Mengetahui dirinya mengidap kanker lambung stadium 4 memang membuatnya terpukul tetapi Mr. Wisnu bertekad untuk tidak tenggelam dalam penyesalan.

Awalnya ketika orang-orang mulai berkomentar bahwa dirinya mulai terlihat lebih kurus, Mr. Wisnu tidak terlalu memikirkannya. Pada saat itu di tahun 2010, teman-teman dan kerabatnya mengatakan bahwa pria berumur 53 tahun tersebut terlihat lebih kurus dan terlihat sakit.

Ketika akhirnya ia menimbang berat badannya sendiri, Mr Wisnu yang biasanya mempunyai berat badan dii angka 64kg, telah kehilangan berat badan sebanyak 2kg menjadi 62kg. Namun, 2kg ini dianggapnya tidak terlalu signifi kan.

Meski pun begitu, tidak beberapa lama, khawatir akan terjadi hal yang lebih serius, Mr. Wisnu yang berkerja sebagai konsultan perusahaan manajemen ini pun mulai memberanikan diri memeriksakan dirinya ke dokter di Jakarta, Indonesia, tempat ia tinggal. Setelah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh seperti pemeriksaan darah dan tes fisik, dokter menyatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Namun, Mr. Wisnu masih belum yakin, dan tetap pergi ke dokter untuk melakukan pengecekan menyeluruh.

Setelah beberapa kali pengecekan, dan atas desakan Mr. Wisnu, dokter akhirnya memutuskan untuk mengecek level antigen karsinoembrionik (CEA) yang merupakan tanda adanya tumor di jaringan darahnya.

Meski pun agak takut akan hasil dari tes ini, Mr. Wisnu mengatakan bahwa ia memilih untuk mengetahuinya. “Saya percaya hal ini lebih baik diketahui lebih cepat dari pada terlambat, karena siapa tahu hal ini belum terlalu terlambat.”

Pada saat itu, tingkat CEA Mr Wisnu adalah 145 ng/ml – angka ini jauh lebih tinggi dari tingkat CEA orang dewasa yang sehat yaitu 5 ng/ml atau lebih rendah.

“Pada saat itu, saya tahu bahwa saya mengidap kanker,” katanya jujur. Mr.Wisnu lalu menjalani serangkai pemeriksaan, termasuk endoskopi, USG dan CT scan, tetapi dokter tidak bisa mengkonfirmasi dimana kanker itu berada. Khawatir keterlambatan deteksi akan membuat keadaan bertambah buruk, ia terbang ke Parkway Cancer Centre (PCC) di Singapura pada Maret 2011. Disana, Mr. Wisnu menjalani pemeriksaan multifase yang menunjukkan peningkatan sel tumor (CEA). Ia lalu menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan yang dilakukanmenunjukkan hasil yang terburuk: Mr Wisnu mengidap stadium 4 kanker usus buntu, dan kanker ini telah menyebar ke peritoneumnya (lembaran tipis kontinu jaringan, atau membran yang melapisi rongga perut dan panggul).

Pada saat itu, meski pun sebelumnya ia bersikukuh untuk mengetahui apa yang terjadi, hasil pemeriksaan ini cukup membuat Mr Wisnu merasa terpukul. “Saya merasa semuanya berantakan dan saya merasa menerima vonis mati. Selama ini saya merasa sehat, tapi ternyata, saya mengidap penyakit yang saya pikir sangat mengerikan dan tidak dapat disembuhkan. “

Dia memutuskan, bagaimana pun, “untuk bangun dan menghadapi kenyataan”, dan mendengarkan dengan penuh perhatian rekomendasi dari dokter yang menangani kasusnya. Dokter-dokter ini adalah ahli onkologi medis PCC yaitu Dr Lim Hong Liang dan Dr Foo Kian Fong, serta Dr Tan Yu-Meng, seorang ahli bedah yang saat itu merupakan anggota di PanAsia Surgery Group.

Departemen tumor PCC menentukan bahwa tindakan terbaik yang bisa dilakukan adalah menempatkan Mr Wisnu pada program yang disebut prosedur Sugarbaker. Prosedur ini terdiri dari peritonektomi yaitu operasi yang sangat sulit untuk menghilangkan semua tumor dari lapisan peritnoeum, dan Kemoterapi Intraperitoneal Hipertermik (HIPEC), kemoterapi dengan sistem pemanas yang dilakukan langsung ke rongga perut setelah sel-sel kanker dihilangkan.

Setelah mendengar risiko dan manfaat dari prosedur Sugarbaker, Mr Wisnu langsung setuju. “Saya meminta dokter untuk melakukan yang diperlukan tanpa menunda lebih lanjut,” kenangnya. “Saya memiliki kemauan yang kuat untuk sembuh, dan saya merasa saran dokter adalah yang terbaik bagi saya. Saya percaya mereka karena mereka semua profesional dan spesialis yang memiliki banyak pengalaman. “

Ia juga mengatakan bahwa kemungkinan kegagalan operasi ini rendah, yang membantu meyakinkan dirinya tentang keputusannya. “Itu membuat saya lebih optimis,” katanya.

Mr Wisnu dan istrinya memutuskan untuk memberitahu anak-anak mereka tentang apa yang sedang terjadi. Seluruh keluarga diberitahu situasi terkini dari Mr. Wisnu, dan mereka juga memiliki kesempatan untuk mendengar penjelasan dokter. “Sejujurnya, saya merasa sangat sulit untuk mengatakan kepada anak-anak kami tentang penyakit saya,” katanya. “Tapi kami merasa kami seharusnya tidak menyembunyikan kebenaran dari mereka. Untungnya mereka memahami situasi saya, dan segala kemungkinan apa yang bisa terjadi di masa depan.”

Mr. Wisnu menambahkan bahwa keluarganya yang mendukung selama proses ini memberinya banyak kekuatan dan kenyamanan. “Mereka semua berdoa keras, dan kami terus meyakinkan anak-anak kami bahwa Tuhan tidak akan menguji manusia melampaui batas kemampuan manusia.”

Hasilnya, Mr Wisnu siap secara emosional dan mental ketika operasi dijadwalkan berlangsung pada Mei 2011. Pada malam sebelum operasi, dokter juga mengunjunginya untuk memberikan dorongan mental. “Saya percaya bahwa saya bisa sembuh,” katanya. “Saya tidur nyenyak pada malam itu, tanpa ada kekhawatiran, dan benar-benar lupa bahwa saya akan menjalani operasi pada esok harinya!”

Operasi yang berjalan selama 11 jam itu berlangsung dengan baik. “Dia menjalani operasi dengan baik dan pulih tanpa komplikasi, dan dibolehkan pulang pada 10 hari pasca operasi,” kenang Dr Tan, ahli bedah.

Dr Foo juga mengatakan, “Selain infeksi luka tidak ada kejadian penting yang terjadi.”

Mr Wisnu ingat bahwa bagian yang paling sulit adalah harus tinggal di unit perawatan intensif selama tujuh hari. “Saya dikelilingi oleh peralatan medis, dan saya merasa sendirian terutama pada malam hari.”

Setelah operasi, Mr Wisnu melanjutkan pengobatan dengan tiga hari kemoterapi intraperitoneal di unit perawatan intensif, dan perawatan dilanjutkan dengan rawat jalan kemoterapi oral. Ia menjalani ulangi prosedur dan penutupan stoma dilakukan delapan bulan kemudian. Pada bulan Februari 2012, ia sukses menjalani kemoterapi yang direncanakan. Kemoterapi ini terjadi hampir lima tahun dari operasi awal. Pemeriksaan terbaru dan tes darah menunjukkan bahwa aktifitas sel kanker telah menurun.

Sepanjang waktu ini, ia mencoba sebaik mungkin untuk menambah berat badan dengan memakan makanan “yang baik dan bergizi”, sehingga berat badannya terus meningkat.

Mr Wisnu sekarang telah kembali di Indonesia, dan terbang ke Singapura dua kali setahun untuk pemeriksaan medis, tes darah dan CT scan.

Ayah dua anak itu juga telah merubah gaya hidupnya, dalam hal pekerjaan dan pola makan. “Saya mencoba sebaik mungkin untuk menghindari stres atau tekanan, terutama dari pekerjaan,” katanya. “Saya juga mengurangi konsumsi makanan tinggi kolesterol, berolahraga secara teratur, dan menghadiri gereja dan banyak berdoa.”

Dia juga memiliki tips untuk dibagikan dengan orang lain yang menjalani pengalaman yang sama. “Jangan biarkan pikiran Anda terlalu fokus pada penyakit yang Anda derita, karena hal itu hanya akan menyebabkan stres berkepanjangan,” katanya, ia menjelaskan bahwa ia belajar bahwa stres bisa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kanker. “Cobalah untuk tetap berpikiran positif dengan mengingat bahwa Anda adalah orang yang sehat, dan ingatkan diri sendiri bahwa penyakit Anda seperti penyakit lainnya – yaitu bisa disembuhkan. Dan jangan lupa untuk berdoa. “

Oleh Kok Bee Eng  



Tags: