Keajaiban…atau mitos?

Beberapa jenis buah dan sarinya dipercaya dapat membantu dalam pengobatan kanker. Apakah ini mitos atau fakta? Gerard Wong, Ahli Diet Senior dari Parkway Cancer Centre membahas beberapa di antaranya.

Manggis

Tumbuhan tropis yang berasal dari Asia Tenggara ini digunakan dalam obat tradisional untuk mengobati infeksi kulit, luka dan diare. Hal ini menyebabkan beberapa orang mempromosikan penggunaan jus manggis untuk pengobatan kanker. Produk yang mengandung buah ini sekarang secara luas dijual sebagai “suplemen botani cair”.

Ada beberapa kebenaran tentang khasiat penyembuhan manggis: Kulit buahnya merupakan sumber yang kaya akan polifenol – mikro-nutrien yang ditemukan dalam makanan yang berasal dari tumbhan – yang dikenal sebagai xanthone. Xanthone yang berasal dari manggis memiliki beberapa khasiat anti-bakteri, anti-jamur, anti-radang dan anti-kanker. Namun, hanya xanthone tertentu yang memiliki khasiat-khasiat ini, dan kemungkinan khasiat tersebut hanya berlaku pada jenis kanker tertentu.

Meski demikian, efektivitas manggis sebagai bahan yang dapat menyembuhkan kanker, masih belum diketahui. Belum banyak penelitian yang dilakukan pada manusia untuk membuktikan khasiat tersebut. Selain itu, tidak ada bukti yang memadai mengenai khasiat “suplemen botani cair” yang mengandung manggis bagi kesehatan.

Sirsak

Sirsak telah lama digunakan di banyak negara sebagai pengobatan tradisional untuk berbagai penyakit yang umum. Di Afrika, sirsak digunakan untuk mengobati batuk, nyeri dan penyakit-penyakit kulit. Di India, buah dan bunganya digunakan sebagai obat untuk mengatasi lender. Dan di Malaysia, campuran dari daun sirsak dan kembang sepatu yang dihancurkan dipercaya dapat mencegah pingsan.

Sari sirsak dikatakan dapat membunuh beberapa jenis sel kanker hati dan payudara. Dan memang benar bahwa sari daun sirsak menunjukkan khasiat anti-radang, fungisidal dan anti-mikroba – pada hewan. Namun, belum ada penelitian yang dilakukan pada manusia.

Kemungkinan juga ada beberapa efek samping dari terlalu banyak makan sirsak: Beberapa zat kimia tertentu dalam sirsak dapat menyebabkan perubahan pada saraf dan gangguang pada gerakan bila buah ini dimakan dalam jumlah banyak.

Laetrile

Laetrile, atau amygdalin /vitamin B17, adalah suatu senyawa kimia yang terjadi secara alami yang ditemukan pada biji aprikot, apel, persik dan almond mentah.

Laetrile dipecah oleh enzim dalam usus untuk menghasilkan sianida, yang bersifat sitotoksik – yaitu, toksik terhadap sel hidup. Hal ini memicu adanya klaim bahwa biji aprikot dan buah lainnya yang mengandung laetrile dapat menyembuhkan kanker dengan membunuh sel-sel kanker namun tanpa membahayakan sel-sel jaringan yang normal.

Namun, penelitian pada hewan, tidak mendukung klaim tersebut. Sebuah uji klinik yang dilakukan pada akhir tahun 1970-an, yang didukung oleh National Cancer Institute di Amerika Serikat, tidak menemukan manfaat dari amygdalin. Pada kenyataannya, beberapa pasien dalam penelitian tersebut mengalami efek toksik dari sianida.

Sebuah tinjauan sistematis setelah itu juga menyimpulkan bahwa amygdalin tidak efektif dalam melawan kanker. Laetrile telah dilarang di Amerika Serikat oleh Food and Drug Administration (FDA) dan juga tidak diperbolehkan di Uni Eropa. Namun, laetrile telah kembali muncul, dengan label “Vitamin B17”.

Delima

Jus delima digembar-gemborkan dapat menurunkan kolesterol dan tekanan darah, sebuah klaim yang didukung oleh beberapa penelitian. Penelitian yang dilakukan baru-baru ini juga telah memperkuat kepercayaan bahwa delima dapat membantu untuk mencegah atau menyembuhkan kanker.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sari delima secara selektif menghambat pertumbuhan sel-sel kanker payudara, prostat, usus dan paru dalam kultur.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan baru-baru ini, suatu campuran yang terdiri dari the hijau, delima, brokoli dan kurkumin yang dikonsumsi sebagai suplemen, tampak mengurangi laju peningkatkan antigen spesifik prostat/prostate-specific antigen (PSA) pada pria yang menderita kanker prostat. Namun, efek ini tidak dapat dikaitkan semata-mata pada jus tersebut, dan datanya pun saling bertentangan.

Memang, banyak dari penelitian yang telah dilakukan tidak dapat memberikan kesimpulan, karena terbatasnya jumlah penelitian yang telah dilakukan pada manusia.

Sebagai contoh, beberapa penelitian menunjukkan bahwa sari delima dapat membantu mengurangi produksi estrogen, namun implikasinya terhadapat kanker payudara dan manusia masih belum diketahui.

Dan meskipun tidak ada efek tak diharapkan yang berarti pada orang yang minum jus delima sebanyak 240 ml setiap hari selama lebih dari dua tahun, orang yang menderita diabetes harus memperhatikan kandungan gula dalam buah ini.

Jus mengkudu

Berasal dari buah pada pohon tropis yang disebut morinda citrifolia (dikenal sebagai murbei India), jus mengkudu digunakan dalam banyak budaya Polinesia sebagai obat tradisional untuk infeksi dan juga sebagai tonik umum.

Penelitian di laboratorium dan pada hewan menunjukkan bahwa jus ini memiliki khasiat anti-bakteri, anti-jamur, anti-radang dan anti-oksidan, serta kemungkinan juga memilikiefek anti-kanker pada hewan. Namun, uji klinik tidak menunjukkan adanya efek yang sama pada manusia.

Dan meskipun jus mengkudu efektif dalam mengurangi terjadinya mual dini pasca operasi pada manusia, jus ini juga dilaporkan dapat menyebabkan hepatitis akut, setidaknya pada sebuah kasus dimana seorang wanita yang berusia 62 tahun meminum jus ini sebanyak 2 liter setiap hari selama tiga bulan.

Just mengkudu juga memiliki kadar gula dan kalium yang tinggi, yang secara berurutan dapat mempengaruhi pasien yang menderita diabetes dan masalah ginjal.

Jamu juice

Jamu adalah obat herbal tradisional dari Indonesia yang terbuat dari akar, kulit pohon, bunga, biji-bijian dan buah-buahan. Terdapat banyak variasi dari obat ini; versi yang berasal dari akar meliputi kunyit, asam dan gula aren.

Jamu telah lama digembar-gemborkan sebagai tonik kesehatan dan obat untuk banyak penyakit, termasuk kanker.

Yang jelas, kunyit memiliki khasiat anti-radang dan anti-oksidan. Dalam sebuah penelitian yang melibatkan pasien yang mengkonsumsi kurkumin (sebuah zat yang terkandung dalam kunyit) secara oral sebelum menjalani operasi, terlihat bahwa kurkumin dapat mengatasi turunnya berat badan dan hilangnya nafsu makan. Dalam penelitian lainnya, kunyit terlihat mengurangi efek samping yang ditimbulkan oleh pengobatan.

Ketika sebuah krim berbasis kunyit digunakan oleh pasien kanker kepala dan leher yang menjalani radioterapi, terlihat adanya efektivitas dalam mengurangi terjadinya dermatitis yang dipicu oleh radioterapi. Beberapa penelitian pada hewan juga memperlihatkan bahwa kunyit memiliki khasiat anti-kanker pada tikus yang telah terpapar karsinogen.

Namun, penelitian pada manusia masih terbatas, sehingga belum ada bukti yang cukup untuk mendukung klaim bahwa kunyit berkhasiat sebagai anti-kanker.

Ada pula efek samping yang dapat timbul akibat mengkonsumsi kunyit. Karena efek anti-trombosit yang dimilikinya, kunyit dapat meningkatkan risiko terjadinya pendarahan. Kunyit juga dapat mengganggu aktivitas beberapa obat kemoterapi dalam pengobatan kanker payudara.

Intinya… makan dengan hati-hati

Kanker merupakan sebuah penyakit kompleks yang mempengaruhi tiap orang secara berbeda, dan klaim bahwa suatu jenis makanan atau buah memiliki kekuatan untuk membasmi atau mencegah kanker sepenuhnya adalah suatu penyederhanaan yang buruk.

Meskipun buah-buah ini dan sarinya mungkin memang memiliki khasiat dalam melawan kanker, belum ada bukti yang dapat dibuat menjadi kesimpulan bahwa mereka dapat mencegah kanker atau membunuh sel-sel kanker selama pengobatan.

Pada akhirnya, diet seimbang dan gaya hidup yang sehat masih menjadi kunci utama untuk mengurangi risiko terkena kanker, menghadapi pengobatan kanker, dan pulih dengan baik setelah menjalani pengobatan kanker.



Tags: diet & nutrisi untuk pasien kanker, herbal anti-kanker, kanker kepala & leher (THT), kesalahpahaman, makanan & memasak yang sehat, mencegah kanker