Pembunuh diam-diam

Kanker indung telur/ovarium merupakan salah satu dari 5 kanker yang paling banyak menyerang wanita di Singapura. Kanker ini dapat diobati bila ditemukan secara dini. Sayangnya, belum ada uji skrining yang diakui secara luas untuk penyakit ini, dan tanda-tanda serta gejala-gejalanya dapat sulit dikenali.

Kanker ovarium merupakan kanker ginekologis nomor dua yang paling umum terjadi pada wanita di Singapura dan sedang mengalami peningkatan.

Sebagian besar kanker ovarium adalah “epitel” – yaitu berasal dari permukaan (epitelium) indung telur. Kanker ovarium juga dapat berasal dari sel-sel telur (tumor sel benih) atau sel-sel pendukung (tali seks/stroma).

Kanker ovarium juga merupakan salah satu dari lima teratas penyebab kematian akibat kanker di Singapura. Bila ditemukan pada stadium dini, kanker ini dapat diobati dan disembuhkan.

Sayangnya, banyak kasus kanker ovarium ditemukan pada stadium lanjut, di saat pilihan pengobatan lebih terbatas. Secara umum, kemungkinan untuk sembuh ketika kanker ditemukan dan diobati pada Stadium 1 atau 2 adalah sekitar 80 persen.

Bila kanker ditemukan pada Stadium 3 atau 4, angka kelangsungan hidup selama lima tahun adalah 50 persen.

5 fakta mengenai kanker indung telur (kanker ovarium)

Fakta 1: Membunuh secara diam-diam

Tanda-tanda dan gejala-gejala kanker ovarium pada stadium dini dapat sulit dideteksi. Seringkali mereka sangat ringan atau samar hingga diabaikan, keliru dengan menstruasi yang tidak biasa atau menopause, atau disalahpahami sebagai gangguan pencernaan, masalah lambung yang umum, atau masalah lain pada sistem pencernaan. Akibatnya, kanker ini seringkali baru terdiagnosis ketika sudah berada pada stadium lanjut.

Perhatikanlah gejala-gejala berikut ini. Meskipun gejala-gejala tersebut dapat pula disebabkan oleh kondisi yang lain, beri tahu dokter Anda bila Anda sering mengalami satu atau lebih gejala ini dan tidak membaik dalam waktu satu bulan:

  • Bengkak dan rasa tidak nyaman pada perut
  • Kembung yang terus-menerus
  • Gangguan pencernaan, gas atau mual yang terus-menerus
  • Perubahan dalam buang air besar, seperti misalnya sembelit
  • Hilangnya nafsu makan
  • Turunnya berat badan
  • Nyeri punggung

Fakta 2: Untuk saat ini belum ada uji skriningnya

Meskipun terdapat beberapa metode uji dan diagnostik untuk menentukan apakah terdapat kanker ovarium, saat ini belum ada uji skrining untuk kanker tersebut. Dokter harus melakukan uji diagnostik untuk mengkonfirmasi apakah pasien menderita kanker ovarium.

Salah satu uji diagnostik tersebut melibatkan pengukuran suatu penanda dalam darah yang disebut CA-125, yang cenderung meningkat ketika terdapat kanker epitel ovarium. Namun, uji ini tidak selalu akurat maupun memadai untuk diagnosis, karena beberapa kondisi non-kanker juga dapat menyebabkan meningkatnya penanda ini.

Uji lainnya adalah pemindaian ultrasonografi pada indung telur dan rahim, yang tidak melibatkan radiasi. Bila pemindaian menunjukkan adanya massa atau kista kompleks dalam indung telur sementara pemeriksaan darah menunjukkan adanya peningkatan pada penanda CA-125, maka ini mengindikasikan bahwa mungkin terdapa kanker ovarium.

Dokter juga dapat melakukan pemindaian CT atau MRI pada perut dan panggul, atau bahkan rontgen dada.

Seringkali perlu dilakukan operasi atau biopsi untuk menentukan secara akurat apakah sel-sel yang terkena bersifat kanker dan apakah mereka berasal dari indung telur.

Fakta 3: Pap smear tidak dapat mendeteksi kanker ovarium

Pap smears direkomendasikan bagi para wanita karena dapat digunakan untuk skrining kanker serviks dan untuk memeriksa apakah ada kondisi pra-kanker dan perubahan yang abnormal pada sel-sel serviks. Serviks terletak di bagian bawah dari rahim.

Namun, kanker ovarium berawal dalam satu atau dua indung telur, dan tidak dapat dideteksi melalui Pap smears teratur. Banyak wanita yang berpikir bahwa melakukan Pap smears secara teratur dapat membantu melakukan skrining terhadap kanker ovarium, tetapi sebenarnya tidak begitu.

Pap smears terkadang dapat mendeteksi kanker endometrium. Bila terlihat adanya adenokarsinoma yang abnormal pada Pap smear, maka hal itu bisa jadi menunjukkan adanya kanker ovarium, walaupun ini sangat jarang terjadi.

Fakta 4: Semua wanita berisiko

Sementara beberapa wanita mungkin memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker ovarium akibat faktor genetik atau lainnya, sesungguhnya semua wanita menghadapi risiko untuk terkena kanker ini.

Faktor-faktor risikonya meliputi:

  • Kehamilan yang terlambat
  • Menstruasi dini
  • Menopause yang terlambat
  • Tidak pernah melahirkan anak
  • Memiliki riwayat kanker payudara
  • Kecenderungan genetik
  • Endometriosis (tampilnya jaringan endometrium di luar rahim)

Penelitian menunjukkan bahwa wanita yang saudara perempuan atau ibunya pernah terkena kanker ovarium, payudara atau usus besar memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk terkena penyakit ini. Risiko seorang wanita yang ibunya pernah terkena kanker ovarium dapat meningkat hingga tiga atau empat kali atau lebih. Bila terdapat riwayat yang kuat akan kanker payudara dan ovarium di dalam keluarga – artinya banyak anggota keluarga yang pernah terkena salah satu dari kedua jenis kanker ini – maka risiko untuk terkena kanker ovarium dapat meningkat hingga 10 kali.

Bila seorang wanita tidak memiliki riwayat keluarga, ia dapat mengurangi risiko terkena kanker ovarium dengan makan secara sehat dan menjadi berat badan yang normal. Namun, bila terdapat risiko keluarga yang tinggi, maka ia dapat mempertimbangkan untuk menjalani ooforektomi, yaitu suatu procedur bedah untuk membuang salah satu atau kedua indung telurnya.

Fakta 5: Risiko meningkat seiring dengan bertambahnya usia

Risiko untuk terkena kanker ovarium cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya usia, karena kanker ini seringkali timbul setelah menopause. Kebanyakan kasus ditemukan pada wanita yang berusia di antara 40 dan 50 tahun. Sangat jarang ditemukan pada wanita lebih muda yang berusia di bawah 40 tahun.

Kok Bee Eng



Tags: diagnosis kanker, fakta mengenai kanker, kanker sel kuman, kanker wanita (kebidanan), pap smear, riwayat kanker, ultrasonografi (USG) kanker