Kanker vagina: Apa saja risikonya? Dr See Hui Ti dari Parkway Cancer Centre mejelaskan bagaimana kanker vagina masih bisa muncul setelah histerektomi.   

“Dokter, pasti Anda salah! Bagaimana mungkin saya masih terserang kanker vagina?

Rahim dan indung telur saya sudah diangkat 10 tahun silam akibat fi broid uterus (dikenal juga dengan istilah miom-pent.). anda pasti salah lihat. Saya mohon dokter memeriksa kembali lebih teliti – 15 tahun lalu, dokter kandungan saya mengatakan bahwa saya tidak perlu datang lagi untuk follow up setelah menjalani histerektomi. Dan sekarang Anda mengatakan bahwa saya mengidap kanker vagina?”

Madam Yang, 63 tahun, mengusap air matanya saat sedang berbicara pada saya.

Saya bisa merasakan empati dengan perasaan dikhianati seperti itu. Memang benar bahwa normalnya, wanita yang rahim dan indung telurnya telah diangkat karena adanya tumor jinak tidak memerlukan follow up apapun lagi. Namun, kenyataannya ia sekarang didiagnosa mengidap kanker vagina.

Beruntungnya, Madam Yang mencari pertolongan medis sejak dini atas permasalahannya yakni rasa gatal di vagina dan keputihan yang terus-menerus. Dari situlah awal mula kami menemukan bahwa ia menderita karsinoma sel skuamosa, salah satu jenis kanker vagina.

Karena ia berobat kepada kami sejak awal, beruntung baginya ada peluang yang sangat besar baginya untuk mendapatkan pemulihan lengkap setelah radioterapi.

Mengapa masih ada peluang terjadinya kanker vagina setelah histerektomi?

Organ reproduksi wanita terdiri dari rahim dan serviks, vagina serta vulva. Semua organ tersebut mengalami kanker yang berbeda-beda.

Sebagai contoh, faktor risiko tinggi kanker ovarium adalah riwayat keluarga sementara faktor risiko tinggi dari kanker rahim adalah diabetes dan obesitas.

Di sisi lain, faktor risiko tinggi dari kanker vagina dan serviks adalah infeksi dari virus human papillomavirus (HPV).

Di tahun-tahun mendatang, insiden kanker serviks menurun tajam dengan adanya Pap smear yang penerapannya semakin meluas; sekarang kanker tersebut berada di posisi ke- 10 untuk kanker terbanyak yang terjadi pada wanita Singapura. Sedangkan kanker vagina tidaklah begitu umum seperti kanker lainnya. Angka kejadian kanker ini rendah dan bisa dikategorikan sebagai kanker langka, dengan mayoritas penderita adalah wanita di atas usia 60 tahun.

Apa saja gejala kanker vagina dan bagaimana cara mengobatinya?

Kanker vagina mirip dengan kanker serviks dalam banyak hal. Pada stadium awal, kedua jenis kanker ini tidak menunjukkan gejala apapun.

Mayoritas kasus kanker vagina bisa dibagi menjadi dua tipe: karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma.

  1. Kanker vagina karsinoma sel skuamosa: Faktor risikonya sama seperti pada kanker serviks, yaitu infeksi sel vagina jangka panjang yang disebabkan oleh HPV, yang berujung pada perubahan patologis dan berkembang menjadi neoplasma in-situ vagina atau Vaginal in-situ neoplasm (VAIN).

  2. VAIN bisa diklasifi kasikan menjadi parah (VAIN I), moderat (VAIN II), dan ringan (VAIN III).

     

Jika dibiarkan tak terdeteksi, VAIN bisa berkembang menjadi kanker yang invasif. Dan saat itulah, pasien bisa saja mengalami keputihan yang tak normal. Kanker vagina stadium akhir bisa memunculkan gejala-gejal seperti rasa sakit di perut bagian bawah dan di vagina. Jika kanker menyebar ke kelenjar getah bening, pasien mungkin akan mengalami benjolan di bagian kunci paha.

VAIN I bertipe lambat pertumbuhannya dan tidak menyebar, sehingga tidak perlu bagi pasien untuk menerima pengobatan, dan follow up yang diperlukan adalah pemantauan dan observasi saja.

Metode pengobatan terbaik untuk VAIN II dan VAIN III adalah dengan jalan pembedahan yaitu mengangkat seluruh rahim dan indung telurnya. Jika pasien siap dengan histerektomi, maka eksisi atau pemotongan vagina juga harus dilakukan. Jika pasien tidak bisa dioperasi (misalnya, karena faktor usia), kemoterapi tertarget atau pengobatan laser bisa jadi solusi. Bentuk pengobatan terbaik untuk kanker vagina yang invasif adalah kombinasi elektroterapi dan kemoterapi.

Kanker vagina stadium awal mirip dengan kanker serviks – semakin dini terdeteksi, maka semakin baik pula pasien bisa pulih sempurna.

Kanker vagina memang langka, namun adakah cara untuk skrining atua mencegahnya?

Semua wanita yang telah aktif secara seksual bisa melakukan Pap smear secara rutin untuk melihat apakah ada neoplasma vagina atau serviks stadium dini. Mereka yang belum pernah terinfeksi virus HPV kemungkinan kecil terserang kanker vagina.

Deteksi dini berarti bahwa efi siensi pengobatan menjadi lebih tinggi, dan peluang akan pemulihan yang lengkap dan sempurna juga menjadi semakin besar.

Karena tes Pap smear sangat terjangkau biayanya dan sangat efi sien, maka tes ini pun dipromosikan oleh Kementerian Kesehatan. Namun, Pap smear harus dilakukan paling sedikit sekali dalam kurun waktu tiga tahun namun sayangnya sebagian besar wanita tidak melakukannya.

Untuk mencegah infeksi virus, satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan pemberian vaksinasi HPV saat muda.

Beberapa tahun belakangan, Departemen Kesehatan Amerika Serikat merekomendasikan tes HPV:

  1. Tes ini paling cocok bagi wanita di atas usia 30 tahun yang telah aktif secara seksual.

  2. Dokter akan mengirimkan cairan vagina dan serviks selama Pap smear untuk diuji laboratorium untuk mengetahui apakah wanita tersebut terinfeksi oleh HPV.

  3. Jika tidak ada tanda-tanda virus, tes cukup dilakukan sekali dalam kurun lima tahun. Jika terdapat tanda adanya virus, maka tes lebih lanjut akan dilakukan oleh dokter.

     

Dibandingkan dengan Pap smear, tes ini jauh lebih efi sien, karena hanya perlu dilakukan sekali dalam lima tahun.

Tes ini tersedia di Singapura sejak bertahun- tahun lalu akan tetapi karena tes ini lebih sesuai untuk wanita berusia di atas 30 tahun, tes ini belum sepenuhnya bisa menggantikan posisi Pap smear.

Senjata terbaik yang dimiliki seorang wanita untuk melindungi dirinya adalah dengan memahami perubahan-perubahan patologis sel-sel kanker dalam rangka untuk memilih skrining apa yang terbaik untuknya.

Tes virus Human papillomavirus (HPV)

  • Paling sesuai bagi wanita di atas usia 30 yang telah aktif secara seksual atau pernah melakukan hubungan seksual.

  • Cairan vagina dan serviks yang didapat selama Pap smear dikirim untuk dites di laboratorium untuk mengetahui apakah seorang wanita terinfeksi oleh HPV risiko tinggi.

  • tes dilakukan hanya sekali dalam lima tahun jika tidak ada tanda-tanda keberadaan virus. Namun jika ada tanda munculnya virus, maka tes lebih lanjut akan dilakukan.  



Tags: histerektomi, kanker vagina, kanker virus papiloma manusia (HPV), kanker wanita (kebidanan), kanker yang langka, karsinoma sel skuamosa (KSS), pap smear, vaksinasi