Angeline Lo diobati oleh Dr Anselm Lee ketika ia menderita kanker. Kini ketika ia sendiri menjadi seorang dokter, ia tahu persis apa yang dibutuhkan oleh para pasiennya.

Dr Angeline Lo melakukan lebih banyak hal selain mengobati penyakit para pasiennya. Tidak peduli sesibuk apapun dirinya, ia selalu meluangkan waktu untuk duduk dan berbincang dengan mereka dan para perawat kanker mereka, berbicara kepada mereka mengenai pengobatan dan perkembangan mereka, serta memberikan mereka keyakinan serta  penghiburan yang mereka butuhkan.

“Menyembuhkan hati mereka,” ujar dokter spesialis gastroenterologi di Prince of Wales Hospital di Hong Kong ini “merupakan suatu bagian penting dalam penatalaksanaan pasien.”

Dokter yang berusia 35 tahun ini merasakan empati yang sangat kuat akan apa yang dilalui oleh para pasien karena ia sendiri pernah menjadi seorang pasien. Hampir 25 tahun yang lalu, Dr Lo berjuang dalam pertempuran yang sulit melawan kanker.

Hal itu berawal ketika Dr Lo baru berusia 11 tahun. Pada suatu hari, setelah ia mandi, ibunya membantu menyisir rambutnya dan menemukan bahwa kulit kepalanya tampak bengkak. Menduga ada yang tidak beres, ibunya membawanya untuk diperiksa oleh seorang dokter spesialis bedah saraf. Pemindaian CT menunjukkan bahwa ia memiliki benjolan pada kulit kepalanya. Belakangan operasi menunjukkan bahwa benjolan ini adalah kanker.

Pada saat itu, ujar Dr Lo, ia tidak mengerti betapa berbahayanya hal tersebut. “Saya terlalu muda dan tidak menyadari bahwa sebenarnya itu merupakan kondisi yang sangat serius dan dapat mengancam jiwa,” katanya. “Saya ingat bahwa saya sedih ketika saya tahu bahwa saya tidak dapat pergi ke sekolah selama beberapa bulan.”

Orang tua Dr Lo juga mencoba menutupi hal tersebut dengan mengatakan bahwa tumornya bersifat jinak. “Saya baru menyadari bahwa itu adalah kanker ketika belakangan saya menjadi seorang mahasiswa kedokteran,” ujarnya.

Dr Lo harus menjalani dua operasi besar, yang dilakukan oleh salah satu dokter bedah terkenal, yaitu Dr Fung Ching Fai, di Queen Mary Hospital.

“Ia menyelamatkan hidup saya,” ujarnya. Pada operasi pertama, tumor diangkat bersama dengan sebagian dari tulang tengkoraknya, sehingga menyebabkan sebagian kepalanya menjadi “lunak” tanpa adanya perlindungan dari tulang. Kemudian ia diberikan kemoterapi, dan setelahnya dioperasi kembali untuk memasukkan sebuah tengkorak sintetis untuk melindungi otaknya.

Pada saat itu, seluruh keluarganya, mulai dari orang tua dan nenek hingga paman dan bibi, terus berada di sampingnya. “Mereka semua sangat mendukung dan berperilaku seperti biasanya. Saya yakin mereka ingin saya juga tetap tenang,” ujarnya. “Mereka memasak banyak makanan lezat dan bergizi untuk saya selama masa itu.”

Pada saat itu pula Dr Lo diperkenalkan kepada Dr Anselm Lee, seorang dokter spesialis onkologi senior di departemen onkologi pediatric di Queen Mary Hospital. Sekarang Dr Lee menjabat sebagai seorang Konsultan Senior dalam bidang hematologi dan onkologi pediatric di Parkway Cancer Centre.

Ia mengatakan bahwa Dr Lee and semua dokter lainnyalah yang menginspirasinya untuk menjadi seorang dokter. “Mereka memiliki pengaruh yang sangat besar pada saya, mereka adalah panutan saya,” imbuhnya. “Saya belajar dari mereka bahwa mengobati pasien berarti jauh lebih dari sekedar mengobati penyakitnya. Saya ingin melayani semua pasien saya dengan hati yang peduli dan empati.”

Kepedulian dan belas kasihan para dokternya membantu dirinya mengatasi masa-masa sulit ketika menjalani kemoterapo. Selain nyeri luka yang hebat pada kepalanya, ia juga menderita neutropenia – jumlah sel darah putih yang rendah – dan demam tinggi setelah pemberian tiap dosis kemoterapi. “Saya mengalami mual, muntah, rambut rontok dan luka pada bibir,” kenangnya. “Tiap kali, saya harus segera kembali ke ruangan untuk diisolasi dan diberikan antibiotik. Saya merasa lemah pada saat itu.”

Terlepas dari rasa nyeri dan penderitaan yang dialaminya, Dr Lo berusaha sedapat mungkin untuk “berperilaku baik” dan kooperatif. “Saya tidak pernah meneteskan air mata ketika saya menjalani kemoterapi atau ketika saya didorong masuk untuk operasi, karena saya tidak mau keluarga saya bertambah khawatir,” ujarnya. “Satu-satunya waktu dimana amarah saya meledak dan saya menolak untuk makan adalah ketika saya diberi tahu bahwa Dr Lee akan melakukan pengambilan cairan dari bagian lumbal tulang belakang saya dengan menggunakan jarum, yang mana hal ini akan menunda keluarnya saya dari rumah sakit selama dua hari.”

Namun Dr Lo juga belajar untuk melihat berkat yang diperolehnya. “Saya selalu merasa dicintai oleh orang tua saya dan anggota keluarga lainnya, khususnya oleh nenek dan bibi saya,” ujarnya. “Semua dokter dan perawat yang saya jumpai sangatlah baik kepada saya. Saya ingat mengajari para perawat bagaimana cara membuat gelang simpul pada saat mereka beristirahat minum teh.”

Kepala sekolah dasarnya, Suster Lee, juga mengunjunginya dan mengajarinya untuk berdoa kepada Tuhan, ujar Dr Lo. “Saya mulai membangun keyakinan saya pada Tuhan dengan memanjatkan doa, yang memberikan kekuatan dan kedamaian bagi saya. Saya dibaptis dan menjadi seorang Katolik dua tahun setelah saya sembuh sepenuhnya.”

Di rumah, Dr Lo juga belajar untuk beradaptasi terhadap efek samping pengobatan. “Setelah operasi saya yang pertama, saya sangat berhati-hati dalam melindungi kepala saya, karena sebagiannnya tidak terlindungi oleh tulang tengkorak selama beberapa bulan tersebut,” ujarnya. “Rumah saya sangatlah bersih; karena saya berada dalam kondisi imunosupresi setelah kemoterapi, saya tidak diperbolehkan keluar rumah, untuk menghindari infeksi. Saya tidur cepat dan makan yang banyak.”

Bahkan setelah ia sembuh sepenuhnya, Dr Lo harus menghindari olah raga yang melibatkan kontak tubuh, seperti permainan bola voli dan bola basket, untuk mencegah terjadinya cedera kepala. Meski demikian, untunglah siswi SD kelas 5 ini dapat melanjutkan mengerjakan pekerjaan rumah dan revisinya di rumah, sehingga ia dapat naik ke kelas 6 SD meskipun ia tidak masuk sekolah selama setengah tahun.

Pengalaman ini juga membuka matanya. Selama di rumah sakit, ia telah melihat banyak anak kecil yang menderita, sementara yang lainnya ditinggalkan oleh orang tuanya setelah mereka mengetahui bahwa anak tersebut memiliki cacat yang serius atau cacat lahir. “Saya tahu bahwa saya sungguh sangat beruntung dan saya harus menghargai semua yang saya miliki dan selalu bersyukur,” ujarnya. “Saya menyadari bahwa kesehatan bukanlah sesuatu kita terima begitu saja.”

Kini, Dr Lo telah memenuhi impiannya. Sebagai seorang dokter spesialis dalam bidang gastroenterologi dan hepatologi di departemen penyakit dalam di Prince of Wales Hospital, ia masih terus menjalani hidupnya berdasarkan pelajaran yang ia peroleh dari perjalanannya melalui kanker.

“Saya dapat memahami sepenuhnya perasaan dan kebutuhan para pasien saya, baik secara fisik maupun mental, karena sebenarnya di masa lalu saya juga adalah seorang pasien,” ujarnya. “Saya menganggap ini sebagai suatu ‘bonus’ bagi pelatihan saya untuk menjadi seorang dokter yang peduli.”

Kok Bee Eng



Tags: