Belajar Tentang Kanker … Secara Virtual

Webinar publik yang diadakan oleh Parkway Cancer Centre memberi peserta gambaran tentang penyebab, pengobatan dan pencegahan kanker.

Kekhawatiran terhadap kanker tidak berkurang bahkan pada saat pandemi global. Dengan langkah-langkah dalam menjaga jarak yang aman, Parkway Cancer Centre menyelenggarakan webinar publik berjudul Mengerti Kanker dan Hal Lainnya (Understanding Cancer and Beyond) pada 9 Mei dengan lebih dari 350 peserta dari negara-negara seperti Singapura, Bangladesh, India, Indonesia, dan Filipina.

Dr Zee Ying Kiat, Konsultan Senior dalam Onkologi Medis, memulai sesi dengan diskusi tentang memahami kanker dan bagaimana kanker dapat dideteksi dan diobati. Pandemi Covid-19 saat ini menambah lapisan ketakutan pada beberapa orang karena terbatasnya pengetahuan atau informasi yang salah tentang virus corona, seperti halnya kanker dapat menyebabkan ketakutan pada beberapa pasien. Zee berusaha menghilangkan sebagian ketakutan dan kecemasan ini dengan menjawab pertanyaan umum tentang kanker.

Penyebab kanker

Kanker muncul ketika sel-sel normal tubuh mulai membelah secara tidak terkendali. Sel-sel yang sudah bermutasi ini kemudian menyerang sel-sel dan jaringan di sekitarnya dan bahkan menyebar ke seluruh tubuh. Dr Zee menambahkan bahwa kanker herediter/turunan jarang terjadi, dan bahwa sebagian besar kanker berkembang sebagai akibat dari perubahan gaya hidup selama hidup seseorang.

Faktanya, sekitar satu dari lima orang akan menderita kanker, dan satu dari 10 orang akan meninggal karena kanker sebelum mereka menginjak usia 75 tahun. Di Singapura, kanker adalah penyebab utama kematian, terhitung sekitar tiga dari 10 kematian, bahkan lebih dari penyakit jantung dan paru-paru. Setiap tahun, sekitar 6.800 pria Singapura dan 7.300 wanita Singapura didiagnosis menderita kanker.

Mencegah kanker

Tetapi bisakah kanker dicegah? Dr Zee mengatakan bahwa banyak kanker dapat dicegah dengan perubahan sederhana pada diet dan gaya hidup kita. Perubahan gaya hidup semacam itu juga melindungi seseorang dari penyakit kronis lain seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Beberapa cara untuk mencegah kanker termasuk menghindari merokok, membatasi asupan alkohol, makan makanan yang kaya buah-buahan, sayuran, biji-bijian dan rendah lemak jenuh, aktif secara fisik hingga menjaga berat badan yang sehat.

Salah satu cara terbaik untuk mencegah kanker atau setidaknya mendeteksinya pada tahap awal, adalah skrining. Ini membantu untuk memeriksa kanker (atau untuk kondisi yang dapat menyebabkan kanker) pada orang yang belum menunjukkan gejala apa pun. Tes skrining untuk kanker meliputi pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan, tes laboratorium seperti tes darah, dan prosedur pencitraan seperti mammogram dan CT scan.

Namun, skrining tidak bisa dilakukan untuk semua kanker. Untuk kanker-kanker di mana skrining dimungkinkan, mereka sangat berharga dalam membantu deteksi dini. Hal ini dapat mengarahkan pada peluang hidup yang jauh lebih tinggi, kata Dr. Zee. Misalnya, pada kanker payudara, tingkat kelangsungan hidup 10 tahun untuk pasien dengan kanker stadium 1 adalah sekitar 70 persen. Tetapi tingkatan ini akan turun menjadi 2 persen untuk pasien kanker stadium 4.

“Deteksi dini sangat penting karena kelangsungan hidup penderita kanker berkurang pada stadium lanjut,” kata Dr. Zee.

Dalam beberapa kasus, skrining bahkan dapat membantu mendeteksi dan menghilangkan kelainan yang, jika tidak diobati, dapat menyebabkan kanker. Sebagai contoh, jika polip terdeteksi selama skrining kolonoskopi untuk kanker kolorektal, polip dapat dihilangkan. Sehingga mencegah mereka berpotensi berubah menjadi kanker di masa depan. Demikian pula, pada kanker serviks, Pap smear bertujuan untuk mendeteksi sel-sel pra kanker abnormal yang dikenal sebagai cervical intra-epitel neoplasia (CIN) dan membuangnya sebelum berkembang menjadi kanker invasif.

Mengobati kanker

Dalam hal perawatan, tidak ada pengobatan tunggal untuk kanker. Sebaliknya, ada berbagai pilihan yang tersedia tergantung pada lokasi kanker dan stadium penyakitnya. Kombinasi berbeda dari perawatan juga dapat digunakan untuk efek yang lebih besar. Pembedahan sering digunakan untuk mengangkat tumor dan jaringan di sekitarnya, dan merupakan metode dasar dari penyembuhan. Kemajuan teknologi memungkinkan perawatan yang kurang invasif seperti operasi lubang kunci atau bedah robot.

Pembedahan seringkali dilengkapi dengan kemoterapi, baik sebelum atau sesudah pembedahan, dan/atau juga dilengkapi radioterapi untuk memaksimalkan peluang penyembuhan. Kemoterapi mengacu pada penggunaan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker dengan mengganggu kemampuan mereka untuk membelah, sementara radioterapi menggunakan sinar-X berenergi tinggi atau jenis radiasi lain untuk menghancurkan sel-sel kanker.

Sekitar 40 persen pasien kanker biasanya menerima radioterapi di beberapa titik, baik untuk mengobati kanker atau menghilangkan gejala kanker. Terapi hormon menggunakan obat-obatan untuk menyesuaikan kadar hormon tertentu yang terlibat dalam beberapa jenis kanker. Sebagai contoh, obat-obatan seperti Tamoxifen – yang biasanya dipakai untuk terapi hormonal – diketahui efektif dalam memblokir efek estrogen pada jaringan payudara, dan membantu mencegah dan/atau mengobati beberapa jenis kanker payudara.

Dalam beberapa tahun terakhir, ada juga metode pengobatan baru seperti terapi yang ditargetkan dan imunoterapi. Terapi yang ditargetkan mengganggu molekul tertentu yang menyebabkan kanker tumbuh dan menyebar. Bentuk terapi ini telah terbukti bekerja pada banyak kanker dewasa seperti kanker kolorektal, paru-paru, payudara, lambung dan hati.

Imunoterapi adalah penggunaan sistem kekebalan alami tubuh untuk melawan kanker. Metode ini terbukti bermanfaat dalam kanker seperti kanker paru-paru, kanker usus besar, kanker ginjal dan kanker kulit melanoma. Metode ini secara efektif “membangunkan” sistem kekebalan tubuh terhadap sel-sel kanker yang dapat menghambat respons kekebalan tubuh. Dengan menghilangkan hambatan ini, tubuh dapat melawan kanker menggunakan pertahanannya sendiri. Imunoterapi semakin banyak digunakan untuk mengobati banyak kanker, terutama kanker stadium 4.

Zee kemudian menjawab banyak pertanyaan dari peserta yang bertanya tentang berbagai topik termasuk perbedaan antara mammogram dan ultrasound; apakah radiasi dari skrining pencitraan dapat menyebabkan kanker dan ancaman dari karsinogen.

Kanker dan nutrisi

Setelah Dr Zee, Ahli Diet Senior Fahma Sunarja membahas beberapa pertanyaan umum seputar gizi dan kanker. Dengan hubungan kuat antara obesitas dan jenis kanker tertentu, hal ini menjadikan mempertahankan berat badan yang sehat, aktivitas fisik teratur, dan mengurangi makanan padat energi sebagai hal yang membantu mencegah kanker.

Untuk mempertahankan berat badan yang sehat, perlu ada keseimbangan antara asupan makanan dan apa yang dibakar oleh tubuh. Fahma menyoroti dua strategi makan yang digunakan beberapa orang untuk menjaga berat badan yang sehat. Puasa intermiten – di mana seseorang makan hanya delapan jam sehari dan puasa selama 16 jam – bekerja sangat baik untuk beberapa orang karena mereka mengkonsumsi lebih sedikit kalori.

“Ini memungkinkan tubuh untuk beristirahat dan memulai kembali,” kata Ms Fahma.

Puasa intermiten juga membantu membalikkan resistensi insulin dan, ketika dikombinasikan dengan aktivitas fisik dapat meningkatkan laju metabolisme tubuh. Namun, dia memperingatkan bahwa mereka yang memiliki kondisi seperti diabetes atau sindrom metabolik harus berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum mencoba diet semacam itu.

Diet Keto – yang terdiri dari 80 persen lemak dan 15 persen protein – memaksa tubuh untuk melakukan sesuatu yang tidak secara alami dilakukan, kata Ms Fahma. Hal ini membuat tubuh memecah lemak sebagai sumber energi utamanya. Namun, Diet Keto dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti kekurangan nutrisi karena tidak memasukkan berbagai sayuran, buah-buahan dan biji-bijian dalam menunya, ia mengingatkan.

Dengan begitu banyak lemak yang harus dicerna, hal itu bisa membuat kondisi hati menjadi lebih buruk dan kadar protein dalam diet Keto juga dapat membebani ginjal. Pola makan seperti itu juga dapat menyebabkan konstipasi, perubahan suasana hati, dan pikiran yang tidak tajam.Sebagai gantinya, Ms Fahma merekomendasikan pola makan intuitif, di mana seseorang menciptakan hubungan yang sehat dengan makanan.

“Semua orang memiliki kebutuhan mereka sendiri dan mungkin perlu mengeksplorasi untuk menemukan apa yang terbaik bagi mereka,” katanya.

Cara lain untuk tetap sehat adalah aktivitas fisik teratur. “Duduk diam hampir sama seperti merokok,” kata Ms Fahma. “Jaga agar tubuh tetap bergerak – fokus pada kegiatan sehari-hari seperti memilih berjalan ke supermarket daripada mengemudi atau naik bus.”

Seseorang harus melakukan setidaknya 150 menit aktivitas fisik dalam seminggu (atau 30 menit, 5 hari per minggu).

Metode lain yang baik adalah mengurangi asupan makanan padat energi seperti gorengan atau makanan manis. Ini semua tentang membuat pilihan yang tepat, kata Ms Fahma. Misalnya, hanya dengan makan lontong tanpa semur, seseorang dapat mengurangi 300 kalori dan lemak hingga sepertiga.

Makan nasi putih sebagai ganti nasi goreng berarti mengurangi sekitar 300 kalori. Menghindari minuman bersoda yang tinggi gula seperti minuman berkarbonasi dan teh bubble juga dapat membantu. Perhatikan ukuran porsi Anda dan hindari prasmanan atau makanan yang mengalir bebas karena cenderung membuat Anda makan berlebihan.

“Perubahan besar dimulai dengan langkah kecil,” kata Ms Fahma. “Tapi begitu Anda memulainya, akan lebih mudah selanjutnya.”



Tags: diet & nutrisi untuk pasien kanker, gaya hidup yang sehat, imunoterapi, kanker stadium 4, kelangsungan hidup pasien kanker, kolonoskopi, makanan & memasak yang sehat, mamografi, mencegah kanker, pengelolaan berat badan, polip yang bersifat kanker, skrining kanker, terapi hormon, terapi yang ditargetkan / terapi target, ultrasonografi (USG) kanker