Para peserta pada sebuah seminar kanker di Singapura mendengarkan mengenai pengobatan kanker terbaru yang tersedia bagi orang-orang yang menderita kanker payudara, ovarium, endometrium, paru dan darah.

Bahkan ketika kanker telah menjadi semakin umum di Singapura, para peneliti telah menemukan cara untuk memperpanjang hidup para pasien kanker.

Itu adalah pesan yang diberikan dalam sebuah seminar yang berjudul Understanding Cancer and Beyond, yang diselenggarakan oleh Channel NewAsia dan Parkway Cancer Centre (PCC) di Pan Pacific Singapore hotel pada tanggal 29 Juli.

Dr Khoo Kei Siong, Wakil Direktur Medis PCC, mengemukakan bahwa sejak tahun 1970-an, angka kelangsungan hidup penderita kanker telah mengalami kenaikan dari 25 persen menjadi 50 persen.

Namun, pengobatan untuk beberapa kanker tertentu memiliki perkembangan yang lebih besar daripada kanker lainnya. Pasien yang menderita kanker seperti kanker testis, melanoma, kanker prostat, limfoma Hodgkin, kanker payudara dan kanker rahim dapat bertahan hidup lebih lama dari sebelumnya.

Namun, pengobatan untuk kanker hati dan kanker pancreas tidak terlalu banyak berkembang.

Ia mengatakan bahwa terjadinya kemajuan dalam pengobatan disebabkan oleh tiga buah alasan: deteksi lebih awal, pengobatan yang efektif untuk mikrometastase dan pemahaman yang lebih baik terhadap aspek biologi kanker.

Mikrometastase adalah ketika kanker telah menyebar namun tidak dapat terlihat, bahkan dengan pemindaian canggih sekalipun. Dengan obat-obatan kemoterapi yang lebih baik dan pengobatan baru seperti terapi yang ditargetkan dan imunoterapi, mikrometastase dapat diobati dengan lebih efektif dan kematian dapat dikurangi, ujarnya.

Pemahaman yang lebih baik akan aspek biologi sel-sel kanker juga memungkinkan para dokter untuk menyerang sel-sel kanker dengan lebih akurat dan efektif. Sebagai contoh, terapi yang ditargetkan mencari biomarker spesifik yang mengidentifikasi jenis kanker tertentu untuk menemukan obat yang paling efektif untuk melawannya.

Terapi yang ditargetkan dan imunoterapi, juga memberikan peralatan yang lebih banyak bagi para dokter untuk memerangi kanker. Imunoterapi menggunakan sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan memerangi sel-sel kanker.

“Karena kecenderungan ini,” ujar Dr Khoo, “kami menduga bahwa pengobatan kanker akan semakin disesuaikan dan bersifat individual, berdasarkan pada susunan genetik dan sifat kanker.”

Dr See Hui Ti, seorang konsultan senior dalam bidang onkologi medis, berbicara mengenai kemajuan dalam pengobatan kanker yang spesifik bagi wanita. Pada kanker payudara, ia mengemukakan bahwa kini para dokter sudah mengetahui siapa saja yang tidak akan memperoleh manfaat dari kemoterapi, dan siapa saja yang akan memperoleh manfaat dari kemoterapi yang dilakukan sebelum opetasi dan bagaimana cara untuk mengurangi risiko terkena kanker.

Melalui pemeriksaan susunan genetik, para dokter spesialis onkologi kita dapat mengetahui kanker payudara jenis apa yang berisiko rendah dan oleh sebab itu tidak membutuhkan kemoterapi.

Kini para dokter juga dapat menentukan siapa yang akan memperoleh manfaat dari kemoterapi yang dilakukan sebelum operasi. Beberapa jenis kanker payudara bersifat sangat agresif namun dapat merespon kemoterapi dengan baik. Dengan melakukan kemoterapi sebelum dilakukan pembedahan, maka operasi yang dilakukan dapat melestarikan payudara. Hal ini juga berarti bahwa kita tahu seberapa baik kanker merespon kemoterapi.

Beberapa pasien juga akan memperoleh manfaat dari operasi yang dilakukan untuk mengurangi risiko. Sebagai contoh, para pasien yang memiliki risiko tinggi untuk terkena kanker payudara, kanker dapat dideteksi dengan memeriksa apakah mereka memiliki mutasi genetik. Demikian pula halnya dengan beberapa wanita yang memiliki mutasi genetik yang membuat mereka menjadi berisiko tinggi untuk terkena kanker ovarium. Bagi para wanita ini, satu-satunya cara untuk mengurangi risiko adalah dengan mengangkat kedua ovarium dan tuba fallopi sebelum terjadinya kanker.

Pada kanker endometrium (rahim), pemeriksaan susunan genetik membawa banyak harapan, ujarnya. Di masa depan, pemeriksaan ini dapat memungkinkan dokter untuk menggunakan sebuah pemeriksaan sederhana untuk mengidentifikasi jenis kanker endometrium yang diderita oleh pasien. Sebagai hasilnya, beberapa wanita bisa jadi tidak perlu menjalani operasi bila mereka memiliki kanker yang pertumbuhannya sangat lambat.

Pada bagian yang dibawakannya, Dr Lim ZiYi, seorang konsultan senior dalam bidang hematologi, berbicara mengenai suatu jenis imunoterapi yang disebut terapi sel. Ia membicarakan mengenai bagaimana sel-sel T, yang digunakan oleh tubuh untuk melawan infeksi, dapat dipersenjatai dengan Reseptor Antigen Kimerik/Chimeric Antigen Receptor (CAR) sehingga ia dapat menemukan dan membunuh kanker dengan lebih efektif.

Ia menceritakan kasus yang terjadi pada tahun 2015 dimana seorang bayi yang menderita leukemia yang sangat agresif diberikan 1ml sel-sel T CAR setelah semua pengobatan konvensional mengalami kegagalan. “Pada minggu keempat atau kelima, sel-sel leukemia mulai menghilang secara perlahan,” kisahnya.

Sejauh ini, telah diperoleh data yang sangat baik mengenai penggunaan terapi sel untuk kanker darah, seperti leukemia limfoblastik, limfoma dan myeloma, ujarnya. Kini para peneliti melihat kemungkinan untuk menggunakan terapi sel pada tumor padat.

“Kami percaya bahwa terapi sel akan menjadi sangat penting di kemudian hari, dalam hal mengobati kanker,” ujar Dr Lim. Itulah sebabnya mengapa PCC ingin membawa terapi selular kepada masyarakat dalam beberapa tahun ke depan, ujarnya.

Dr Lim Hong Liang, seorang konsultan senior dalam bidang onkologi medis, berbicara mengenai bagaiman pengobatan kanker paru telah mengalami kemajuan berkat terapi yang ditargetkan dan imunoterapi.

Ia mengemukakan bahwa untuk kanker paru yang positif memiliki mutase, pengobatan dengan terapi yang ditargetkan dan kemoterapi memperbaiki median masa kelangsungan hidup hingga 2,5 sampai tiga tahun, bila dibandingkan dengan 12 bulan jika hanya dilakukan kemoterapi saja.

Selain itu, bentuk yang lebih baru dari imunoterapi, seperti penghambat checkpoint anti-PD-1, telah terlihat dapat semakin meningkatkan kelangsungan hidup para pasien yang menderita kanker paru stadium lanjut.

Ia mengatakan bahwa ia sangat gembira karena itu merupakan cara pengobatan tambahan yang dapat ditoleransi dengan baik dan memiliki durasi respon yang lebih panjang bila dibandingkan dengan kemoterapi dan terapi yang ditargetkan. Dengan imunoterapi, angka kelangsungan hidup selama lima tahun untuk pasien kanker paru adalah sebesar 16 persen, dibandingkan dengan lima persen bila tidak dilakukan imunoterapi.

Setelah presentasi, dilakukan diskusi panel yang membahas mengenai berbagai hal. Di antaranya adalah pertanyaan apakah stres dapat menyebabkan kanker. Sebagai jawabannya, Dr See mengatakan bahwa usaha-usaha untuk membuktikan adalah keterkaitan secara langsung antara stres dan kanker telah mengalami kegagalan. Namun, ia menambahkan, stres dapat menyebabkan terjadinya kegiatan dan gaya hidup yang dapat menyebabkan kanker, seperti misalnya merokok dan makan berlebihan.

Dr Lim ZiYi menambahkan bahwa kanker disebabkan oleh banyak faktor, faktor tersebut dapat berupa genetik atau akibat lingkungan, atau diet atau merokok. Lalu, saran apa yang dapat ia berikan? Dalam semua hal, janganlah berlebihan.

Hal lain yang ditanyakan adalah apakah ada diet yang dapat mencegah kanker. Ahli Diet Senior, Fahma Sunarja, mengatakan bahwa cara terbaik untuk menurunkan risiko terkena kanker adalah dengan menghindari kelebihan berat badan, aktif, Â lebih banyak makan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, dan membatasi konsumsi makanan yang padat energi, daging yang diolah dan makanan yang diasinkan serta diawetkan.

Pengobatan kanker: Kabar baik

Angka kelangsungan hidup penderitan kanker telah meningkat dari 25 persen menjadi 50 persen selama 40 tahun terakhir atau lebih. Terobosan baru-baru ini bahkan membawa kabar yang lebih baik bagi beberapa kanker yang umum dijumpai.

Kanker payudara: Pemeriksaan susunan genetik dapat membantu memperlihatkan jenis kanker payudara risiko rendah yang mungkin tidak membutuhkan kemoterapi.

Kanker dara: Penggunaan terapi selular untuk mengobati kanker darah seperti leukemia limfoblastik, limfoma dan myeloma tampak menjanjikan.

Kanker paru: Imunoterapi telah meningkatkan angka kelangsungan hidup selama lima tahun pada penderita kanker paru, dari lima persen menjadi 16 persen.

Apa yang dapat Anda lakukan

  • Hindari kegiatan dan gaya hidup yang dapat menyebabkan kanker, seperti merokok dan makan berlebihan.
  • Jagalah berat badan Anda agar tetap normal.
  • Tetaplah aktif.
  • Makan lebih banyak makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
  • Batasi konsumsi makanan yang padat energi, daging yang telah diolah, dan makanan yang diasinkan serta diawetkan.

Jimmy Yap



Tags: cara baru untuk mengobati kanker, imunoterapi, kanker darah, kanker metastatik, kanker wanita (kebidanan), kemoterapi, mutasi kanker, stres dan kanker, terapi yang ditargetkan / terapi target, terobosan terbaru dalam pengobatan kanker