Konsultan Spesialis Bedah Kolorektal Dr Ho Kok Sun membahas mengenai hal terbaru dalam skrining dan pilihan pengobatan untuk kanker kolorektal – sebuah penyakit yang sangat dapat dicegah dan diobati. 

Kanker kolorektal merupakan kanker yang paling umum dijumpai pada kaum pria dan berada di peringkat kedua sebagai kanker yang paling umum dijumpai pada kaum wanita di Singapura. Dan kanker ini bukan saja umum dijumpai, namun juga merupakan suatu penyakit yang serius. Kanker kolorektal berada di peringkat kedua sebagai penyebab kematian yang paling umum pada pria dan di peringkat ketiga sebagai penyebab kematian yang paling umum pada wanita. Untunglah kemajuan dalam teknik skrining dan prosedur bedah telah meningkatkan kemungkinan untuk mendeteksi kanker ini dan mengobatinya secara efektif.

Teknik skrining yang baru

Tes non-invasif utama untuk kanker usus melibatkan pemeriksaan terhadap darah dan tinja. Hingga 20 tahun lalu, tes tinja standar guaiac digunakan untuk mendeteksi darah samar (okul) pada tinja.

Namun, pemeriksaan tersebut tidak dapat membedakan antara darah manusia dengan jenis darah lainnya dan oleh sebab itu, orang harus berpantang makan daging selama tiga hari sebelum menjalani pemeriksaan. Sensitivitas tes berbasis guaiac hanya berkisar antara 10-30 persen namun akan meningkat bila tiga sampel yang berbeda diambil selama tiga hari berturut-turut.

Kini, terdapat tes imunokimia feses/ faecal immunochemical test (FIT) yang mendeteksi darah manusia dari usus yang lebih rendah. Tes ini sangat sensitif dan dapat mendeteksi hingga 0,3 ml darah dalam usus. Tes ini juga dapat membedakan darah manusia dari jenis darah lainnya yang mana ini berarti bahwa pasien tidak perlu menjadi vegetarian sebelum melakukan tes.

Tes yang ketiga melibatkan pendeteksian Tumor M2-PK, yaitu suatu enzim yang ditemukan dalam sel-sel kanker. Tes ini tidak bergantung pada pendeteksian darah dalam tinja dan terkenal dapat mendeteksi 80 persen kanker serta 40 persen polip. Namun, tes ini tidak tersedia di Singapura dan lebih umum digunakan di Indonesia dan Malaysia. Masih belum jelas apakah tes ini bermanfaat dan masih dibutuhkan lebih banyak data lagi.

Selain tes non-invasif untuk kanker usus, terdapat pula tes invasive, seperti enema barium, CT kolonografi dan kolonoskopi.

Ketiga tes tersebut membutuhkan persiapan usus, yang menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien. Selain itu, tes-tes ini memiliki risiko terjadinya perforasi. Risikonya sebesar satu dari 1.000 untuk kolonoskopi, satu dari 2.000 untuk CT kolonografi dan satu dari 400-4.000 untuk enema barium.

Dalam hal ketepatan, kolonoskopi dijadikan sebagai standar utama, diikuti oleh kolonografi CT dan enema barium.

Bedah laparoskopi

Setelah sebuah tumor ditemukan, maka perlu dilakukan operasi untuk membuangnya. Selama bertahun-tahun, prosedur bedah juga telah mengalami kemajuan. Sekitar 20 atau 30 tahun yang lalu, hanya ada satu solusi: bedah terbuka. Namun, hal ini telah berubah menjadi sayatan yang semakin kecil dan saat ini, dokter ahli bedah dapat menggunakan bedah laparoskopi untuk memperkecil ukuran sayatan yang perlu dilakukan. Sayatan yang lebih kecil berarti nyeri yang lebih sedikit, penyembuhan yang lebih cepat dan kemungkinan terjadinya infeksi pun lebih kecil. Bedah laparoskopi kini hadir dalam beberapa pilihan: standar, robotika dan port akses tunggal.

Bedah laparoskopi standar melibatkan meletakkan sebuah kamera melalui pusar, dan menggunakan tiga hingga empat port yang berukuran 5-12 mm untuk memasukkan instrumen dan untuk membuang tumor.

Bedah port sayatan tunggal artinya adalah sebuah sayatan tunggal digunakan untuk semua instrumen masuk melalui port yang sama. Instrumen-instrumen berlekuk yang lebih canggih digunakan untuk prosedur ini.

Bedah robotika merupakan yang paling mutakhir dalam bedah laparoskopi, dimana lengan robot digunakan untuk melakukan operasi. Dengan mengandalkan lengan robot dapat mengurangi kelelahan pada dokter ahli bedah dan meningkatkan ketepatan. Teknik ini juga menawarkan pembesaran yang lebih tinggi (hingga 10 kali, bila dibandingkan dengan tiga kali pada bedah laparoskopi). Hasilnya, bedah robotika memungkinkan dilakukannya pemotongan yang sangat tepat yang melindungi semua saraf.

Bedah laparoskopi juga dibantu oleh pengembangan pemasangan stent di usus. Ini merupakan suatu prosedur untuk menangani obstruksi usus yang mengubah pembedahan darurat menjadi pembedahan elektif.

Akibat tumor, beberapa pasien akan masuk rumah sakit dengan keluhan kembung dan muntah karena usus mereka yang tersumbat menyebabkan tinjanya menumpuk. Sebelumnya hal ini merupakan suatu situasi darurat dan oleh sebab itu tidak dapat ditangani dengan bedah laparoskopi.

Dengan pemasangan stent pada usus, sebuah stent, yang tampak seperti kawat jala, dimasukkan untuk membuka usus. Hal ini membuat usus yang menggembung menjadi kempis dan tinja dapat keluar secara alami. Pasien dapat pulang ke rumah, beristirahat dan mengumpulkan tenaga selama minggu berikutnya sehingga bedah laparoskopi dapat dilakukan pada mereka kemudian.

Jenis bedah invasif minimal lainnya

Selain bedah laparoskopi, dapat digunakan bentuk lain dari bedah invasif minimal, tergantung pada lokasi tumor. Bedah endoskopi adalah bedah yang dilakukan melalui usus; tidak ada pemotongan pada lambung. Bedah jenis ini cocok untuk polip yang besar namun masih belum jelas apakah dapat dilakukan untuk kanker stadium dini.

Untuk kanker rektum yang sangat rendah, terdapat bedah trans-anus sebagai sebuah pilihan. Prosedur ini membuat kanker pada lokasi yang rendah lebih mudah untuk dicapai namun prosedur ini memiliki masalah keamanan karena bila jahitan untuk menutup rektum terbuka, maka sel-sel tumor akan terpapar pada sayatan.

Pada akhirnya, terdapat sebuah prosedur yang lebih bersifat percobaan yang dikenal sebagai NOTES, yang mana merupakan singkatan dari natural orifice trans-luminal endoscopic surgery (bedah endoskopi trans-luminal lubang alami). Dengan NOTES, tidak ada sayatan yang dilakukan pada kulit. Sebagai gantinya, instrument dimasukkan melalui lubang-lubang alami dan kemudian sayatan dibuat melalui lambung, usus atau vagina. Prosedur bedah ini jauh lebih sulit daripada bedah laparoskopi konvensional karena peralatan bedahnya masih belum terlalu sesuai.

Penyembuhan juga sulit pada NOTES karena adanya kemungkinan terjadinya infeksi yang jauh lebih berbahaya daripada infeksi yang mungkin terjadi pada bedah laparoskopi. Sayatan kulit dapat menyebabkan infeksi luka, sementara masalah dengan penyembuhan otot dapat menyebabkan hernia. Namun, bila Anda memiliki masalah dengan usus, Anda dapat mengalami perinotis, yang merupakan suatu kondisi darurat medis.

Kesimpulan

Kemajuan dalam skrining kanker kolorektal berarti bahwa kini mungkin untuk mendeteksi bentuk kanker yang mematikan ini lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Selain itu, kemajuan dalam bedah invasive berarti bahwa pasien yang menjalani prosedur jenis ini mengalami nyeri yang lebih sedikit, rawat inap yang lebih singkat di rumah sakit, infeksi yang lebih sedikit dan hasil keseluruhan yang lebih baik.

Jimmy Yap  



Tags: bedah (invasif minimal) laparoskopi untuk kanker, bedah robotik, diagnosis kanker, kanker gastrointestinal, kanker kolorektal, kanker yang umum, kolonoskopi, polip yang bersifat kanker