HPV dan kanker serviks

Dr Wong Chiung Ing dari Parkway Cancer Centre membahas mengenai hubungan antara human papillomavirus dan kanker serviks.

Kanker serviks merupakan salah satu dari 10 kanker yang menduduki peringkat teratas sebagai kanker yang umum dijumpai pada wanita di Singapura.

Dari tahun 2011 hingga 2015, sekitar 70 wanita meninggal akibat kanker serviks tiap tahunnya, dan sekitar 200 kasus baru didiagnosis tiap tahunnya di Singapura.

Kanker serviks terjadi pada jaringan serviks (organ yang menghubungkan antara rahim dan vagina). Kanker ini sangat dapat dicegah, dideteksi, dan diobati – bila langkah-langkah yang tepat dilakukan untuk mengurangi risikonya. Oleh sebab itu, sangat dianjurkan untuk melakukan skrining dan berobat sedini mungkin bila terdeteksi ada kanker serviks.

Human papillomavirus (HPV) merupakan infeksi menular seksual yang paling umum dijumpai. Infeksi HPV merupakan faktor risiko utama untuk berkembangnya kanker serviks. Terdapat sekitar 150 jenis virus ini, dan beberapa di antaranya – kurang dari 20 – dapat menyebabkan terjadinya kanker serviks dan kanker lainnya, seperti kanker vulva, vagina, penis, kanker kepala dan leher, serta kanker anus.

Bagaimana HPV menyebabkan terjadinya kanker

Infeksi HPV, yang ditularkan secara seksual, sangatlah umum dijumpai: Satu dari dua wanita yang aktif secara seksual akan terinfeksi. Dalam sebagian besar kasus – 80 hingga 90 persen – infeksi bersifat sementara, dan virus akan pergi.

Namun, dalam sebagian kecil kasus, virus tetap tinggal di dalam serviks. Hal ini mengakibatkan terjadinya infeksi yang tak kunjung sembuh, yang bila tidak hilang dalam kurun waktu tertentu, dapat memicu terjadinya pertumbuhan sel-sel secara tidak normal pada lapisan dalam. Sel-sel ini kemudian dapat mengalami perubahan pra-kanker, pra-invasif yang disebut Cervical Intraepithelial Neoplasia (CIN), yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya kanker yang invasif.

Proses ini dapat memakan waktu bertahun-tahun: Dalam sebagian besar kasus, infeksi dimulai ketika wanita berusia 20-an tahun, menyebabkan terjadinya perubahan pra-kanker ketika mereka berusia 30-an, dan berkembang menjadi kanker hanya ketika mereka berusia 40-an. Karena tidak ada tanda atau gejala saat perubahan ini terjadi, maka skrining secara teratur sangatlah penting; skrining akan membantu mendeteksi dini adanya perubahan, sehingga dapat diambil tindakan sesegera mungkin.

Namun, tidak semua kasus infeksi HPV akan menyebabkan terjadinya kanker serviks. Sebagian besar kasus infeksi akan sembuh dengan sendirinya, sementara yang lainnya menyebabkan terjadinya pertumbuhan pada kulit kelamin, atau kutil kelamin. Meskipun ini dapat menimbulkan rasa nyeri atau tidak nyaman, mereka bukanlah kanker.

Siapa sajakah yang memiliki risiko lebih besar

Wanita yang aktif secara seksual menghadapi risiko HPV yang lebih besar, sehingga memiliki risiko yang lebih besar pula untuk terkena kanker serviks.

Wanita yang memiliki riwayat penyakit menular seksual, seperti herpes dan kutil kelamin, juga menghadapi risiko yang lebih besar untuk terkena kanker serviks, sama seperti mereka yang memiliki banyak pasangan seksual, atau pasangan yang memiliki banyak pasangan lainnya, dan mereka yang mulai melakukan hubungan seksual tanpa pelindung sebelum usia 16 tahun.

Merokok, serta penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang, juga dapat meningkatkan risiko terkena infeksi HPV. Wanita yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah juga menghadapi risiko yang lebih besar.

Tanda dan gejala

Tidak ada tanda dan gejala pada infeksi HPV, perubahan pra-kanker, atau bahkan dalam beberapa kasus kanker serviks stadium dini. Dalam banyak kasus, gejala dapat timbul hanya ketika sel-sel kanker mulai menyerang jaringan di sekitarnya. Ini membuat skrining secara teratur menjadi semakin penting.

Beberapa tanda dan gejala kanker serviks stadium lanjut yang harus diperhatikan meliputi:

  • Pendarahan vagina setelah melakukan hubungan seksual, di antara masa haid, atau setelah menopause
  • Keluar cairan yang berdarah, banyak, atau berbau
  • Nyeri punggung atau panggul
  • Nyeri atau sulit buang air kecil
  • Sembelit kronis dan merasa masih ada kotoran meskipun usus sudah kosong
  • Bocornya air seni atau tinja dari vagina

Bagaimana skrining dilakukan

Skrining dapat menemukan kondisi yang mengarah kepada pra-kanker sebelum mereka menjadi kanker yang invasif. Penting untuk melakukan skrining kanker serviks secara teratur karena pada saat gejala terdeteksi, biasanya sudah terlambat.

Bila kanker ditemukan pada stadium sangat dini, maka angka kelangsungan hidup selama lima tahun dapat mencapai 90 persen. Angka ini jatuh secara drastis menjadi kurang dari 10 persen bila kanker terdeteksi pada Stadium 4, ketika kanker telah keluar ke organ-organ lain, seperti usus atau kandung kemih, atau telah menyebar ke organ-organ lainnya, seperti kelenjar getah bening yang jauh letaknya, hati, paru, dan tulang.

Salah satu metode skrining kanker serviks yang paling umum adalah Pap smear dan tes human papillomavirus (HPV). Keduanya dilakukan di klinik rawat jalan.

Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan sebuah instrumen plastik atau metal, yang disebut spekulum, untuk melebarkan vagina. Kemudian dokter atau perawat akan memeriksa vagina dan serviks, serta mengambil beberapa sel dari serviks dan area di sekitarnya dengan sebuah penyeka. Kemudian sel-sel ini ditempatkan pada sebuah kaca mikroskop dan dikirim ke laboratorium untuk diperiksa apakah mengandung sel-sel yang tidak normal.

Namun, perlu dicatat bahwa Pap smear tidak selalu benar – yang artinya adalah ia dapat memberikan hasil yang salah, sebagai contoh, bila pengambilan contoh dari seluruh serviks tidak dilakukan dengan benar. Oleh sebab itu, penting untuk mewaspadai gejala-gejala kanker serviks.

Wanita harus mulai melakukan skrining kanker serviks pada usia 21 tahun, atau dalam waktu tiga tahun sejak aktivitas seksual yang pertama – mana yang lebih dulu dicapai.

Vaksinasi

Meskipun infeksi HPV tidak dapat diobati, wanita dapat mengurangi risiko infeksi dan terkena kanker yang terkait HPV dengan melakukan vaksinasi.

Vaksin HPV terbukti dapat mencegah 70 hingga 80 persen kanker serviks. Vaksin ini telah mendapatkan persetujuan untuk digunakan pada wanita berusia 9 hingga 26 tahun, dan direkomendasikan sebelum mereka memiliki kontak seksual dan terpapar dengan HPV. Jadwal vaksin HPV untuk anak berusia di bawah 12 tahun adalah dua dosis, diberikan sedikitnya dalam selang enam bulan. Jadwal yang umum adalah tiga suntikan diberikan selama enam bulan, tiap suntikan diberikan dalam selang beberapa bulan.

Penting untuk diingat bahwa vaksinasi tidak menjamin seorang wanita tidak akan terkena infeksi HPV atau terhindar dari kanker serviks karena vaksin tidak dapat mencegah semua jenis HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks. Oleh sebab itu, tetaplah penting untuk melakukan Pap smear secara teratur.

Untuk mengurangi risiko kanker serviks sebanyak mungkin, wanita harus belajar memperhatikan gejala-gejalanya dan melakukan skrining secara teratur guna memastikan bahwa mereka dapat mendeteksi kanker secara dini.

SKRINING: DIMULAI SEJAK DINI

Wanita harus mulai melakukan skrining kanker serviks pada usia 21 tahun atau dalam waktu tiga tahun sejak aktivitas seksual mereka yang pertama, mana yang lebih dulu dicapai.

  • 21–29 tahun: Lakukan Pap smear setiap 3 tahun sekali
  • 30–64 tahun: Lakukan Pap smear dan tes HPV setiap 5 tahun sekali, atau Pap smear setiap 3 tahun sekali
  • 65 tahun dan lebih tua: Anda dapat berhenti melakukan skrining bila hasil-hasil sebelumnya normal

Kanker serviks sangat dapat dicegah, dideteksi, dan diobati – bila diambil langkah-langkah yang tepat untuk mengurangi risikonya.

Human papillomavirus (HPV)

  • Merupakan infeksi menular seksual yang paling umum dijumpai.
  • Merupakan faktor risiko utama kanker serviks.
  • Satu dari dua wanita yang aktif secara seksual akan terinfeksi, meskipun virus akan hilang dalam 80 hingga 90 persen kasus.
  • Dalam beberapa kasus, virus tetap tinggal di dalam serviks dan menyebabkan infeksi yang tak kunjung sembuh, yang dapat memicu pertumbuhan yang tidak normal dalam sel-sel pada lapisan dalam. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan pra-kanker, pra-invasif, yang pada akhirnya dapat menjadi kanker yang invasif.

Kanker serviks

  • Terjadi di dalam jaringan serviks.
  • Sebagian besar kanker serviks disebabkan oleh HPV.
  • Dapat terjadi sejak usia muda.
  • Menduduki peringkat ke-10 kanker yang paling umum dijumpai pada wanita di Singapura, peringkat ke-4 yang paling umum dijumpai di dunia.
  • 200 kasus baru terdiagnosis setiap tahunnya di Singapura.


Tags: kanker vagina, kanker virus papiloma manusia (HPV), kanker wanita (kebidanan), kanker yang umum, pap smear, skrining kanker, vaksinasi