker dengan nyeri kanker ringan atau sedang biasanya diresepkan obat-obatan seperti parasetamol dan/atau obat-obat anti-infl amasi non-steroid (seperti diklofenak, naproksen dan celecoxib).

Opioid lemah (seperti kodein dan tramadol) dapat pula ditambahkan. Obat-obatan seperti morfi n, oksikodon dan fentanil hanya digunakan untuk mengatasi nyeri kanker yang lebih hebat.

Bila seorang pasien juga mengalami nyeri neuropatik (saraf), dimana nyeri tersebut disebabkan oleh saraf yang rusak atau terkena efek samping, maka obat lain seperti Lyrica atau gabapentin dapat pula diresepkan untuk meredakan nyeri.

Kesalahpahaman 3: Morfin memiliki banyak efek samping yang tidak dapat ditoleransi

Terdapat tiga efek samping yang umum dialami oleh pasien yang memperoleh morfi n atau opioid kuat – kantuk, mual dan muntah, serta sembelit. Ketiga efek samping ini relatif mudah ditangani.

Kantuk biasanya dialami ketika pasien pertama kali mulai menggunakan obat ini atau ketika dosisnya ditingkatkan – biasanya ini akan membaik setelah beberapa hari. Bila kantuk tak kunjung hilang atau bertambah parah, dosis dapat dikurangi atau obat dapat dihentikan.

Mual dan muntah hanya dialami sekitar satu dari tiga pengguna obat ini dan dapat dengan mudah diatasi dengan obat-obat anti-muntah seperti metoklopramid atau domperidon. Banyak pasien yang menggunakan morfi n atau opioid kuat selama beberapa waktu menjadi terbiasa dan tidak lagi mengalami mual dan muntah.

Sembelit yang disebabkan oleh opioid merupakan efek samping yang lebih umum dijumpai dan mudah diatasi dengan minum banyak cairan serta menggunakan obat pencahar yang umum seperti senokot atau laktulosa.

Kesalahpahaman 4: Mengkonsumsi morfin secara teratur dapat menyebabkan kecanduan

Pasien yang menggunakan opioid kuat untuk nyeri kanker sesuai dengan anjuran dari dokter yang berpengalaman tidak akan menjadi kecanduan. Ketika nyeri reda dengan cara lain, misalnya radioterapi untuk nyeri tulang akibat kanker, maka dosis morfi n dapat dikurangi secara bermakna atau bahkan dihentikan.

Kesalahpahaman 5: Morfin sebaiknya digunakan hanya sebagai jalan terakhir, khususnya ketika ajal sudah dekat

Keputusan untuk menggunakan morfi n didasarkan pada kebutuhan untuk mengatasi nyeri dan bukan pada seberapa dekat seorang pasien dengan kematian.

Banyak pasien – tanpa melihat prognosanya – memperoleh peredaan nyeri yang bermakna dengan menggunakan opioid kuat. Ketika nyeri reda, kualitas hidup pasien pun meningkat.

Kesalahpahaman 6: Anda dapat meninggal karena menggunakan morfin

Penggunaan morfi n atau opioid kuat tidak menyebabkan kematian, terlebih bila penggunaannya dimulai dengan dosis yang rendah kemudian ditingkatkan secara bertahap. Meski demikian, bila suatu opioid kuat dimulai atau ditingkatkan dosisnya ketika pasien dalam keadaan sakit parah dan sekarat akibat penyakit yang mengancam jiwa, seringkali ketika pasien meninggal yang dipersalahkan adalah opioid.

Kenyataan yang pahit adalah bahwa pasien akan meninggal akibat penyakitnya, tidak peduli apakah opioid kuat diberikan atau tidak. Meski demikian, redanya nyeri dan sesak nafas dapat membuat saat-saat terakhir pasien tidak begitu menyakitkan.

Kesalahpahaman 7: Semua pasien yang sekarat harus diberikan morfin untuk memastikan mereka tidak menderita nyeri

Tidak semua pasien yang sekarat mengalami nyeri atau penderitaan dan opioid kuat tidaklah dibutuhkan. Nyatanya, menggunakan opioid pada saat tidak dibutuhkan malah dapat menyebabkan pasien mengalami efek samping yang sebenarnya tidak perlu.  



Tags: efek samping yang umum dari pengobatan kanker, kesalahpahaman, nyeri kronis, pengelolaan nyeri akibat kanker