Didiagnosis menderita dua jenis kanker pada saat yang bersamaan, Serene Koh (atas) mengerahkan seluruh tenaganya dan dukungan dari keluarganya untuk memerangi penyakit tersebut.

Didiagnosis menderita kanker selalu traumatis, namun bagi Serene Koh, hal tersebut datang sebagai kejutan ganda – ia diberi tahu bahwa ia menderita dua jenis kanker pada saat yang bersamaan.

Yang satu adalah kanker ovarium (Stadium 1), dan yang lainnya adalah Gastrointestinal Stromal Tumour (GIST). Kanker yang disebutkan terakhir lebih mengkhawatirkan – saat itu kanker tersebut sudah berada pada Stadium 4 dan telah menyebar ke hati.

Diagnosis ini secara khusus sangat mengejutkan karena Serene sangat jarang jatuh sakit, tidak melihat adanya gejala atau tanda-tanda, dan telah melakukan semua yang dapat ia lakukan untuk mengurangi risikonya.

Sebelumnya ia pernah melakukan pengangkatan kista ovarium dan kista tersebut muncul kembali. Ginekolognya telah melakukan pemantauan terhadap ukuran kista tersebut selama beberapa tahun terakhir. Seren juga mengkonsumsi obat tradisional Cina untuk mengendalikan ukuran kistanya, dan semuanya tampak berjalan dengan baik.

Indikasi adanya GIST pun lebih sedikit lagi, kecuali ia cepat merasa kenyang setelah makan makanan ringan.

Meski demikian, pada tahun 2012, ia menderita nyeri yang sangat parah di bagian perutnya. Seorang dokter mendiagnosisnya sebagai flu perut, namun ketika flu tersebut kambuh terus, dokter merujuknya ke Gleneagles Hospital, dengan dugaan bahwa ia mungkin menderita usus buntu. Ternyata pemindaian menunjukkan hal yang jauh lebih parah.

“Semua terjadi sangat cepat pada petang itu,” Serene, yang berusia 53 tahun, mengenang yang terjadi setelah ia masuk ke rumah sakit melalui UGD, dimana dilakukan pemeriksaaan darah dan pemindaian CT. “Ketika hasilnya diperoleh, saya diberi tahu untuk bersiap menjalani operasi besar dalam waktu tiga jam.”

Dokter ahli bedah kolorektal Dr Quah Hak Mien dan dokter ahli onkologi kebidanan Dr Tham Kok Fun bergantian mengoperasi Serene. Dua hari kemudian, Wakil Direktur Medis Parkway Cancer Centre Dr Khoo Kei Siong mengunjungi Serene di ruangannya dan mulai mengawasi pengobatannya.

Selain rasa terkejut dan tidak percaya, Serene juga mengkhawatirkan ibunya, yang saat itu sedang berada dalam kondisi yang parah akibat kanker pankreas, serta kedua anak laki-lakinya yang masih remaja. Serene, yang bekerja di sebuah bank hingga akhirnya berhenti dari pekerjaannya pada tahun 2001 untuk sepenuhnya merawat anak-anaknya, memutuskan untuk tidak memberi tahu ibunya.  “Beliau tidak akan dapat meninggal dengan tenang bila tahu saya juga menderita kanker,” ujarnya.

Serene diminta untuk bersiap menghadapi perjalanan yang panjang – selain histerektomi (pengangkatan rahim) dan operasi untuk mengangkat tumor GIST serta kelenjar getah bening yang terkena, ia juga perlu segera menjalani pengobatan untuk GIST, yang telah menyebar ke hatinya.

Ia diberikan Glivec, yaitu obat oral yang ditargetkan pada tumornya untuk menekan pertumbuhan sel-sel kanker. Ketika pemindaian PET yang dilakukan dua bulan kemudian memperlihatkan bahwa pengobatan ini tampaknya bekerja dengan baik, Serene kemudian diberikan rangkaian kemoterapi untuk kanker ovarium yang dideritanya untuk mencegah agar kanker tersebut tidak kembali lagi. Kemoterapi untuk kanker ovariumnya selesai pada bulan Agustus tahun 2013, namun pengobatan untuk GIST masih terus dilanjutkan.

Meskipun Serene siap untuk menjalani pengobatan, ia mengkhawatirkan efek sampingnya, ujar Serene.

Ia mengambil langkah-langkah untuk memperkuat dirinya baik secara mental maupun emosional, sehingga ia dapat menghadapi pengobatan dengan lebih baik. Ketika efek samping dari kemoterapi mingguan menyerangnya, ia menghadapinya dengan menonton serial TV Korea yang terkenal, “Running Man”.

“Saya juga memulihkan diri dari operasi besar – lukanya membutuhkan waktu agak lama untuk sembuh – dan serial “Running Man” membantu saya untuk menghabiskan waktu serta membuat saya tertawa,” ujar Serene. “Ketika saya kehilangan nafsu makan akibat kemo, saya melihat gambar-gambar makanan di media sosial. Dan saya akan meminta suami saya untuk membelikan makanan apapun yang saya inginkan ketika saat makan tiba.”

Serene tidak mau jatuh ke dalam rasa kasihan pada diri sendiri. “Saya terus berjalan,” ujarnya. “Saya bahkan tidak bertanya ‘Mengapa saya?’ Tiba-tiba saja waktu menjadi sangat berharga dengan keluarga dan teman. Saya ingin sembuh, oleh sebab itu saya terus menjalani pengobatan dan mencoba untuk menikmati hidup pada hari-hari dimana saya merasa lebih baik.”

Ketika ibunya meninggal dunia tidak lama setelah Serene menjalani operasi, rasanya menjadi lebih sulit. Saat itu, ia tidak hanya harus menghadapi rasa terkejut atas diagnosis yang diterimanya, rasanya nyeri akibat operasi dan efek samping dari kemoterapi, namun ia juga harus mengatasi duka yang dirasakannya. Serene menghadapinya dengan menyibukkan diri dan menyelesaikan hal-hal yang praktis.

“Dengan mengetahui betapa pentingnya waktu, maka pada hari-hari dimana saya menjalani pengobatan, ketika saya memiliki kekuatan, saya mengatur keuangan saya, memasukkan klaim asuransi saya, dan menuliskan kembali wasiat saya sekedar untuk berjaga-jaga bilamana pengobatan yang saya jalani tidak berhasil,” ujarnya.

Salah satu masa yang paling sulit, kenangnya, adalah saat pengobatannya harus diubah menjadi obat target regorafenib (Stivarga) setelah kanker GIST kambuh pada bulan Oktober tahun 2016.

“Obat tersebut membuat saya mengalami sindrom tangan-kaki (juga disebut sebagai palmar-plantar erythrodysesthesia), yang membuat saya tidak dapat bergerak,” ujarnya. “Rasanya nyeri setiap kali saya melangkahkan kaki. Ruam juga muncul dan menyelimuti seluruh tubuh saya, termasuk wajah.”

Efek samping tersebut hilang hanya ketika Serene diberhentikan dari Stivarga. Ketika sindrom tangan-kaki telah reda, ia kembali berjalan-jalan di sekitar Botanic Gardens dan Gardens by the Bay.

“Setiap langkah masih terasa nyeri, namun masih tertahankan,” ujarnya. “Saya bahkan pergi ke Sydney. Saya duduk di kursi roda yang disediakan oleh pihak bandara untuk meminimalkan berjalan kaki.”

Pada bulan Maret tahun 2017, Serene menjalani operasi lagi pada hatinya, namun dokter ahli bedah, Dr K.C. Tan, mengatakan bahwa risikonya sangat besar untuk mengangkat massa yang besar dari hatinya. “Tentu saja saya merasa kecewa, namun hidup harus terus berjalan,” ujarnya.

Ia juga diberikan obat Pazopanib untuk GIST, yang menyebabkan diare. Ini membuatnya sulit untuk bepergian, namun Serene, yang berkemauan keras untuk menjalani kehidupan yang normal, bahkan dapat pergi ke Tokyo ketika ia masih mengkonsumsi obat ini. “Saya memakai pembalut ketika saya tidak sedang berada di hotel,” kenangnya. “Anda harus belajar mengatasi efek samping, atau Anda akan terkurung di dalam rumah.”

Pada bulan Juni tahun 2018, Serene kembali menghadapi ujian besar terhadap resolusinya ketika ia menjalani kemoembolisasi untuk GIST pada hatinya. Meskipun tindakan tersebut relatif sederhana, efek sampingnya cukup berat. “Saya menjalani hal yang merupakan bagian yang paling sulit dari perjalanan kanker saya,” ujarnya. “Selama lebih dari satu bulan, saya seperti orang cacat, Saya harus sering berbaring di tempat tidur karena saya selalu merasa lelah, mengalami diare, kehilangan nafsu makan, mual, dan merasa nyeri pada perut.”

Menurut Serene, Johnny, suami tercintanya, yang memberikan kekuatan pada dirinya untuk terus berjuang di sepanjang perjalanan ini. “Ia adalah perawat dan pendukung saya yang utama,” ujarnya. “Ia membuat beberapa penyesuaian dalam rutinitas harian dan pekerjaannya, dan dengan sabar memenuhi segala kebutuhan saya tanpa mengeluh.”

Serene juga memuji para staf, perawat dan dokter di Parkway Cancer Centre, serta teman-teman yang merupakan “pejuang kanker”. Ia menceritakan bahwa dua orang pasien kanker, yaitu Tan Siok Cheng dan Nellie Tan, memberinya banyak inspirasi saat ia menjalani hari-hari yang sulit, sementera teman-teman yang lainnya dan orang-orang terkasih membantu dengan menjadi tempat untuk mencurahkan isi hatinya serta mengajaknya makan di luar. “Saya memiliki banyak malaikat pelindung yang senantiasa memeriksa keadaan saya,” ucapnya dengan penuh rasa syukur.

Sebagai seorang pemikir bebas (freethinker), menurut Serene, yang membantunya melalui semua ini adalah sikap yang ingin melakukan yang terbaik dalam setiap situasi, tanpa peduli apa yang terjadi. “Harapan hidup berubah ketika Anda terkena kanker, apalagi bila kanker Stadium 4,” ujarnya. “Anda tahu bahwa penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan dan suatu hari nanti Anda harus meninggalkan dunia ini. Oleh sebab itu, saya mengubah sikap saya terhadap kehidupan, menerima kondisi saya dan menurunkan tingkat harapan saya. Saya mencoba untuk menjalani hidup setiap hari secara maksimal, bersyukur atas apa yang saya miliki, dan membantu orang lain bila saya mampu.”

Salah satu sumber kebahagiaan terbesar bagi Serene adalah Botanic Gardens, tempat yang ia kunjungi secara teratur untuk berjalan-jalan. “Tempat tersebut sangat membantu saya karena alam penuh dengan inspirasi,” ujarnya. “Saya akan memotret pemandangan, angsa, bunga-bungaan dan pepohonan. Saya merasa gembira ketika berada di sana. Hobi membantu para pasien menghabiskan waktu dan sedikit melupakan mengenai penderitaan yang mereka alami.”

Mencari lukisan dinding (mural) yang indah juga membantunya mengalihkan perhatian dari rasa nyeri yang dialaminya. Dalam salah satu perburuan mural yang dilakukannya, ia berjumpa dengan seorang artis mural yang terkenal, yaitu Bapak Yip Yew Chong; pertemuan tersebut akhirnya membuatnya menjadi sponsor bagi pembuatan beberapa mural pada batu di Ethnobotany Garden yang terletak di dalam Botanic Gardens. “Ini menjadi salah satu cara saya untuk berterima kasih kepada pihak Gardens, karena jalan-jalan yang saya lakukan di dalamnya telah memberikan inspirasi kepada saya dan membantu dalam perjalanan kanker saya,” ujarnya.

Dan setiap kali rasa nyeri akibat pengobatannya tidak tertahankan – Serene masih terus menjalani pengobatan untuk GIST hingga saat ini – ia mencoba untuk memikirkan orang-orang yang mungkin tidak seberuntung dirinya, sehingga ia dapat menyadari betapa beruntungnya ia. “Memiliki pola pikir yang tepat sangatlah penting dalam membantu saya untuk menghadapi semua ini,” ujarnya. “Saya sangat bersyukur karena saya telah diberikan kesempatan untuk hidup selama lima setengah tahun sejak saya didiagnosis menderita kanker.”

Kok Bee Eng



Tags: