Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah, mendeteksi dan mengobati kanker pembunuh No.1 di Singapura saat ini , para ahli menjelaskan pada seminar yang baru saja dilaksanakan beberapa waktu yang lalu.

Ketika manajer kredit berusia 53 tahun, Ms Catherine Wong merasakan sakit perut dan sembelit parah, dia dengan cepat menemui gastroenterologi yang merekomendasikannya untuk melakukan kolonoskopi.

Dia dengan berani menjalani prosedur tersebut tiga tahun lalu dan tidak pernah menyesali keputusan tersebut.

Intervensi dini tersebut membuat polip kanker di usus Ms Wong dapat dihilangkan pada stadium awal. Tapi lebih dari itu, pengalaman itu merupakan peringatan bagi dirinya.

“Saya menjalani gaya hidup yang tidak sehat. Saya terlalu sering mengalami stres karena pekerjaan dan memiliki pola makan yang buruk. Olahraga lari yang dulu menjadi rutinitas bahkan saya lupakan.”

Ms Wong, seperti banyak orang lain yang baru saja menghadiri seminar ‘Mencerna bagian penting pada kesehatan usus’ yang diselenggarakan oleh Channel NewsAsia, muncul sebagai pendukung dalam menyebarkan gaya hidup sehat dalam mencegah kanker.

Seminar kesehatan itu penuh sesak, dengan ballroom dipenuhi oleh peserta yang bersemangat untuk mendapat informasi langsung dari sekumpulan dokter ahli kanker yang membahas tentang kesehatan usus, kanker yang berhubungan dengan sistem pencernaan dan perawatan medis baru untuk mengobati kanker pembunuh terkemuka di dunia ini.

Dr Patricia Kho, Konsultan Senior Onkologi Medis di Parkway Cancer Centre, memulai seminar dengan berbicara mengenai kanker pembunuh paling umum ditemui pada pria dan wanita di Singapura ini- kanker kolorektal.

Kanker kolorektal mempunyai risiko tiga kali lebih tinggi terjadi di negara-negara maju, tetapi Dr Kho mengatakan bahwa hal ini tidak perlu ditakuti karena kanker kolorektal bisa dicegah.

“Selama periode lima sampai 10 tahun, sel-sel usus yang normal dapat menjalani fase proliferasi hiper dan akan menjadi tumor jinak yang disebut adenoma,” katanya. “Jika adenoma ini tidak dihilangkan, setelah perubahan genetik, adenoma akan menjadi tumor kanker usus ganas.”

Periode lima sampai 10 tahun inilah yang tidak disadari kebanyakan orang. Orang-orang ini tidak menyadari untuk menjalani kolonoskopi bahkan jika mereka tidak memiliki gejala seperti perubahan kebiasaan buang air besar, sakit perut, penurunan berat badan yang tidak jelas, atau adanya darah di tinja.

“Pemeriksaan harus dilakukan ketika Anda sehat untuk mencegah Anda menjadi tidak sehat,” ujar Dr Kho menyimpulkan.

Bagi Ms Wong, yang hampir terkena kanker, pesan Dr Kho ini sangat relevan.

“Seandainya saya tidak menjalani kolonoscopi pada usia 50 tahun, saya tidak akan menyadari bahwa ada kanker tumbuh di dalam diri saya,” kata Ms Wong yang juga mengakui bahwa ia tidak memiliki gejala seperti darah dalam tinjanya.

Menurut Dr Kho, penduduk Singapura yang berusia antara 45 dan 50 mempunyai risiko menengah untuk terkena kanker kolorektal dan hal ini menjelaskan mengapa orang-orang dalam kelompok usia ini mempunyai kebutuhan untuk menjalani kolonoskopi.

Bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker kolorektal, gejala atau riwayat pribadi dengan penyakit radang usus atau polip kolon, pemeriksaan pada usia lebih dini sangat dianjurkan.

“Kita semua cinta bak kwa, hamburger dan sate tapi kita harus berbuat lebih banyak supaya tidak terkena kanker kolorektal. Batasi asupan daging olahan karena makanan ini meningkatkan risiko kanker kolorektal, berhenti merokok karena mengandung zat karsinogenik yang menjadi penyebab kanker, berolahraga untuk menjaga indeks massa tubuh (BMI) dalam batas normal dan makan lebih banyak buah dan sayuran.

“Lebih penting lagi, lakukan pemeriksaan secara rutin,” saran Dr Kho.

Beruntung, saat ini dengan adanya kemajuan pada pengobatan yang disesuaikan untuk tiap orang, perawatan yang ditargetkan dan operasi, telah meningkatkan tingkat harapan hidup pasien kanker kolorektal menjadi 52 persen. Saat ini, kanker kolorektal termasuk dalam salah satu dari lima kanker yang bisa disembuhkan di Singapura.

Dengan terapi yang ditargetkan, obat-obatan baru seperti Cetuximab dan panitumumab dapat dengan jitu memblokir sel-sel kanker kolorektal untuk berkembang lebih lanjut. Obat ini bekerja dengan baik pada individu dengan stadium lanjut yang membawa gen non-bermutasi (tipe-liar) KRAS dan NRAS.

Obat lainnya yang juga mempunyai metode sama, Bevacizumab dapat digunakan untuk menghentikan terbentuknya pembawa tumor di pembuluh darah sehingga tumor ‘kelaparan’ dan mencegah mereka dari berkembang biak lebih lanjut.

Bentuk terbaru dan paling menjanjikan dari pengobatan kanker adalah imunoterapi yang memakai metode pertahanan kekebalan tubuh untuk melawan kanker.

Ibu rumah tangga, Rahima Noor, yang terkesan dengan penemuan ini percaya bahwa mereka akan memberikan harapan baru bagi individu yang berjuang melawan kanker.

Perempuan berusia 58 tahun ini belajar lebih banyak tentang diet lima warna dari Dr Tan Yu- Meng, Konsultan Bedah di FeM Surgery ketika ia berbicara mengenai kanker hati. Menurutnya, ia tertarik untuk memperkenalkan makanan yang terdiri dari serangkaian buah-buahan dan sayuran dari kelompok biru atau ungu, hijau, putih, kuning atau oranye dan merah.

Dr Tan menjelaskan bahwa gaya hidup yang terdiri dari konsumsi makanan berlemak, merokok dan konsumsi alkohol berlebihan mengakibatkan banyak orang mengidap kanker hati.

Vaksinasi terhadap hepatitis B atau Hepatitis C mungkin menghindarkan beberapa orang dari mengidap sirosis, kerusakan hati jangka panjang atau kronis yang menyebabkan luka pada hati, yang dapat menyebabkan kanker hati.

Namun, dengan tren konsumsi berlebihan makanan beracun yang tinggi lemak dan alkohol, “Dokter saat ini melihat ada lebih banyak pasien dengan kanker hati sebagai akibat dari gaya hidup yang buruk,” jelas Dr Tan.

Untuk Ibu Rahima, dia telah memantapkan diri untuk membuat makanan keluarga yang lebih bergizi dan sehat.

“Singapura adalah surga makanan dan warga Singapura tentu suka makan tapi hal terakhir yang Anda inginkan adalah masalah dengan kesehatan Anda!” Kata Madam Rahima.

Oleh Nuraisha Teng

Cara melawan kanker kolorektal

  • Batasi asupan daging olahan.
  • Makan lebih banyak buah dan sayuran.
  • Berhenti merokok.
  • Olahraga untuk mempertahankan indeks BMI yang lebih rendah.
  • Melakukan pemeriksaan secara rutin.

     

Bagian penting dari seminar lainnya

Perkembangan di dunia medis: Dr Dean Koh, Konsultan Senior dan Spesialis Bedah dari Asosiasi Klinik Kolorektal menunjukkan bagaimana kemajuan medis, khususnya di dunia bedah, dapat meningkatkan peluang pasien untuk bertahan hidup.

Laparoskopi, suatu teknik yang memungkinkan ahli bedah untuk melakukan prosedur bedah hanya dengan sayatan kecil tanpa melakukan sayatan besar yang bisa dilakukan dengan operasi bedah konvensional atau memakai robot dapat meningkatkan presisi bedah sehingga menjamin berkurangnya komplikasi dan waktu pemulihan yang lebih cepat.

Probiotik: Profesor Lee Yuan Kun dari Departemen Mikrobiologi di National University of Singapore menjelaskan bahwa bakteri baik seperti Lactobacillus tersebut dan Bifi dobacterium berguna dalam pengobatan masalah umum usus seperti infeksi diare.

Kanker pankreas: Dr Liau Kui Hin, Direktur Medis dan Senior Konsultan Ahli Bedah di Nexus Surgical Associates menjelaskan bagaimana kemajuan teknologi di dunia kedokteran telah memperbaiki perawatan bagi kanker perut dan pankreas.

Perbaikan ini termasuk pengujian protein chromogranin A gen sebagai indikator adanya gejala kanker neuroendokrin, teknologi pemeriksaan yang dapat melihat tumor lebih jelas, teknik bedah yanag semakin membaik, terapi molekuler dan imunoterapi.



Tags: diet & nutrisi untuk pasien kanker, imunoterapi, kanker gastrointestinal, kanker hepatitis, kanker kolorektal, karsinogen, kolonoskopi, mencegah kanker, obat kanker, polip yang bersifat kanker, seminar & lokakarya, terapi yang ditargetkan / terapi target