Dr Patricia Kho, Spesialis Onkologi Medis dari Parkway Cancer Centre, membagikan beberapa informasi yang berguna mengenai kanker kolorektal, tindakan pencegahan yang dapat dilakukan serta kemajuan di bidang medis.

1. Umum terjadi namun dapat diobati

Kanker kolorektal merupakan kanker yang berawal pada usus besar (kolon) atau anus (akhir dari usus besar). Kanker kolorektal merupakan kanker yang paling umum dijumpai di negara-negara maju saat ini. Orang yang tinggal di negara-negara tersebut memiliki risiko tiga kali lebih besar untuk terkena kanker jenis ini.

Di Singapura sendiri, dilaporkan terdapat 9.324 kasus kanker kolorektal yang terdiagnosa di antara tahun 2010 hingga 2014 dimana baik pria dan wanita memiliki risiko yang sama. Kini kanker kolorektal merupakan kanker yang paling umum dijumpai pada pria dan berada pada peringkat kedua sebagai kanker yang paling umum dijumpai pada wanita di Singapura. Meskipun kanker ini dapat terjadi pada usia berapapun, sebagian besar terdiagnosa pada orang yang berusia lebih dari 50 tahun. Bila terdeteksi dini, maka kanker ini dapat dicegah atau diobati secara efektif.

Sembilan puluh persen kasus kanker kolorektal selalu diawali dengan polip. Meski demikian, dibutuhkan waktu selama lima hingga 10 tahun bagi sel-sel yang normal pada lapisan usus besar atau anus untuk bermutasi dan mengalami “abnormalitas metilasi”, dimana sel-sel mengalami perubahan dan tumbuh tak terkendali. Melalui mutasi gen seiring dengan berjalannya waktu, sebuah polip yang tidak ganas dapat berubah menjadi bersifat kanker.

2. Berhati-hatilah terhadap risiko yang diturunkan

Diperkirakan bahwa sekitar lima hingga 10 persen dari semua kanker kolorektal dapat disebabkan oleh faktor keturunan.

Dua sindrom kanker kolorektal yang paling umum diturunkan adalah kanker kolorektal non-poliposis herediter/hereditary non-polyposis colorectal cancer (HNPCC) dan poliposis adenomatosa familial/familial adenomatous polyposis (FAP). Kasus HNPCC terjadi pada tiga hingga lima persen dari populasi. Kasus FAP terjadi pada kurang dari satu persen populasi.

Orang yang memiliki sindrom yang sama dengan anggota keluarganya memiliki risiko yang lebih tinggi. Sebagai contoh, orang dengan FAP dapat mengalami lebih dari ratusan polip di awal masa remajanya, sementara orang dengan HNPCC seringkali memiliki sedikitnya tiga anggota keluarga dan dua generasi yang menderita kanker kolorektal. Dalam hal ini, kanker kolorektal dapat terjadi sebelum mereka mencapai usia 50 tahun.

Penyakit radang usus (penyakit Crohn, kolitis ulseratif) juga meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker kolorektal. Risikonya menjadi lebih tinggi bila peradangan terjadi di seluruh usus besar.

3. Lihat sisi positifnya

Sejak tahun 2005 hingga tahun 2014, tingkat kelangsungan hidup telah meningkat dari 45 persen menjadi 50 persen di seluruh kelompok etnis dan baik pada pria maupun wanita.

Kemajuan di bidang medis, khususnya di bidang obat pribadi, telah meningkatkan kemungkinan untuk bertahan hidup. Profi l genomik bermanfaat dalam menyesuaikan pengobatan berdasarkan sifat kanker dan susunan genetik yang dimiliki oleh seseorang.

Obat baru seperti Cetuximab and Panitumumab, yang dengan pandai menghambat sel-sel kanker kolorektal untuk berkembang lebih lanjut, ditemukan dapat bekerja dengan baik untuk pasien-pasien stadium lanjut yang memiliki gen KRAS dan N-RAS yang tidak bermutasi (tipe liar).

Bentuk pengobatan kanker yang terbaru dan paling menjanjikan, yaitu imunoterapi yang memimpin sistem kekebalan tubuh pasien untuk melawan kanker, juga memberikan harapan bagi kelompok pasien kanker usus besar tertentu.

4. Biasakan melakukan hal yang baik

Berhentilah merokok: Tiap isapan rokok mengandung lebih dari 60 karsinogen kuat yang dapat menyebabkan kanker.

Batasi asupan alkohol: Alkohol dapat bertindak sebagai iritan. Sel-sel yang rusak dapat mencoba untuk memperbaiki diri mereka, yang mana hal ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan DNA pada sel-sel tersebut. Di usus besar dan anus, bakteri dapat mengubah alkohol menjadi sejumlah besar asetaldehida, yaitu suatu bahan kimia yang telah memperlihatkan kemampuannya untuk menyebabkan kanker pada hewan coba. Pria sebaiknya membatasi asupan alkoholnya menjadi dua minuman beralkohol per hari, sedangkan wanita satu minuman beralkohol per hari.

Berolahragalah secara teratur: Terdapat suatu hipotesa bahwa kadar insulin atau faktor pertumbuhan yang terkait insulin yang tinggi pada orang yang sangat gemuk dapat mencetuskan pertumbuhan kanker usus besar. Jagalah agar indek massa tubuh (IMT) Anda berada pada batas bawah untuk mengurangi risiko terkena kanker kolorektal.

Perhatikan diet Anda: Makanan yang mengandung daging merah dan olahan dengan keberadaan lemak hewani seperti yang dijumpai pada ham, Food consisting of red and processed meats with presence of animal fats like those found in ham, daging babi asap (bacon), sosis serta makanan khas setempat bak kwa merupakan beberapa contoh makanan yang perlu dihindari dari asupan yang berlebihan. Disarankan untuk mengkonsumsi 500 gram daging yang telah dimasak per minggu bersama dengan porsi besar sayuran hijau dan buah-buahan pada setiap waktu makan.

5. Lakukan pemeriksaan kolonoskopi

Banyak orang yang belum menyadari peran kolonoskopi dalam mencegah kanker kolorektal.

Karena dibutuhkan waktu lima hingga 10 tahun untuk sebuah polip berubah menjadi kanker, maka pemeriksaan kolonoskopi – yaitu suatu prosedur tanpa nyeri dan tidak merepotkan – dapat membuat perbedaan yang besar. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan oleh orang yang berusia 45 hingga 50 tahun, setiap lima tahun sekali.

Orang yang berisiko tinggi dengan memiliki anggota keluarga yang terkena kanker kolorektal sebaiknya menjalani pemeriksaan kolonoskopi lebih dini setelah mendiskusikannya dengan profesional medis yang relevan.

Ditulis oleh Nuraisha Teng  



Tags: kanker gastrointestinal, kanker kolorektal, karsinogen, kolonoskopi, mutasi kanker, obat kanker, polip yang bersifat kanker, riwayat kanker